Kisah Pilu Keluarga Perantau Asal Pangkep Selamat dari Kerusuhan Wamena
Mereka tinggal di Jl Kinbim, Kelurahan Sinagma, Kecamatan Wamena Kota, Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua.
Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNPANGKEP.COM, PANGKAJENE - Satu keluarga perantau asal Pangkep, kini sudah berada di kampung halamannya.
Mereka korban selamat dari kerusuhan di Wamena Papua.
Di Wamena, mereka tinggal di Jl Kinbim, Kelurahan Sinagma, Kecamatan Wamena Kota, Kabupaten Jaya Wijaya, Provinsi Papua.
Baca: FTI UMI-GoJek Luncurkan Program Instant Booking, Pertama di Luar Pulau Jawa
Mereka yang selamat yakni, H Tamengki (72), H Hanaping (47), Hj Hajire (60), Hj Mardiana (43) dan Afkar (7).
Satu keluarga tersebut, sejak 2008 sudah merantau ke Papua dan berjualan barang kelontongan.
Kondisinya saat ini, satu orang sedang dalam perawatan karena luka-luka yakni H Tamengki dan empat orang lainnya sehat.
Meski masih meninggalkan trauma mendalam satu keluarga ini tetap tegar dan berusaha menyelamatkan diri ditengah kerusuhan di Wamena Papua.
Baca: Keluarga Tewas Dibakar, Korban Rusuh Wamena Asal Enrekang Harap Presiden RI Tegas
H Hanaping menceritakan, kerusuhan itu membuat mertuanya H Tamengki (72) trauma.
Kepada Tribun Timur, H Hanaping menceritakan bagaimana mertuanya berada ditengah kerumunan massa.
Kejadian itu terjadi, Senin (23/9/2019) sekitar pukul 08.30 Wita saat mertuanya pergi berbelanja kebutuhan kiosnya di Wamena Kota yang akan dijualnya di Pasar Sinagma.
H Tamengki mengendarai motornya dan berbelanja kebutuhan kios di kota Wamena.
Baca: Awkarin Akhirnya Buka Suara & Ngomong Keras Gini Setelah Dituduh Jadi Istri Muda Sandiaga Uno
Ditengah perjalanan, saat dirinya sudah pulang, dia melihat kerumunan orang saling melempar.
Pada saat itu, H Tamengki kemudian memutar balik arah mencari jalan lain yang tidak ada pergerakan massa.
Dia terjatuh dari motor dan massa sudah di depan mata memegang badannya, hingga melempari H Tamengki dengan batu.
"Saya dilempari batu, diinjak-injak dan motor dirampas. Saat itu saya tidak tahu lagi dan sayup-sayup terdengar kalau massa itu akan membunuh saya," ujar H Tamengki.
Baca: Kapolda Sulsel Sebut Tim Cyber Lacak Penyebar Hoax Konflik Wamena
Diapun pasrah, dia pingsan dan tidak sadarkan diri hingga petugas kepolisian membawanya ke rumah sakit di Wamena untuk diperiksa.
Menantunya, H Hanaping saat tahu mertuanya belum pulang juga dan baru tahu kalau ada kerusuhan dari tetangga di lokasi tersebut, langsung mencari mertuanya.
"Saya cari cepat mertuaku dengan naik motor. Waktu kejadiannya mulai sekitar pukul 08.30 Wita dan baru saya dapat mertuaku sekitar pukul 15.35 Wita sehabis Ashar," ungkapnya.
Saat itu, pikirannya hanya tertuju kepada H Tamengki. Setiap ruang rawat inap dia buka satu persatu. Hal ini untuk memastikan mertuanya masih hidup atau sudah meninggal.
Kondisi di UGD penuh dengan korban kerusuhan Wamena. Ada yang luka lebam, biji matanya sudah mau keluar, luka-luka disekujur tubuhnya dan mereka bergeletakan di lantai dan ruang perawatan.
"Saat saya buka salah satu ruang rawat inap, saya melihat mertua saya duduk dengan muka lebam dan hidung yang sedikit bengkok. Saya langsung memeluknya erat dan mengucap syukur," katanya terisak.
Baca: Diduga Rusak Mobil Polisi, Oknum Mahasiswa UNM Diamankan
Mertuanya, H Tamengki lalu terisak dan berbisik kalau massa tersebut ingin membunuhnya tetapi atas pertolongan Allah dia selamat.
"Sedikitma mati nak, mauka memang nahabisi itu terdengar sayup-sayup terujar dari mulut mereka," kata H Hanaping dengan dialek Bugis menirukan apa yang dikatakan mertuanya, H Tamengki.
Usai menjemput mertuanya, kemudian H Hanaping membawa mertuanya ke markas Kodim Jaya Wijaya. Disanalah mereka mengungsi selama semalam.
Keesokan harinya, Selasa (24/9/2019) mereka kemudian bergerak lagi ke arah Polres Jaya Wijaya untuk meminta pertolongan dan mencari informasi pemulangan ke Makassar.
Baca: Siapkan Pinjaman Usaha, Fintek Amartha Sasar Emak-emak di Sulsel
H Hanaping mencari informasi penerbangan Hercules dan bermaksud akan mendaftar pulang ke Makassar.
"Pukul 6 pagi saya bersama keluarga tinggalkan Kodim kemudian bergerak mencari pertolongan. Saat itu hujan turun dengan deras sehingga keluarga berteduh di musala dan makan ala kadarnya," ujarnya.
Selama 12 jam di bandara, tidak ada tanda-tanda pertolongan. Mereka bertahan dari haus dan lapar.
"Baru sehabis Magrib itu pesawat Hercules bisa ditumpangi, karena kan begitu padatnya pengungsi. Alhamdulillah kami sekeluarga diutamakan karena mertua luka berat dan butuh pertolongan," ungkapnya.
Baca: Bukan Hanya Masalah Pendidikan, Bupati Luwu juga Gandeng Unhas Atasi Banjir
Akhirnya, setelah mendapat persetujuan mereka diterbangkan dengan pesawat Hercules ke Sentani.
Rabu (25/9/2019) mereka sekeluarga menginap di rumah keluarga selama semalam sambil memperbaiki kondisi fisik.
Keesokan harinya, Kamis (26/9/2019) pagi sekeluarga itupun naik pesawat terbang tujuan Makassar.
"Jadi alhamdulillah kami selamat, pakai pesawat terbang menuju Makassar dan Kamis siang sekeluarga sudah berada di Makassar hingga menuju Pangkep dengan selamat," jelasnya, Selasa (1/10/2019).
H Hanaping, nampak trauma juga saat ditemui, bulir air matanya hampir jatuh saat mengingat semua kejadian itu.
Saat ini, mereka sementara dalam proses penyembuhan fisik dan trauma.
Kisah Pilu Perantau Asal Takalar di Wamena Dikejar Massa Hingga Putranya Nyaris Terkena Panah
TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Syaiful Arifin (25) dan putranya, Khairil (18 bulan) masih bisa selamat dari amukan warga Wamena.
Keduanya kini telah berada ke kampung halamannya, di Desa Bontolanra Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar, sejak Kamis (26/9/2019) lalu.
Warga Dusun Bonto Ramba Mandai Butuh Air Bersih: Kades Jangan Diam!
Fraksi Hanura Minta Eksekutif Lutim Prioritaskan Bantuan Mesin Katinting dan Rumput Laut ke Nelayan
Tim PKK Marioriawa Ikut Bantu TNI Suksekskan TMMD di Soppeng
14 Rekannya Dilantik, Ruben Sahabat Ayu Ting Ting Nolak Jadi Anggota DPR & Pengen Jadi Menteri Ini
Sulawesi Selatan Alami Deflasi di September 2019, Ini Penyebabnya
Syaiful Arifin dan putranya berhasil selamat dari amukan massa di Wamena Papua, Senin (23/9/2019).
Khairil bahkan nyaris terkena anak panah ketika digendong ayahnya berlari. Untungnya anak panah itu meleset.
" Saya lari dari kejaran massa. Anak kecil saya hampir dikenah panah," kenang Syaiful kepada Tribun Timur, Selasa (1/10/2019).
Syaiful bercerita, kerusuhan besar-besaran terjadi di Wamena Papua ketika itu. Mereka berlari meninggalkan kontrakan tempat tinggal.
Sementara istri Syaiful bersembunyi di kadang babi. Dia tinggal sang suami yang menyelamatkan diri.
Ketika itu, permukiman warga pendatang dibakar massa. Mobil ataupun motor tak luput dari aksi vandalisme.
Syaiful terus berlari menggendong putranya sejauh empat kilometer. Mereka melintasi hutan.
Syaiful lalu memutuskan bersembunyi ketika mendapati rumah penduduk lokal yang kosong.
" Saya sembunyi di rumah kelompok massa. Saya baru keluar ketika ada mobil polisi," bebernya.
Empat jam bersembunyi, Syaiful akhirnya keluar ketika melihat ada mobil patroli polisi yang melintas. Ia pun ikut ke kantor polisi.
Ketika suasana mulai kondusif, ia pun keluar mencari istrinya. Ia kembali ke rumahnya.
Nahas, sang istri yang ditinggal di kandang Babi ditemukan di got. Keadaannya sudah tak bernyawa.
"Pas saya kembali, istri sudah jadi mayat. Saya temukan di got," bebernya.
Syaiful yang mengadu nasib bersama istrinya bernasib malang. Jerih parah usahanya selama lima tahun habis.
Tak ada harta benda yang dibawa pulang kecuali pakaian yang melekat di badan.
Laporan Wartawan Tribun Timur @bungari95
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
Warga Dusun Bonto Ramba Mandai Butuh Air Bersih: Kades Jangan Diam!
Fraksi Hanura Minta Eksekutif Lutim Prioritaskan Bantuan Mesin Katinting dan Rumput Laut ke Nelayan
Tim PKK Marioriawa Ikut Bantu TNI Suksekskan TMMD di Soppeng
14 Rekannya Dilantik, Ruben Sahabat Ayu Ting Ting Nolak Jadi Anggota DPR & Pengen Jadi Menteri Ini
Sulawesi Selatan Alami Deflasi di September 2019, Ini Penyebabnya
Merantau di Wamena, Syaiful Selamat dari Amukan Massa Setelah Berlari 4 Km
TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA -Peristiwa mencekam Wamena masih terus membekas dalam ingatan Syaiful Arifin (25), warga Kabupaten Takalar.
Syaiful kini mesti merawat dan membesarkan sendiri buah hati, Khairil (18 bulan). Sang istri, Risdayanti telah berpulang ke Rahmatullah.
Mereka telah kembali ke Kabupaten Takalar sejak Kamis (26/9/2019) pekan lalu.
Jordi Adik Ruben Onsu Kaget Melotot Dengar Harga Jus Jeruk di Korea, Betrand Peto yang Traktir
Beri Layanan Terbaik, Bengkel AHASS Kembali Raih SQ Award
Bekali Panitia Pilkades Serentak, DPMDPPA Sidrap Gelar Bimtek, Ini Daftar Desanya
Ia pulang bersama jenazah istrinya untuk dimakamkan di kampung halaman.
Syaiful pergi merantau ke Wamena pulang hanya dengan selembar pakaian yang melekat di badan.
Mangadu Nasib ke Wamena
Syaiful meninggalkan kampung halaman Kabupaten Takalar pada tahun 2014 lalu. Ia pergi untuk mengadu nasib.
Ketika itu, Syaiful diajak oleh kakak sepupunya. Mereka menekuni profesi sebagai pedagang daging.
"Saya merantau ke Wamena bersama kakak sepupu saya. Dia ajak saya ke sana kerja jual daging," kenang Syaiful kepada Tribun, Selasa (1/10/2019).
Tiga tahun menekuni profesi sebagai penjual daging, Syaiful memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Istrinya, Risdayanti kali ini ikut diajak ke Wamena Papua. Mereka bersama menjalankan usaha sendiri.
"Saya keluar bangun usaha sendiri. Saya panggil istri ke sana," bebernya.
Enam bulan kemudian, Syaiful mendapat kabar bahagia. Mereka dikaruniai buah hati.
Istrinya yang hamil sempat pulang ke Makassar untuk melahirkan. Setelah itu, sang istri kembali menyusul Syaiful di Wamena Papua.
"Pas sudah pulang melahirkan 6 bulan, istri balik ke Wamena," bebernya.
Diserang Massa
Hari masih subuh, Senin (23/9/2019), ketika Syaiful membuka kios miliknya di Wamena Papua.
Syaiful mendengar suara teriakan dari jalanan. Teriakan itu ramai terdengar. Rupanya ada sekelompok massa yang berbuat rusuh.
"Kita tidak tahu mereka berniat ganggu pendatang. Makanya kita tidak panik," kata Syaiful.
Kelompok massa tersebut rupanya telah membakar sejumlah rumah di sekitar kontrakan tempat tinggal Syaiful. Kali ini, ia mulai panik.
Bekali Panitia Pilkades Serentak, DPMDPPA Sidrap Gelar Bimtek, Ini Daftar Desanya
SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Mola TV TVRI PSM vs Persib Bandung Liga 1 U-16, Tonton via HP
Peringati HUT ke 73 Bea Cukai, KPPBC Parepare Bawa Sembako ke Panti Asuhan Al-Birru
"Tidak lama begitu dia bakar rumah. Bakar mobil. Maka saya bawa istri sembunyi di kandang babi," bebernya.
Setelah itu, Syaiful berlari menyelamatkan diri. Ia berlari sekencang-kencangnya bersama putranya, Khairil.
Anah panah yang dilepaskan massa bahkan hampir mengenai putranya. Syaiful pun terus berlari sejauh empat kilometer.
"Saya sembunyi di rumah masyarakat yang kosong. Pemiliknya keluar pergi bakar rumah pendatang," bebernya.
Empat jam bersembunyi, Syaiful akhirnya keluar ketika melihat ada mobil patroli polisi yang melintas. Ia pun ikut ke kantor polisi.
Setelah suasana mulai agak kondusif, ia pun keluar mencari istrinya. Ia kembali kembali ke rumahnya.
Nahas, sang istri yang ditinggal di Kandang Babi ditemukan di got. Keadaannya sudah tak bernyawa.
"Pas saya kembali, istri sudah jadi mayat. Saya temukan di got," bebernya.
Laporan Wartawan Tribun Timur @bungari95
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/korban-kerusuhan-perantau4.jpg)