Kisah Pilu Keluarga Perantau Asal Pangkep Selamat dari Kerusuhan Wamena
Mereka tinggal di Jl Kinbim, Kelurahan Sinagma, Kecamatan Wamena Kota, Kabupaten Jaya Wijaya Provinsi Papua.
Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali | Editor: Imam Wahyudi
Diapun pasrah, dia pingsan dan tidak sadarkan diri hingga petugas kepolisian membawanya ke rumah sakit di Wamena untuk diperiksa.
Menantunya, H Hanaping saat tahu mertuanya belum pulang juga dan baru tahu kalau ada kerusuhan dari tetangga di lokasi tersebut, langsung mencari mertuanya.
"Saya cari cepat mertuaku dengan naik motor. Waktu kejadiannya mulai sekitar pukul 08.30 Wita dan baru saya dapat mertuaku sekitar pukul 15.35 Wita sehabis Ashar," ungkapnya.
Saat itu, pikirannya hanya tertuju kepada H Tamengki. Setiap ruang rawat inap dia buka satu persatu. Hal ini untuk memastikan mertuanya masih hidup atau sudah meninggal.
Kondisi di UGD penuh dengan korban kerusuhan Wamena. Ada yang luka lebam, biji matanya sudah mau keluar, luka-luka disekujur tubuhnya dan mereka bergeletakan di lantai dan ruang perawatan.
"Saat saya buka salah satu ruang rawat inap, saya melihat mertua saya duduk dengan muka lebam dan hidung yang sedikit bengkok. Saya langsung memeluknya erat dan mengucap syukur," katanya terisak.
Baca: Diduga Rusak Mobil Polisi, Oknum Mahasiswa UNM Diamankan
Mertuanya, H Tamengki lalu terisak dan berbisik kalau massa tersebut ingin membunuhnya tetapi atas pertolongan Allah dia selamat.
"Sedikitma mati nak, mauka memang nahabisi itu terdengar sayup-sayup terujar dari mulut mereka," kata H Hanaping dengan dialek Bugis menirukan apa yang dikatakan mertuanya, H Tamengki.
Usai menjemput mertuanya, kemudian H Hanaping membawa mertuanya ke markas Kodim Jaya Wijaya. Disanalah mereka mengungsi selama semalam.
Keesokan harinya, Selasa (24/9/2019) mereka kemudian bergerak lagi ke arah Polres Jaya Wijaya untuk meminta pertolongan dan mencari informasi pemulangan ke Makassar.
Baca: Siapkan Pinjaman Usaha, Fintek Amartha Sasar Emak-emak di Sulsel
H Hanaping mencari informasi penerbangan Hercules dan bermaksud akan mendaftar pulang ke Makassar.
"Pukul 6 pagi saya bersama keluarga tinggalkan Kodim kemudian bergerak mencari pertolongan. Saat itu hujan turun dengan deras sehingga keluarga berteduh di musala dan makan ala kadarnya," ujarnya.
Selama 12 jam di bandara, tidak ada tanda-tanda pertolongan. Mereka bertahan dari haus dan lapar.
"Baru sehabis Magrib itu pesawat Hercules bisa ditumpangi, karena kan begitu padatnya pengungsi. Alhamdulillah kami sekeluarga diutamakan karena mertua luka berat dan butuh pertolongan," ungkapnya.
Baca: Bukan Hanya Masalah Pendidikan, Bupati Luwu juga Gandeng Unhas Atasi Banjir
Akhirnya, setelah mendapat persetujuan mereka diterbangkan dengan pesawat Hercules ke Sentani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/korban-kerusuhan-perantau4.jpg)