Citizen Analisis

Citizen Analisis: Andi Iwan Aras Magnet Politik Baru Sulsel

selain dua kekuatan politik tersebut (Golkar dan Nasdem), maka Gerindra jadi penentu pada sejumlah Pilkada di Sulsel 2020,

Citizen Analisis: Andi Iwan Aras Magnet Politik Baru Sulsel
facebook.com
Rusman Madjulekka

Oleh Rusman Madjulekka
Penulis Buku

TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR - Tampilnya Andi Iwan Aras (AIA) menakhodai Partai Gerindra Sulawesi Selatan (Sulsel) menggantikan Andi Muhammad Idris Manggabarani (IMB) pasca Pileg 2019, makin ramai dibicarakan. Termasuk kemungkinan lahirnya “kekuatan baru” politik baru di daerah ini menyusul capaian tiga besar parpol tersebut.

Apalagi dengan didapuknya AIA menjadi Ketua DPD Provinsi menjadi “amunisi’ tambahan. Sebab ia tidak datang kosong,tapi sudah kantongi “modal sosial” signifikan dalam dua Pemilu terakhir. Dengan begitu, otomatis pamor Gerindra pun ikut terdongkrak.

Sebelumnya mengutip hasil riset dan kajian dari Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC), tentang pertanyaan siapakah partai politik (parpol) dan sosok yang berpengaruh menentukan arah politik pilkada kabupaten/kota di Sulsel? NasDem,Golkar. Dan tambah satu lagi, Gerindra dengan sosok energik Andi Iwan Aras.

Lalu, bagaimana pengaruh atau kekuatan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah? Berdasarkan kajian IDEC, tampaknya figur NA belum “direkeng” alias diperhitungkan. Alasannya, dapat dilihat dari peran politik NA yang hampir tidak signifikan dalam kontestasi Pemilu 2019. Kekuatan politik partai pengusung NA juga tidak bisa berbicara banyak pada pemilu.

Kalkulasi politiknya, karena berdasarkan hasil Pileg 2019 lalu, selain dua kekuatan politik tersebut (Golkar dan Nasdem), maka Gerindra jadi penentu pada sejumlah Pilkada Sulsel 2020, karena partai ini memiliki potensi perolehan kursi di DPRD kabupaten/kota yang cukup signifikan sebagai syarat pengusungan calon.
*
Sebenarnya, keberadaan AIA dalam pentas politik Sulawesi Selatan bukan orang baru. Jejak politiknya diawali pada hajatan demokrasi Pemilu 2014.

Pada saat itu, politisi partai Gerindra ini tampil tanpa embel-embel trah atau berlindung di balik nama besar dinasti politik daerah ini.

Andi Iwan, begitu ia akrab disapa, adalah caleg debutan. Bahkan jauh sebelum Pileg tersebut digelar, namanya tidak pernah masuk dalam hitungan dan pantauan radar para caleg berpeluang lolos ke Senayan yang dirilis oleh beberapa lembaga survei.

Bahkan di dapil Sulsel 2, AIA pun boleh dibilang kalah populer dari caleg atau politisi lain di internal Partai Gerindra, seperti Andi Rudiyanto Asapa (mantan Bupati Sinjai), Yasir Mahmud (pengusaha yang sewa jasa konsultan politik) dan Kamrussamad (disebut orang dekat Prabowo Subianto).

Belum lagi hegemoni politisi senior seperti Andi Rio Padjalagi dan Syamsul Bahri dari Partai Golkar, Mayjen (purn) Syamsul Mappareppa (mantan Pangdam Brawijaya/orang dekat SBY), Gaffar Patappe (mantan Bupati Pangkep) dan Jafar Hafsah dari Partai Demokrat, Malkan Amin dan Akbar Faizal di Partai NasDem, Andi Muhammad Ghalib (mantan Jaksa Agung RI) di PPP dan banyak nama besar lainnya.

Halaman
12
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved