Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

G30S/PKI - Sikap Soekarno Bikin Soeharto Membabi Buta Tumpas PKI dan Blak-blakan Wadan Cakrabirawa

Mengenang peristiwa G30S/PKI, beginilah sikap Soekarno yang bikin Soeharto membabi buta tumpas komunis hingga blak-blakan Wakil Komandan Cakrabirawa.

Editor: Edi Sumardi
ARSIP/HANDOVER
Soeharto dan Soekarno. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Mengenang peristiwa G30S/PKI, beginilah sikap Soekarno yang bikin Soeharto membabi buta tumpas komunis hingga blak-blakan Wakil Komandan Cakrabirawa.

Sudah 54 tahun peristiwa G30S/PKI berlalu.

Ketika Presiden RI, Soekarno ( Bung Karno ) sedang berorasi di depan publik, ia terkenal sebagai orator yang ulung dan dengan semangatnya yang meledak-ledak.

Publik pun dengan cepat terbius oleh gaya pidato Bung Karno yang penuh semangat dan ketegasan itu sehingga setiap Bung Karno akan pidato ribuan rakyat selalu menunggunya.

Tapi dalam sikap hidunya sehari-hari khususnya terkait dengan kondisi negara yang sedang menghadapi situasi darurat sesungguhnya Bung Karno adalah seorang peragu.

Sebagai contoh, di bulan Agustus 1945, Bung Karno didesak oleh para pemuda pejuang untuk mempercepat proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu keputusan dari pemerintah Jepang yang sebenarnya sudah menyerah kepada Sekutu dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Baca: G30S/PKI, Deretan Foto Cantiknya Naoko Nemoto, Wanita Temani Soekarno di Malam Penembakan 6 Jenderal

Tapi, Bung Karno menolak desakan itu demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat sendiri.

Bung Karno akhirnya terpaksa diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok dan beberapa hari kemudian akhirnya berani merayakan proklamasi Kemerdekaan RI.

Sikap peragu dan niat Bung Karno yang sebisa mungkin menghindari perang saudara itu ternyata selalu terulang terutama ketika berlangsung peristiwa G30S/PKI.

Presiden pertama RI, Soekarno
Presiden pertama RI, Soekarno (ARSIP NASIONAL)

Pada tahun 1948 ketika pemberontakan PKI meletus di Madiun sebenarnya Bung Karno telah menunjukkan ketegasannya untuk menumpas pemberontakan PKI oleh pasukan TNI di bawah pimpinan Wakil Panglima Besar Kolonel AH Nasution.

Saat itu (1948) Letkol Soeharto yang menjabat sebagai komandan Brigade X juga terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun, sehingga Soeharto menjadi punya pengalaman jika pemberontakan oleh PKI memang harus ditindak tegas secara militer.

Operasi militer untuk menumpas pemberontakan PKI pimpinan Muso itu berhasil gemilang tapi tetap saja menciptakan pertumpahan darah sesama anak bangsa yang kemudian menjadi keprihatinan Soekarno.

Karena penanganan G30S/PKI bisa mengulang pertumbahan darah seperti kejadian tahun 1948, maka Bung Karno pun menjadi ragu-ragu untuk membuat keputusan termasuk ragu-ragu menindak Soeharto yang telah “lancang” dalam penanganan G30S.

Pasalnya ketika Soeharto selaku Pangkostrad melakukan tindakan berupa counter movement terhadap aksi G30S seharusnya sesuai izin KASAD dan kalaupun KASAD tidak ada, ia harus bertindak sesuai izin Presiden Soekarno selaku panglima tertinggi.

Namun Bung Karno yang saat itu masih punya banyak pendukung dari militer tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap counter movement Soeharto karena khawatir akan terjadi perang saudara dalam skala besar.

Halaman
1234
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved