Kuasa Hukum Wahyu Jayadi Yakini Membunuh Secara Spontanitas

Shyafril mengaku tak sependapat dengan persangkaan yang dikenakan oleh Kejaksaan Negeri Gowa. Kliennya diketahui dijerat pasal 340 KUHP tentang pembun

Kuasa Hukum Wahyu Jayadi Yakini Membunuh Secara Spontanitas
Ari Maryadi/Tribungowa.com
Wahyu Jayadi (tengah) ketika diserahkan oleh penyidik Polres Gowa kepada Kejaksaan Negeri Gowa, Jumat (19/7/2019) lalu. 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Kuasa hukum Wahyu Jayadi, M. Shyafril Hamzah meyakini kliennya melakukan kekerasan atas dasar spontanitas.

Shyafril mengaku tak sependapat dengan persangkaan yang dikenakan oleh Kejaksaan Negeri Gowa. Kliennya diketahui dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Tim Saber Pungli Datangi Kantor Samsat Jeneponto, Ada Apa?

Andre Taulany Hibur Nunung di Penjara, Masih Nangis-nangis dan Titip Rindu Buat Orang Ini

Pascakalah dari Persija, Latihan PSM Hanya Dihadiri 17 Pemain Sore Ini

VIDEO: Satlantas dan UPT Samsat Toraja Utara Sweeping Pajak Kendaraan

VIDEO:Massa Pendukung Caleg Muhammad Arifuddin Unjuk Rasa di Kantor KPU Wajo

"Kejadian ini spontanitas, jadi klien kami tidak pernah melakukan perencanaan untuk membunuh korban," kata Shyafril kepada Tribun, Selasa (23/7/2019).

Wahyu Jayadi diketahui mencekik leher rekan kerjanya Siti Zulaeha Djafar hingga patah. Zulaeha akhirnya meregang nyawa di dalam mobil.

Shyafril menilai, tindakan yang dilakukan oleh Wahyu Jayadi selaku kliennya tidak dilakukan atas dasar kesengajaan. Tapi bentuk spontan pada percekcokan yang terjadi.

"Kejadian tindak pidana ini adalah spontanitas tanpa kesengajaan. Itu tanggapan saya berdasarkan rekonstruksi," kata Shyafril.

Shyafril mengatakan, penafsirannya didasarkan pada tiga point berdasarkan hasil rekonstruksi. Pertama, kejadian itu bermula dari ajakan korban.

Kedua, keduanya mengendarai mobil korban yaitu Daihatsu Terios. Sementara mobil Wahyu Jayadi disimpan di Jl Sultan Alauddin Kota Makassar.

Ketiga, kata Shyafril, tersangka dan korban punya hubungan baik selama ini. Keduanya adalah tetangga, rekan kerja, serta berasal dari kampung yang sama.

"Jadi itu kesimpulan saya berdasarkan hasil rekonstruksi 70 adegan. Tidak ada bentuk perencanaan," kata Shyafril.

Wahyu Jayadi (tengah) ketika diserahkan oleh penyidik Polres Gowa kepada Kejaksaan Negeri Gowa, Jumat (19/7/2019) lalu.
Wahyu Jayadi (tengah) ketika diserahkan oleh penyidik Polres Gowa kepada Kejaksaan Negeri Gowa, Jumat (19/7/2019) lalu. (Ari Maryadi/Tribungowa.com)
Halaman
12
Penulis: Ari Maryadi
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved