Tribun Wajo
5 Peristiwa Viral di Kabupaten Wajo Sepanjang 2019, Ada Batal Nikah Gara-gara Hari Baik
Sejumlah peristiwa viral, heboh dan menyita perhatian sempat terjadi di Kabupaten Wajo sepanjang 2019.
Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-WAJO.COM, SENGKANG - Sejumlah peristiwa viral, heboh dan menyita perhatian sempat terjadi di Kabupaten Wajo sepanjang 2019.
Barangkali, sebagian masih tertinggal diingatan dan terus dibahas. Sebagian pula sudah dilupakan lantaran berita viral lainnya.
Ada yang batal menikah lantaran pihak keluarga berbeda pandangan soal hari baik.
Ada pula seekor anak babi hutan yang dipolisikan, dan pembunuhan preman kampung yang menyita banyak perhatian.
Namun, Tribun Timur merangkum lima peristiwa viral dan sempat menghebohkan masyarakat di Kabupaten Wajo.
1. Sudah panaik Rp 31 Juta, sepasang kekasih batal nikah gara-gara penentuan hari baik
Kejadiannyanya awal Februari 2019. Antara Baso Supriadi, pemuda asal Sajoanging dan Sitti Hajar, pemudi asal Pammana.
Bahkan, orang tua kedua pasangan tersebut saling lapor ke polisi lantaran merasa tertipu.
"Pokok permasalahan adalah masalah penentuan hari. Pihak pelapor maunya akad nikahnya hari Senin, sementara pihak terlapor maunya hari hari Rabu," kata Kapolsek Pammana, AKP Sayek Gurais, waktu itu.
Pihak keluarga Muhammad Nasir, ayah Baso Supriadi merasa sangat dirugikan lantaran uang panaik sebesar Rp 31.000.000,-, beras, gula dan terigu masing-masing satu sak serta emas seberat satu gram telah diserahkan sebelum pernikahan, tapi tak dikembalikan.
2. Isu babi ngepet di Kabupaten Wajo
Akhir Februari 2019 lalu, warga Kecamatan Tanasitolo dibuat paranoid dengan desas-desus babi ngepet.
Sejumlah warga di Desa Assorajang, Kecamatan Tanasitolo mendaku kehilangan sejumlah uang. Bahkan, salah seorang warga, Usman Nandong pernah mendengar suara khas babi di kolong rumahnya.
"Kudengar itu di bawah rumah. Kalau dilihat, orang di sini sering mi nalihat. Itu waktu malam Rabu, pas didengar bunyi, langsung kucek tempat uangku, kuhitung, hilangmi 500 ribu (rupiah)," katanya, waktu itu.
Babi ngepet tersebut digambarkan memiliki tubuh besar layaknya babi dan berwarna hitam. Masyarakat Desa Assorajang pun sempat mengejarnya. Namun, nihil.
Puncaknya, awal Maret 2019. Ketika warga Kelurahan Watallipue, Kecamatan Tempe menghakimi anak babi hutan sebagai babi ngepet yang berkeliaran di pemukiman warga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/seekor-anak-babi-hutan-diduga-babi-ngepet-dipolisikan.jpg)