Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Ini Profil Mira Lesmana, Sutradara Wanita Indonesia

Pada tahun 1999 Lesmana memulai debut film fitur-nya dengan Kuldesak, yang ia sutradarai bersama dengan Riza Mantovani, Riri Riza dan Nan Triveni.

Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ina Maharani
tribun timur/Desi Triana Aswan
Pemilik rumah produksi Miles Film Mira Lesmana saat berbicara di hadapan audience, pada acara Kalla Youth Festival (KYF) di Nipah Mall, Makassar, Sabtu (10/11/2018) malam . 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sineas Mira Lesmana mengungkapkan hal-hal apa saja yang membuatnya mendapatkan inspirasi dalam meramu sebuah film.

Hal itu disampaikan Mira dan koleganya Riri Riza saat menjadi pembicara dalam rangkaian acara Playfest 2019 yang digelar di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (24/8/2019) seperti dilansir Tribun Timur dari Kompas.com.

"Saya sama Riri banyak ngobrol, utamanya kebanyakan ngopi, terus kita biasanya pergi ke film-film fest," kata Mira.

"Nonton film yang ada, dari situ tentunya hadir diskusi kriteria film apa yang berikutnya kita buat," sambungnya.

Selain itu, Mira dan Riri juga kerap bepergian untuk mencari inspirasi lain untuk berkarya.

"Yang utama Riri muncul dengan ide cerita atau saya muncul dengan sebuah ide atau kita travel membawa film kita kemudian dapat inspirasi," lanjutnya.

Mira Lesmana

Mengutip dari wikipedia.org Mira Lesmana adalah sutradara, produser dan penulis lagu Indonesia.

Ia terkenal sebagai pendiri Miles Films, sebelumnya Miles Productions, yang ia kelola bersama dengan pembuat film Indonesia Riri Riza.

Melalui Miles Films, ia telah menghasilkan beberapa film yang sukses secara kritis dan komersial, termasuk Petualangan Sherina (Sherina's Adventure; 2000), Ada Apa dengan Cinta? (Ada Apa dengan Cinta?; 2002), Gie (2005), dan Laskar Pelangi (The Rainbow Troops; 2008).

Masa muda

Lesmana lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964 dari musisi Jack Lesmana dan istrinya Nien.

Adiknya adalah pianis jazz Indra Lesmana.

Pada usia lima tahun, ia masuk taman kanak-kanak di Sekolah Cikini; pendidikan sekolah dasar dan menengahnya dilakukan di institusi yang sama.

Sebagai seorang anak, Lesmana ingin menjadi seorang ilmuwan atau detektif, dan sering berada di puncak kelasnya.

Pada usia 16, Lesmana menulis lagu pertamanya, yang kakaknya Indra gunakan untuk mendapatkan beasiswa ke sekolah musik di Australia. Karena Indra masih remaja, keluarga itu pindah ke Australia pada 1979.

Lesmana melanjutkan pendidikannya di sana; walaupun dia sebelumnya belajar bahasa Inggris di Indonesia, dia menemukan kesulitan dengan aksen Australia.

Dia juga mulai menonton film secara teratur.

Setelah tahun keduanya di Australia, Lesmana dipindahkan dari sekolah umum ke Australian International Independence School. Setelah lulus, keluarga Lesmana kembali ke Indonesia.

Dia mendaftar di Institut Seni Jakarta pada tahun 1983, lulus pada tahun 1985. Pengalaman pertamanya dengan memproduksi film adalah pengumuman layanan publik yang dibuat atas permintaan Garin Nugroho.

Pada 14 Februari 1990, Lesmana menikahi mantan idola remaja, aktor Mathias Muchus; pasangan ini memiliki dua putra, Galih Galinggis dan Kafka Keandre.

Sepanjang awal 1990-an Lesmana terus menulis lagu, termasuk beberapa untuk saudaranya dan satu untuk album Chrisye 1993 Sendiri Lagi (Alone Again). Pada tahun 1995 ia mendirikan perusahaan produksi film, Miles Productions, yang kemudian berganti nama menjadi Miles Films.

Pada tahun 1996 ia menyutradarai serial film dokumenter yang sukses berjudul Anak Seribu Pulau.

Karier film

Pada tahun 1999 Lesmana memulai debut film fitur-nya dengan Kuldesak, yang ia sutradarai bersama dengan Riza Mantovani, Riri Riza dan Nan Triveni.

Tahun berikutnya ia memproduksi Petualangan Sherina (Petualangan Sherina).

Pada saat itu, industri film Indonesia sedang mengalami kemunduran, dan beberapa pembuat film mengejek upaya tersebut, dengan mengatakan bahwa film-film itu tidak dapat menguntungkan; namun keduanya berhasil.

Pada 2002 Lesmana merilis Ada Apa dengan Cinta? (Ada Apa dengan Cinta?), Berperan sebagai ko-produser dengan Riza. Iwan Setiawan, yang menulis di The Jakarta Post, menggambarkan film-film ini sebagai langkah awal pemulihan industri.

Lesmana menghasilkan Gie, film biografi aktivis Soe Hok Gie, pada tahun 2005. Meskipun sukses kritis, itu tidak mencapai titik impas.

Tahun berikutnya Lesmana adalah anggota pendiri Masyarakat Film Indonesia (Masyarakat Film Indonesia), yang bekerja untuk mengubah undang-undang sensor di negara ini.

Petisi kelompok itu pada akhirnya tidak berhasil. Juga pada tahun 2006 ia memproduksi Garasi (Garage), sebuah film yang dibintangi Aries Budiman, Ayu Ratna, dan Fedi Nuril.

Para pemain bersatu kembali untuk membentuk band Garasi pada tahun 2007, yang merupakan salah satu tindakan pertama yang ditandatangani oleh perusahaan rekaman baru Lesmana, Miles Music.

Tahun itu ia menghasilkan 3 Hari Untuk Selamanya (3 Hari untuk Selamanya); soundtrack film ini diproduksi oleh Float, band lain di Miles Music.

Pada 2008 Lesmana memproduksi film Laskar Pelangi (Rainbow Troops), sebuah adaptasi dari novel Andrea Hirata 2007 dengan nama yang sama.

Pada tahun yang sama ia terus menekan undang-undang sensor film baru, yang berakhir dengan pemerintah mengeluarkan undang-undang baru pada tahun 2009.

Tahun berikutnya ia memproduksi Sang Pemimpi (The Dreamer), sekuel Laskar Pelangi berdasarkan novel dengan nama yang sama.

Pada 2010 Lesmana menulis dua puluh lagu untuk adaptasi panggung musikal Laskar Pelangi, sebuah proyek yang juga melibatkan Erwin Gutawa, Jay Subiyakto, dan Hartandi.

Atambua 39 ° Celcius, sebuah film tentang pengungsi yang tinggal di Atambua, mulai syuting pada 2012.

Film ini sebagian didanai melalui dana kerumunan dan ditayangkan perdana di Tokyo International Film Festival. Tahun berikutnya, ia merilis Sokola Rimba yang memenangkan Film Terbaik di Maya Awards.

Produksi Lesmana yang paling mahal hingga 2017 adalah Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior; 2014), sebuah film seni bela diri yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Dibintangi Eva Celia, Nicholas Saputra, dan Reza Rahadian, itu diperkirakan memiliki anggaran 25 miliar rupiah.

Pada 2016, Lesmana memproduksi Ada Apa dengan Cinta? 2 (Ada Apa dengan Cinta? 2;), sekuel Ada Apa dengan Cinta. Seperti pendahulunya, film ini menjadi hit dengan penonton, dan pada Juni 2016 telah ditonton oleh lebih dari 3,6 juta orang.

Juga di tahun yang sama, Lesmana merilis Athirah (Emma '(Mother), sebuah film yang terinspirasi oleh kehidupan ibu Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla. Film ini memenangkan Penghargaan Citra dan Penghargaan Maya untuk Film Terbaik dan telah diputar di beberapa festival film internasional dengan ulasan positif.

Biodata

Nama lahir: Mira Lesmanawati

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 8 Agustus 1964

Pekerjaan: Produser

Tahun aktif: 1995 - sekarang

Hubungan: Indra Lesmana (adik)

Pasangan: Mathias Muchus (1990 - sekarang)

Anak

Galih Galinggis
Kafka Keandre

Orang tua
Ayah: (Alm) Jack Lesmana
Ibu: Nien Lesmana

Instagram: @mirles

Filmografi

  1. Ceh Kucak Gayo (1995) (co-producer)
  2. Kuldesak (1998) (sutradara)
  3. Petualangan Sherina (2000) (produser)
  4. Ada Apa Dengan Cinta? (2002) (produser)
  5. Eliana, Eliana (2002) (co-producer)
  6. Rumah Ketujuh (2003) (produser)
  7. The Year of Living Vicariously (2005) (produser eksekutif)
  8. Gie (2005) (produser)
  9. Garasi (2006) (produser)
  10. Laskar Pelangi (2008) (produser)
  11. Sang Pemimpi (2009) (produser)
  12. Sokola Rimba (2013) (produser)
  13. Pendekar Tongkat Emas (2014) (produser)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Berawal dari Ngopi Bareng, Mira Lesmana dan Riri Riza Bisa Dapat Inspirasi Bikin Film", https://entertainment.kompas.com/read/2019/08/24/191452410/berawal-dari-ngopi-bareng-mira-lesmana-dan-riri-riza-bisa-dapat.

Sumber foto: instagram @mirles

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved