TRIBUNWIKI: Istilah Viral, Apa Itu Buzzer?
Dilansir dari Kompas.com, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta kepada buzzer yang selama ini mendukung Jokowi untuk tidak menyuarakan hal yang de
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Syamsul Bahri
Jadi, menurut Enda banyak informasi yang sering kali membuat kita hidup dalam ketidakpastian.
"Bila akan terus begini, kita akan terjebak dalam popularism artinya seolah-olah yang paling populer itu yang benar, padahal kebenaran itu bukan masalah populer atau tidak," tutup dia.
Mencari influencer dan buzzer
Di era kampanye digital, jasa influencer dan buzzer dijalankan secara profesional.
Awkarin misalnya, punya A Team yang mengurus kerja sama dan bisnisnya.
Begitu pula Atta Halilintar dengan AHHA Management-nya.
Para influencer ini biasanya ada di database agensi komunikasi atau periklanan.
Tinggal dipilih dan dikontak mana yang sesuai untuk kampanye brand klien mereka.
Sama seperti influencer, buzzer yang biasanya tak membuka identitas mereka, juga bisa dikontak untuk mempromosikan produk atau opini tertentu.
Bahkan, ada platform seperti sociabuzz.com dan buzzohero.com yang bisa menghubungkan brand langsung dengan para buzzer atau influencer.
Di sana, tersedia rate card atau tarif jasa mereka serta statistik akun sosial media mereka.
Mulai dari jumlah follower hingga engagement rate.
Di luar jalur-jalur terbuka ini, kampanye juga bisa dijalankan dengan memanfaatkan pasar gelap media sosial.
Jasa jual beli follower misalnya, menawarkan harga mulai dari Rp. 20.000 untuk 100 follower yang diklaim aktif.
Untuk akun pasif, harganya bisa lebih murah lagi. Banyak toko online berskala kecil memakai jasa ini untuk membuat bisnis mereka terlihat kredibel dengan banyak follower. (*)
Sumber berita: https://www.kompas.com/tren/
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sosial-buzzer.jpg)