Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Biologi UIN Alauddin Sebut Penyakit Pisang Sulitkan Warga dalam Bertani

Dosen Biologi UIN Alauddin Makassar, Dr Masriany mengatakan, ada fenomena penyakit pisang yang sering muncul dalam lahan petani Sulawesi Selatan.

Penulis: Ari Maryadi | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/ARI MARYADI
Seminar Nasional bertajuk Biodiversitas oleh Jurusan Biologi UIN Alauddin Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Dosen Biologi UIN Alauddin Makassar, Dr Masriany mengatakan, ada fenomena penyakit pisang yang sering muncul dalam lahan petani Sulawesi Selatan.

Dalam dunia biologi, penyakit pisang ini disebut Banana Blood disease (BBD).

Masriany menuturkan, penyakit darah pisang merupakan penyakit yang disebabkan oleh Blood disease bacterium (BDB).

"Penyakit pisang ini menjadi salah satu tantangan utama produksi tanaman pisang di Indonesia," katanya dalam rilis yang diterima Tribun, Rabu (21/8/2019).

Doktor jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan, penyakit pisang ini pertama kali dilaporkan di Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan.

Oleh karena itu, katanya, apabila petani menemukan pisangnya terpapar oleh BBD, maka potong sesegera mungkin jantung pisang.

"Kemudian musnahkan tanaman sakit dan tanaman pisang yang ada di sekelilingnya (eradikasi) untuk mencegah penularan penyakit ini," jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Prof. Muhammad Khalifah Mustami menyampaikan, Sulawesi Selatan adalah salah satu sumber keanekaragaman hayati di Indonesia.

Khalifah mengatakan, kekayaan pada biodiversitas akan berefek pada semakin banyak penemuan baru yang akan diperoleh untuk kelangsungan hidup manusia.

"Menjaga keberadaan mereka, berarti menjaga alam dan ekosistem," katanya.

Sementara itu, Dr. Islamul Hadi, M.Si, Dosen Biologi Universitas Mataram menyatakan bahwa jenis monyet di Sulawesi ini sangat menarik untuk diteliti.

Menurutnya, Sulawesi Selatan sendiri memiliki jenis Macaca maura (Bugis-Makassar: Dare/Lanceng).

Jenis itu yang merupakan monyet endemik, berekor pendek, berwarna hitam atau putih.

Proses innovation behavior yang terbentuk dinilai menyebabkan monyet-monyet ini mengalami perubahan perilaku.

Salah satunya menunggu pemberian makanan oleh warga yang melintas. Monyet endemik Jepang sendiri mengubah perilakunya dengan berendam di air panas pada suhu 40°C.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved