Kesempatan
Tahukah orang-orang bahwa menjadi pengangguran tidaklah mudah. Saat kau bangun dan tidak tahu harus melakukan apa?
Oleh: Jelsyah D
Alumni Fakultas Bahasa dan Sastra UNM
Seorang yang saya kenal mungkin bisa jadi professor atau astronot, jika setelah lulus dari sekolah dasar dulu, dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sayangnya, di kampungnya tidak ada sekolah menengah, apalagi sampai pada tingkat perkuliahan. Hal ini pada masa lalu dan bahkan jika pada saat ini dia masih menginginkan untuk berkembang, tidak ada jalan lagi baginya yang usianya sudah melewati angka lima puluh.
Meski kalimat selalu ada jalan bagi yang ingin sukses, hanya saja tanpa adanya kesempatan yang tersedia, terlalu sulit bagi seseorang yang telah dewasa sepertinya untuk mewujudkan isi kepalanya. Jika saja, ada yang mendengar salah satu ide yang dituangkannya, mereka akan berkata, “seseorang sudah telah lebih dulu mewujudkannya, sayang sekali.”
Sama halnya yang pernah terjadi saat di masa sekolah menengah atas. Saat ini mungkin saya akan menjadi penyanyi atau seorang pemusik jika saya mengikuti banyak eskul seni. Tapi saya bahkan tidak ada niat untuk mendaftarkan diri pada club di sekolah dulu. Padahal saya berpikir menjadi seorang vokalis band sekolah adalah aktivitas yang keren. Saya merasa, jika seandainya dulu ada guru atau pembina yang bertanya apa yang ingin saya lakukan saat itu, tentu saya akan menjawab, “saya ingin tampil di panggung.”
Lalu pada mahasiswa, berapa besar keinginan mereka untuk menjadikan apa yang mereka dapat dari bangku kuliah sebagai pekerjaan dapatkan. Juga tak sedikit dari mereka yang merasa apa yang mereka lakukan saat ini, bukanlah sesuatu yang ingin mereka lakukan. Mereka akan berpikir tidak ada salahnya untuk berhenti beberapa saat.
Hingga pada akhirnya, mereka benar-benar berhenti, dan mereka dikenal sebagai pengangguran. Padahal saat mereka menemui kebingungan dan ada seorang yang berbicara atau setidaknya bertanya ada apa, mereka mungkin akan menemukan sesuatu yang ingin mereka lakukan.
Ada kesamaan dari ketiga kejadian ini.
Pada kisah orang yang pertama tidak meratanya pendidikan, meski di kota lain seorang yang lebih tua darinya bahkan bisa menyelesaikan sekolahnya di tingkat tinggi dan akhirnya menjadi guru. Bagi saya, yang tidak memiliki cita-cita sebagai seorang penyanyi mungkin tak mempermasalahkan kejadian saat itu. Tapi saya ingin mencoba meski tidak akan bisa pada saat itu.
Pada para mahasiswa yang sekarang menjadi pengangguran pun mengalami hal yang sama yaitu tidak adanya seorang yang bertanya tentang apa yang sedang mereka hadapi. Kenyatananya tak banyak orang yang akan menaruh perhatian lebih pada seorang individu. Termasuk dari pemerintah atau pun pengajar. Bahkan dari orangtua yang mungkin telah lepas tanggung jawab setelah mengirim anak-anak mereka dan mempercayakan sepenuhnya pada tenaga pengajar.
Itu berarti individu harus mampu berjuang untuk dirinya sendiri. Seperti menentukan akan jadi apa mereka di masa depan. Terlebih bergantung pada orang lain, pastinya akan membuat orang-orang menganggap kita sebagai individu yang tidak mandiri. Padahal ada sebuah pertolongan yang dibutuhkan, meski tidak bisa diungkapkan. Pertolongan ini adalah sejenis kesempatan yang disediakan untuk seorang bisa mendapat pilihan. Karena pilihan setidaknya bisa menentukan untuk sebuah masa depan yang cerah.
Pertolongan yang paling besar dari lingkungan adalah berbicara dengan orang-orang yang bisa memberi kesempatan. Seperti bagi orang dewasa yang telah lama berada di dunia perdagangan, ingin mencoba mendapat pendidikan yang sama dengan yang didapatkan anak-anaknya. Bisa saya merasa dari orang-orang sepertinya akan ada banyak ide yang mengagumkan dari mereka. Bahkan saat saya mendengar tentang orang ini yang mencoba memikirkan sebuah penelitian atau rancangan bagaimana membantu jika terjadi kecelakan pesawat.
Dia mengatakan, “seharusnya kita bisa membuat sebuah alat sejenis terjung payung dan saat terjadi kesalahan, payung besar ini akan terbuka, dan setidaknya akan mengurangi akibat dari kecelakaan tersebut.” Saya hanya bisa menjawab bahwa seseorang telah lebih dulu merencanakannya dan juga pada beberapa ide yang muncul berkali-kali.
Seandainya ada kesempatan yang terbuka untuknya, seperti sebuah tempat untuk menyalurkan ide, bukankah mereka bisa menjadi bantuan untuk negara atau setidaknya pada lingkungan tempat tinggal mereka. Kemudian, jika mengingat masa sekolah, saya merasa ada banyak hal yang ingin saya lakukan, meski semuanya terbatas pada kemampuan untuk mengambil kesempatan.
Ada perkara dimana kau tidak bisa melakukan hal yang tidak ada sangkut pautnya pada masa yang akan datang. Meski saya setuju bahwa fokus pada hal yang disukai bisa sangat membantu. Tapi tanpa mencoba dan memilih, kau tidak akan tahu tentang apa hal saat ini benar-benar sesuatu yang ingin kita lakukan, dan malah ada penyesalan di akhir.
Lalu pada penganguran yang dianggap sebagai beban. Tahukah orang-orang bahwa menjadi pengangguran tidaklah mudah. Saat kau bangun dan tidak tahu harus melakukan apa? Atau saat orang-orang di sekitarmu hanya mencoba memberi penilaian, tanpa bertanya tentang apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jelsyah-d.jpg)