Blak-blakan Mahasiswi 'Ayam Kampus', Tarif Sekali Berzina dan Alasan Jual Diri untuk Diajak Tidur

Blak-blakan mahasiswi 'ayam kampus', tarif sekali berzina dan alasan jual diri untuk diajak tidur. Bukan rahasia lagi jika sejumlah mahasiswi Tanah Ai

Blak-blakan Mahasiswi 'Ayam Kampus', Tarif Sekali Berzina dan Alasan Jual Diri untuk Diajak Tidur
KOMPAS.COM
Ilustrasi PSK. 

Ia menutup rapat kesehariannya yang kerap menjajakan cinta dengan pria hidung belang melalui media sosial.

Mahasiswi semester V program studi bidang kesehatan ini pun mengaku sempat khawatir jika suatu saat ia bakal terkena penyakit.

Baca: Ustadz Abdul Somad: Apakah Perlu Saya Meminta Maaf? Tak Mungkin Saya Tanya Satu Satu, Matikan HP

Baca: Jusuf Kalla Nasihati Ustadz Abdul Somad, Baca Pesan Ketua Dewan Masjid Indonesia dan RI 2

Tetapi, himpitan ekonomi dan tututan gaya hidup membuatnya  terpaksa menggeluti dunia "ayam kampus" hingga kini.

"Pernah kepikiran takut kena penyakit, cuma ya dibawa happy aja. Mau bagaimana lagi, karena kita memang butuh uang," katanya membeberkan.

Lebih Suka Ayam Kampus

Boy, salah seorang pegawai swasta mengaku suka menggunakan jasa "ayam kampus" dikarenakan lebih profesional, ramah, dan berkelas dari PSK lainnya.

Ia mengungkapkan, penilaiannya terhadap layanan "ayam kampus" bukan hanya soal bersetubuh.

Melainkan, juga soal attitude dan sensasi yang didapatkan dari si "ayam kampus".

Dengan pelayanan berbeda diberikan "ayam kampus", ia pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan kesempatan kencan dengan "ayam kampus".

Namun begitu, hal tersebut bukanlah jadi soal.

Baginya kepuasan dan layanan adalah yang paling utama.

"Ayam kampus itu lebih eksklusif dan berkelas, karena tidak sembarangan orang bisa pakai jasanya. Walau harus bayar Rp 2 juta tidak masalah yang penting lebih berkelas 
dan pelayanan memuaskan," katanya mengakui.

Lain lagi dengan Jo, ia lebih memilih menjadikan "ayam kampus" sebagai teman bersenang-senang.

Setelah satu-dua kali menggunakan jasanya, pria berambut ikal ini akan melanjutkan hubungannya ke jenjang lebih dekat.

Jika hubungan keduanya semakin akrab, ia mengaku selanjutnya tak perlu lagi mengeluarkan biaya cukup mahal.

Cukup membuka kamar di hotel dan diajak jalan pegawai swasta ini dengan leluasa menggunakan jasa si "ayam kampus".

"Awal-awalnya bayar Rp 1 juta, setelah itu kita akrab-in. Selanjutnya tinggal suka sama suka aja," katanya.

Ogah Jadi Simpanan

Para oknum mahasiswi yang nyambi jadi "ayam kampus" enggan secara terang-terangan membuka jati diri mereka.

Bahkan, pihak keluarga dan sang pacar tak mengetahui jika mereka terjerumus ke dalam dunia prostitusi "ayam kampus".

Mereka biasanya berpenampilan biasa saja di lingkungan kuliah, enggan tampil mencolok dengan pakaian glamor dan menggoda.

Untuk pakaian yang digunakan ketika kuliah juga rata-rata tertutup seperti mahasiswa lain pada umumnya.

MS, salah seoerang "ayam kampus" jurusan ekonomi di kampus swasta Palembang mengaku kalau sepintas orang pasti tidak akan mengetahui bahwa mereka terlibat dunia 
prostitusi online.

Permainan melalui media sosial membuat modus "ayam kampus" cukup sulit terendus orang banyak.

"Ya pintar-pintar kita sembunyikan identitas. Pacar dan keluarga saya tidak tahu kalau saya begini (ayam kampus,)," ujarnya, Kamis (15/8/2019).

Ia menjelaskan, si "ayam kampus" biasanya diketahui oleh sesama rekannya dan penikmat jasa saja.

Mereka enggan membuka diri secara terang-terangan dengan pekerjaan tersebut karena berada di lingkungan kampus.

"Ketahuan teman satu kampus ya malulah. Paling cuma beberapa teman yang tahu, tapi mereka nggak bakal bocor. Tahu sama tahu saja," kata MS.

Diakuinya, meski bisa dengan mudah mendapatkan uang menjadi seorang "ayam kampus", namun sebagian mahasiswi pelaku bisnis haram ini enggan menjadi simpanan om-om berkantong tebal.

Mereka lebih mengambil aman dengan menjajakan cinta kilatnya ketimbang harus menjadi simpanan pria beristri.

Wanita berambut panjang ini selalu menolak ajakan tersebut.

Alasannya, selain berisiko jati dirinya terungkap.

Ia menghindari terjadinya konflik dengan istri sah si om-om.

"Kalau yang ngajak jadiin simpanan banyak, tapi sayanya yang nggak mau. Terlalu beresiko kalau gitu (jadi simpanan)," ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahkan ada om-om yang rela memberinya uang hingga Rp 20 juta untuk mengiming-iminginya agar mau jadi simpanan.

"Pokoknya yang dicari itu duit, bukannya status. Kalau jadi simpanan itu terikat," kata MS.

TY, "ayam kampus" lainnya juga mengaku kerap kali bercinta terkadang terbawa perasaan alias baper.

Akan tetapi ia mengaku lebih memilih menahan diri.

Mahasiswi ini lebih memilih menahan diri ketimbang nantinya hubungan berlanjut hingga menjadi simpanan si pelanggan.

Diakuinya, sulit meninggalkan kehidupan yang serba enak dari penghasilannya sebagai "ayam kampus".

Ia melakukan pekerjaan ini untuk memenuhi lifestyle dan kebutuhan sehari-hari.

"Imej mahasiswi itu kesannya sensual, intelek, dan lebih eksklusif. Jadi banyak yang mau jadikan simpanan. Tapi kalau saya sih ogah, terlalu berisiko," katanya.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved