Karang Taruna Luwu Rapat Koordinasi Persiapan SKBKT di Sidrap

Ketua Karang Taruna Luwu, Sul Arrahman menuturkan dalam rapat tersebut membahas beberapa poin.

desy arsyad/tribunluwu.com
Karang Taruna Luwu foto bersama usai rapat di kafe Essence Belopa, Selasa (10/9/2019). 

Sehingga rasa memiliki dan memelihara budaya tersebut, ada dalam diri segenap elemen masyarakat.

"Melestarikan budanya bukan merupakan sifat elitis, apalagi untuk membangkitkan feodalisme. Tapi adat adalah alat perekat antara sesama kita," tandasnya.

Maccera tasi ini adalah peninggalan leluhur disaat islam masuk di Tana Luwu, yang ditandai dengan mengumandangkan adzan dari empat penjuru mata angin.

Dia juga menjawab kontrofersi Maccera Tasi yang wacanakan mengandung kemusyrikan.

Satpol PP Makassar Kini Jadi Polisi Wajib Pajak

Mendaftar di PDIP, Rudy Andilolo Siap Mundur dari ASN

Nurdin Abdullah Terancam Dilapor ke Presiden RI, Berikut Penjelasannya

"Hakikatnya adalah sebagai bentuk implemetasi kesyurukan. Pesta laut itu adalah tanda rasa syukur kita atas hasil laut yang nikmati masyarakat. Hari ini kita bergembira mensyukuri hasil laut yang menghidupi masyarakat di sekitarnya," tuturnya.

Acara Maccera Tasi sudah dimulai pada 6 September yakni Mallekke Wae (Mengambil Air) di istana kedatuan.

Hari ini merupakan kegiatan inti (mata gau'). Dimana rombongan Datu Luwu bersama para raja dan ratu menuju Belopa.

Para tamu menyaksikan kegiatan di lokasi acara di Pelabuhan Ulo-ulo.

Dalam prosesi, Datu Luwu bersama 13 dewan adat menaiki pincara (perahu) di Pelabuhan Tadette, di Desa Senga Selatan, menuju ance (menara upacara) di Pelabuhan Ulo,ulo.

Sebelum ke tenda para tamu, pincara datu bersama 13 dewan adat mengelilingi ance sebanyak tiga kali.

Halaman
1234
Penulis: Desy Arsyad
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved