Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

TRIBUN WIKI

Atraksi Ma’raga

Atraksi permainan tradisional Maraga atau biasa dikenal A’raga merupakan pertunjukan permainan bola raga yang dipindahkan dari kaki ke kaki

Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Anita Kusuma Wardana
Youtube Tribun Timur
Atraksi Ma’raga 

Salah seorang yang ditunjuk sebagai pemimpin permainan, biasanya yang tertua atau termahir memegang raga dan melambungkan ke atas sebagai tanda dimulainya permainan.

Pemain yang dituju raga kemudian mulai memainkannya, lalu mengoper raga ke pemain lain, demikian seterusnya secara bergiliran.

Seorang pemain tidak boleh memonopoli permainan atau menyerobot raga dari pemain lain.

Masing-masing harus memiliki kesempatan dalam menunjukkan keterampilannya beratraksi dengan raga.

Saling mengoper raga dari kaki ke kaki, atau kaki ke anggota badan lain dilakukan sambil melakukan gerakan-gerakan seperti tarian atau sambil membentuk formasi tertentu.

Cara sepak atau dalam Bugis – Makassar disebut sempak dilakukan dalam beberapa cara menurut kekuatan lambungannya.

Pertama Sempak Sarring, artinya sepakan keras atau disebut anrong sempak yang artinya induk sepakan, yaitu dengan menggunakan telapak kaki dengan lambungan raga sekurang-kurangnya setinggi tiga meter dari permukaan tanah.

Kedua Sempak Biasa, artinya sepakan biasa yaitu sepakan yang tinginya sedikit melampaui kepala pemain.

Jenis sepa ini tidak ktermasuk penilaian dalam perlombaan karena dapat dilakukan oleh pemain-pemain pada umumnya.

Ketiga Sepak Caddi, artinya sepakan kecil yaitu tingginya tidak melebihi pusar pemain, disini termasuk juga di dalamnya belo atau variasi.

Belo adalah segala gerakan-gerakan yang indah dalam memainkan raga dengan tidak hanya menggunakan kaki tetapi juga tangan, siku, bahu, dada, perut paha dan lain-lain anggota badan kecuali kepala.

Permainan Ma’raga atau A’raga masih bertahan dan dimainkan oleh masyarakat sampai sekarang.

Namun nampaknya permainan ini lebih banyak ditemukan di sanggar-sanggar dan mulai jarang ditemukan di masyarakat sebagai accule-cule atau permainan.

Perkembangannya lebih bersifat komoditas hiburan atau pariwisata sehingga semangat accule-cule yang ada di dalamnya mulai berkurang.

Salah satu cara agar permainan ini dapat bertahan dengan semangat accule-cule yang ada di dalamnya, yaitu dengan terus menerus memperkenalkan kembali kepada masyarakat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved