OVO
Kabar Buruk dari OVO, Bos Lippo Group Mochtar Riady Tak Sanggup Terus 'Bakar' Uang hingga Jual Saham
Lippo Group sebagai pemegang penuh saham perusahaan fintech e-money ini dikabarkan terpaksa menjual lebih dari 70% aset mereka dari OVO.
Ditambahkan Adrian, sebagai bagian dari pemilik OVO, Lippo senantiasa membuka peluang bagi mitra untuk mendukung OVO agar dapat tumbuh dan berkembang.
Lippo Group menyatakan, para mitra baru bisa membuat OVO terus dapat meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.
Adrian memastikan, bersama para pemegang saham lain, Lippo tetap merupakan bagian dari OVO dan selalu mendukung kemajuan OVO.
Ia yakin, OVO akan dapat menjadi kebanggaan nasional dan memastikan bahwa Lippo terus mendukung upaya pemerintah, BI dan OJK untuk meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air.
Adrian menegaskan, sebagai pendiri OVO, Lippo Group masih aktif mendukung dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut.
"Kami adalah pendiri dan tetap menjadi pemegang saham dari OVO, dan bangga untuk dapat terus menjadi bagian dari sebuah usaha yang telah menjadi aspek penting dari keseharian masyarakat Indonesia," tegasnya.
OVO Jadi Unicorn
Beberapa waktu lalu, Menkominfo Rudiantara, pada ajang Siberkreasi 2019 yang digelar pekan lalu, menyebut bahwa OVO sudah menjadi Unicorn asal Indonesia yang baru setelah empat perusahaan yang tadi disebutkan.
“Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya (sudah jadi unicorn). Makanya saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” ujar Rudiantara seperti diwartakan sebelumnya.
OVO, penyedia layanan pembayaran elektronik besutan Grup Lippo, ditaksir memiliki valuasi sebesar 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 41 triliun oleh firma analis perusahaan CB Insight.
Angka tersebut, menurut CB Insight, sudah dicapai sejak 14 Maret 2018.
OVO sendiri merupakan layanan dompet digital yang menawarkan kemudahan bertransaksi di sejumlah mitranya.
Platform ini juga bisa digunakan untuk pembayaran aplikasi Grab.
(*)
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur: