Berkunjung ke Pinrang, Perpusnas RI Tanggapi Aksi Razia Buku

Respon itu dikeluarkan oleh Kepala Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Minat Baca Perpusnas RI, Nani Suryani.

Berkunjung ke Pinrang, Perpusnas RI Tanggapi Aksi Razia Buku
Hery Syahrullah/Tribun Timur
Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca Pepustakaan Nasional RI digelar di Aula Kantor Bupati, Jl Bintang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Selasa (6/8/2019). 

TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Pihak Perpustakaan Nasional RI turut angkat bicara merespon razia buku Marxisme dan Leninisme di salah satu toko di Makassar, belum lama ini.

Respon itu dikeluarkan oleh Kepala Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Minat Baca Perpusnas RI, Nani Suryani.

Jelang Iduladha, Pertamina Pastikan Stok LPG Aman di Sulsel

Kapolres Shinto Ingatkan Suporter PSM Asal Gowa Jaga Ketertiban

Paniknya Raffi Ahmad Usai Buat Penyanyi Dangdut 2 Racun Pingsan Sempat Peluk Zaskia Gotik

VIDEO: 5 Ribu Personel Keamanan Amankan Final Piala Indonesia, Intip Persiapannya

Warga Toraja Utara Jagokan Ferdinand Sinaga Bobol Gawang Persija

Ia mengatakan, membaca buku itu sah-sah saja.

Selama untuk kebutuhan penelitian dan penambahan wawasan.

"Namun, kita tetap antisipasi faham yang radikal atau liberal agar tidak ditularkan ke masyarakat. Jangan sampai jadi makanan politik," katanya saat berkunjung ke Kabupaten Pinrang, Selasa (6/8/2019).

Dalam konteks Perpusnas RI, ucap Nani, seluruh terbitan tentang Indonesia itu harus menjadi koleksi untuk disimpan di Perpustakaan. Itu karena perpustakaan merupakan tempat koleksi khasanah budaya bangsa.

Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca Pepustakaan Nasional RI digelar di Aula Kantor Bupati, Jl Bintang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Selasa (6/8/2019).
Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca Pepustakaan Nasional RI digelar di Aula Kantor Bupati, Jl Bintang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Selasa (6/8/2019). (Hery Syahrullah/Tribun Timur)

"Bahkan dalam aturan perundang-undangan disebutkan, semua terbitan harus disampaikan dua copy ke perpustakaan. Baik itu dari dalam maupun luar negeri," jelasnya.

Memang, lanjut Nani, pelarangan dan pembakaran buku sempat terjadi besar-besaran di Indonesia saat pra reformasi.

"Namun pasca reformasi, keterbukaan informasi menjadi luas. Seyogyanya, tak ada lagi yang demikian," pungkasnya (TribunPinrang.com)

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, @herysyahrullah

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Jelang Iduladha, Pertamina Pastikan Stok LPG Aman di Sulsel

Kapolres Shinto Ingatkan Suporter PSM Asal Gowa Jaga Ketertiban

Paniknya Raffi Ahmad Usai Buat Penyanyi Dangdut 2 Racun Pingsan Sempat Peluk Zaskia Gotik

VIDEO: 5 Ribu Personel Keamanan Amankan Final Piala Indonesia, Intip Persiapannya

Warga Toraja Utara Jagokan Ferdinand Sinaga Bobol Gawang Persija

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved