Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rocky Gerung Sebut Pertemuan Megawati & Prabowo di Teuku Umar Depak Orang Ini, Senyuman Akbar Faisal

Bukan Rocky Gerung namanya kalau tidak bikin heboh. Komentar Pengamat Pilitik tersebut jadi pembicaraan di media sosial Twitter.

Editor: Rasni
Tribun Jabar
Rocky Gerung Sebut Pertemuan Megawati & Prabowo di Teuku Umar Depak Orang Ini, Senyuman Akbar Faisal 

TRIBUN-TIMUR.COM -  Rocky Gerung Sebut Pertemuan Megawati & Prabowo di Teuku Umar Depak Orang Ini, Senyuman Akbar Faisal

Bukan Rocky Gerung namanya kalau tidak bikin heboh. 

Komentar Pengamat Pilitik tersebut jadi pembicaraan di media sosial Twitter

Rocky Gerung meretweet sejumlah kicauan yang menayangkan keberaniannya mengulas pertemuan di Jl Teuku Umar Jakarta antara Megawati dan Prabowo.

Dan kaitannya pertemuan di kawasan Gondangdia Kantor DPP Nasdem antara Ketua Umum DPP Nasdem Surya Paloh, Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta) dan pimpinan parpol.

Baca: TRIBUNWIKI: Ini 2 Resep Sate Kambing, Olah Daging Kambing di Hari Raya Iduladha 2019

Bahkan Rocky Gerung meminta followernya menyimak video full pernyataannya di ILC TV One.

Rocky Gerung menyampaikan kalimat penutup di ILC TV One Selasa (30/7/2019) malam.

Bukan Rocky Gerung kalau tidak heboh.

 

"Terima kasih Bang Karni," kata Rocky Gerung  mengawali closing statemen di ILC TV One tadi malam.

"Ternyata keliru kontestasi pak jokowi bahwa sudah selesai problemnya. Itu nol satu makin menjadi-jadi problemnya. Itu urusan andalah. Saya mengurus tema hari ini," kata Rocky Gerung.

Baca: Rocky Gerung Bersama Husain Abdullah dan Wagub Saksikan Ismak Jadi Ketua IKA Unhas Jabodetabek

Baca: Rocky Gerung Sebut Pertemuan Prabowo & Megawati Mau Singkirkan Orang Ini, Liat Reaksi Akbar Faizal

ILC TV One mengangkat tema Teuku Umar atau Gondangdia, Kelompok 212 Mau Ke Mana?

"Dari tadi tidak ada yang menjawab secara telak di mana posisi 212 itu Karena memang sulit perlu Donald Trump jawab itu.. Tetapi kalau donald trump membatalkan datang karena masaih ada problem 01 itu lalu yang tiba adalah Habib Riziez dan Habib Rizieq kasi Nasi Padang ke Sandi ajak makan. Ada makan siang Habib Rizieq dan Sandi Uno. Pertanyaannya adalah kemana gondang dia ke mana teuku umar. Siapa yang datang duluan sodori nasi goreng siapa datang duluan tawari nasi kebuli? anything goes," kata Rocky Gerung.

Rocky Gerung juga sudah punya jawaban tentang pertemuan Teuku Umar dan Gondangdia.

Teuku Umar merujuk kepada kediaman Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.

Sementara Kawasan Gondangdia merujuk kepada Kantor DPP Partai Nasdem yang dipimpin Surya Paloh.

Di Jl Teuku Umar, pertemuan Megawati dan Prabowo dengan menu nasi goreng.

Sementara Ketua Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kantor DPP Partai Nasdem di Gondangdia, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Pertemuan berlangsung selama 30 menit yang diawali makan siang dengan menu utama nasi kebuli.

"Kalau dua orang bertemu artinya ada pihak ketiga mau disingkirkan. Gampang kan! Tinggal ditanya siapa pihak yang hendak disingkirkan? Yang bereaksi lebih cepat tentu! Yang bereaksi lebih cepat terhadap Teuku Umar siapa? ya Gondangdia bereaksi lebih cepat. Kan simple kan loginya," kata Rocky Gerung disambut ekspresi berbeda sejumlah narasumber ILC TV One.

Baca: Bawa Badik, 3 Bocah Diringkus Tim Respon Angngaru Polres Pelabuhan Makassar

Baca: Jadwal Semifinal Piala AFF U-15, Ini Lawan Timnas U-15? Timor Leste Gagal, Daftar Topskor Indonesia

Baca: PSM vs Persija, Ini Nazar Ketua Red Gank Bantaeng Jika PSM Menang

Akbar Faizal tampak tersenyum sementara Haikal Hassan menulis sesuatu dicatatannya.

Lalu bagaimana kelompok 212?

"212 mau disingkirkan? Tidak bisa! Dia berakar dari imajinasi bangsa ini kok. gampang kok masalah itu," kata Rocky Gerung.

Simak video lengkapnya:

Kenapa Rocky Gerung Bela 212 dan Kritik Jokowi di ILC TV One? 'Presiden Tak Ngerti Kemajemukan'

Kenapa Rocky Gerung Bela 212 dan Kritik Jokowi di ILC TV One? 'Presiden Tak Ngerti Kemajemukan'

Rocky Gerung terang-terangan membela Kelompok 212 saat tampil di ILC TV One Selasa (30/7/2019) malam.

ILC TV One mengangkat tema Teuku Umar atau Gondangdia, Kelompok 212 Mau Ke Mana?

Di acara itu, Rocky Gerung juga memberi kritik keras kepada Presiden RI Jokowi.

 

Peneliti Perhimpunan Pendidikan dan Demokrasi (P2D), Rocky Gerung mengomentari mengenai posisi kelompok 212 diantara kubu Jokowi dan Prabowo.

Menurut Rocky Gerung, selama pembahasan di Indonesia Lawyers Club tersebut tak ada seorangpun yang menjawab telah keberadaan kelompok 212.

"Dari tadi gak ada yang jawab secara telak soal dimana posisi kelompok 212 karena memang sulit," tutur Rocky Gerung dilansir TribunJakarta.com pada Rabu (31/7/2019).

Bahkan, Rocky Gerung menilai perlu sosok Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menjawab mengenai keberadaan kelompok 212 diantara kubu Jokowi dan Prabowo.

"Saya kira perlu Donald Trump untuk menjawabnya. Kalau dia kesini sekalian tanya saja 'menurutnya kelompok 212 ke Gondangdia atau Teuku Umar?'," beber Rocky Gerung.

Baca: Jadwal Semifinal Piala AFF U-15, Ini Lawan Timnas U-15? Timor Leste Gagal, Daftar Topskor Indonesia

Baca: Awal Pekan, Enrekang Diprediksi Bakal Berawan Sepanjamg Hari

Baca: Barcelona Juara Pramusim Kalahkan Arsenal, Lionel Messi Pidato Begini dan Tonton Gol-golnya di Sini

Lantas Rocky Gerung menjelaskan lebih lanjut mengenai analisisnya dengan mengibaratkan Donald Trump yang gagal datang ke Indonesia dan justru Habib Rizieq Shihab yang kembali.

 

"Andai Rizieq Shihab yang kembali dan makan bersama nasi padang dengan Sandiaga Uno. Pertanyaannya adalah kemana Gondangdia dan Teuku Umar?

Anything goes, itu yang disebut sebagai dinamika. Problem utama dari pembahasan ini ya hal tersebut dan perihal lainnya itu receh," jelas Rocky Gerung.

Rocky Gerung memaparkan, jika eksistensi kelompok 212 dipertanyakan hanya karena pertemuan antar tokoh politik maka seolah-olah 212 merupakan permainan kemarin sore.

"Saya menangkap ada roh jujur di kelompok tersebut lepas dari kontroversinya. 212 bukan permainan politik Prabowo dan memperoleh legitimasinya di Monas.

212 itu adalah tax social bangsa ini, hasil imajinasi bangsa ini dan kita harus menghormatinya," ucap Rocky Gerung.

 

Menurut Rocky Gerung, legitimasi kelompok 212 itu sebenarnya berada di sejarah konstitusi Indonesia.

"Namanya aja 212 padahal dulunya bernama Piagam Jakarta. Nah ngaconya adalah segala konsep bernegara itu lalu disederhanakan sebagai ancaman dan disebut istilahnya teroris. Presiden menyebutkan itu.

Untuk itu, saya ingin Presiden membaca tag social kita sebagai catatan historis agar tak menjadi kedunguan lokal dalam membaca politik. Kan itu yang membuat jengkel kita. Jadi kita diarahkan melihat 212 sebagai musuh negara," kata Rocky Gerung.

Rocky Gerung lantas mempertanyakan soal pernyataan Jokowi 'kami memerlukan oposisi' itu berarti memerlukan dikritik atau untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

"Kenapa diskusi mengenai tema ini terus berlanjut di masyarakat? Karena enggak ada imajinasi sosial yang diucapkan presiden, selain cebong dan kampret yang udah selesai.

Ide tentang bernegara tak diucapkannya dan ia hanya mengucapkan prestasi yang diraihnya selama 5 tahun memimpin," aku Rocky Gerung.

Bahkan, Rocky Gerung menyatakan Jokowi kurang paham soal kemenangan yang harus difungsikan bentuk baru dari social tags. 

 

"Nah itu yang menyebabkan kita jengkel, kamera menyorot nasi goreng dan Gondangdia tetapi apa maknanya?" beber Rocky Gerung.

Rocky Gerung menilai, pertemuan antar tokoh politik beberapa waktu belakangan lebih membahas mengenai reshuffle kabinet namun diseludupkan seolah-olah masalah bangsa di 2024.

"Padahal 2024 itu masih jauh dan perdebatan ini selesai ketika minggu depan ada krisis ekonomi," ungkap Rocky Gerung.

Lebih lanjut Rocky Gerung menuturkan, kelompok 212 itu bak nutrisi dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

"Ini kekacauan kita seolah-olah Pancasila hanya dimonopoli dengan satu tipe politik yaitu Teuku Umar. Kenapa Ketua BPIP harus Megawati Soekarnoputri? Karena dia anaknya Soekarno, justru karena beliau anak Soekarno ya sudah selesai. Kalau mau majemuk, kenapa bukan Mardani Ali?

Jadi mengangkat Ketua BPIP itu mengartikan Presiden tak mengerti kemajemukan," imbuh Rocky Gerung.

 

Rocky Gerung mengemukakan, Presiden saat ini bukanlah otonom sehingga tak mungkin eksekusi kebijakannya sendiri.

Pengamat politik itu juga menjelaskan makna di balik pertemuan di Gondangdia dan Teuku Umar yang berarti material dan tak bisa disembunyikan.

"Kita diharuskan menganalisa sesuatu yang sebenarnya telah terang benderang bahwa hal tersebut mengartikan ambisi kursi dengan segala macam pengandaian. Kenapa? karena Oktober masih lama, kongres Golkar dan Gerindra masih lama.

Jadi untuk mendahului agenda formal maka diadakan pertemuan semacam tersebut," aku Rocky Gerung.

Simak video lengkapnya:

(*)

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

E

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved