Sulawesi Selatan Alami Deflasi di September 2019, Ini Penyebabnya
Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, pada September 2019 Sulsel mengalami deflasi sebesar 0,15 persen.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK)/ inflasi Sulsel pada September 2019, di Kantor BPS Sulsel, Jl Haji Bau, Makassar, Selasa (1/10/2019).
Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, pada September 2019 Sulsel mengalami deflasi sebesar 0,15 persen.
Ulang Tahun ke 57, Apa yang Telah Dilakukan Airlangga Hartarto?
Begini Penampilan Hasnah Syam Anggota DPR RI Bareng Keluarganya Usai Dilantik Jadi Anggota DPR RI
Minta Rp 90 M, Pemkot Makassar Hanya Beri KPU Rp 78 M
Deflasi Pangan Bukti Produksi Dalam Negeri Membaik
Tuntut Polisi Penembak Rekannya Proses Hukum, Kader PMII Unjuk Rasa di Polres Jeneponto
" Pada September 2019, Susel mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dengan IHK sebesar 138,78," ungkap Yos.
Perhitungan inflasi/deflasi Susel didasarkan pada hasil survei IHK yang dilakukan pada pasar tradisional dan pasar modern atau swalayan di lima kota IHK.
Menurut Yos, dari lima kota IHK di Sulsel, tiga kota yakni Bulukumba, Makassar, dan Parepare mengalami deflasi, sedangkan Kota Palopo dan Watampone mengalami inflasi.
" Deflasi tertinggi terjadi di Kota Parepare sebesar 0,85 persen dengan nilai IHK sebesar 130,90," terangnya.
Dikatakan Yos, deflasi yang terjadi di Sulawesi Selatan pada September 2019 ini disebabkan oleh turunnya harga pada kelompok pengeluaran bahan makanan, yang ditunjukkan oleh turunnya IHK pada kelompok tersebut sebesar 1,02 persen.
" Sementara enam kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan IHK, yakni kelompok sandang 0,50%, kelompok kesehatan 0,44%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,23%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,04%, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02%, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,01%," imbuhnya.
Beberapa komoditas yang memberikan andil tertinggi terhadap deflasi Sulsel antara lain bawang merah, cabai rawit, ikan cakalang, kacang panjang, bayam, dan lain-lain.
Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain ikan bandeng, emas, perhiasan, kangkung, rokok kretek, bedak, hingga sepatu.
Lanjut Yos, September 2019 Sulsel mengalami deflasi 0,15 persen, dimana pada periode yang sama di tahun 2018 dan 2017, juga mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,86 persen dan 0,07 persen.
"Adapun tingkat inflasi tahun kalender Januari-September 2019, di Sulawesi Selatan sebesar 2,13 persen, inflasi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2018 dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,06 persen," katanya.
Tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2019 terhadap September 2018) sebesar 3,57 persen. Tingkat inflasi tahunan tersebut juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat inflasi pada periode yang sama tahun 2018 yang mengalami inflasi tahun ke tahun sebesar 3,09 persen.
"Akan tetapi nilai tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2017 dengan nilai inflasi 4,17 persen," tutup Yos. (tribun-timur.com)
Laporan Wartawan tribun-timur.com @Fahrizal_syam
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/bps-provinsi-sulawesi-selatan-merilis.jpg)