Rizal Ramli Diam-diam Sering Kirim Pesan WhatsApp ke Jokowi, Padahal Pendukung Prabowo, Apa Isinya?
Perhelatan pesta Politik Pilpres 2019 sudah berlalu. Namun kubu dua kelompok masih terus saling lempar argumen.
Rizal Ramli Diam-diam Sering Kirim Pesan WhatsApp ke Jokowi, Padahal Pendukung Prabowo, Apa Isinya?
TRIBUN-TIMUR.COM - Perhelatan pesta Politik Pilpres 2019 sudah berlalu.
Namun kubu dua kelompok masih terus saling lempar argumen.
Meski demikian, ada pengakuan tak disangka dari ekonom senior Rizal Ramli.
Rizal yang juga tim oposisi ternyata masih kerap menghubungi Presiden Jokowi lewat aplikasi Chatting WhatsApp.
Kok bisa? Apa maksud dan tujuan?
Ternyata tujuannya mencegah Presiden Jokowi mengambil kebijakan yang salah langkah.
Hal itu diungkapkan Rizal Ramli dalam tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Rabu (10/7/2019) malam.
“Walaupun saya oposisi, kalau yang penting-penting banget saya WA langsung dengan Pak Jokowi, sampai tahun lalu,” ungkap pria yang akrab disapa RR ini, di depan jurnalis senior Karni Ilyas.
Saat itu, kata RR, ia menemukan fakta ada salah satu menteri yang dilobi oleh pengusaha supaya batu bara diekspor semua.
Karena, kata RR, harga batu bara di luar saat itu jauh lebih tinggi ketimbang harga jual di dalam negeri.
Baca: Puncak Hari Anak Nasional di Makassar Bakal Dihadiri Presiden Jokowi
Baca: Terungkap Sebab Rizieq Shihab Gagal Pulang ke Indonesia, Bukan Gegara Jokowi, Harus Dipenjara Dahulu
Baca: PBNU Siap Sodorkan Nama Calon Menteri ke Jokowi-Maruf, Said Aqil: Apa Saja, Tidak Hanya Agama
“Besoknya mau rapat kabinet, malamnya saya WA Pak Jokowi."
"Saya katakan, ini bahaya banget, kalau ini dilakukan pengusaha batu bara seneng banget, tapi PLN bangkrut dalam tiga bulan,” beber RR.
“Jadi kalau sudah membahayakan negara, itu posisi kami. Kami kasih inget di belakang layar, kalau enggak ya kita kritik-kritik lah biar positif,” ucap RR.
Dipecat Jadi Menko Maritim
Rizal Ramli sebelumnya pernah diangkat Jokowi sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.
Namun, belum genap setahun, posisinya digantikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan.
Baik saat menjadi menteri atau tidak, RR memang terkenal vokal dalam mengkritik setiap kebijakan pemerintah.
Baru-baru ini, RR angkat bicara soal kisah pengangkatannya di Kabinet Kerja Jokowi, hingga pemecatannya dari jabatan tersebut.
Kata Rizal Ramli, Presiden Jokowi sudah disandera kelompok yang memiliki kepentingan pribadi.
Pria yang akrab disapa RR itu hanya menjabat setahun di Kabinet Kerja Jokowi.
Baca: VIDEO: Muslim Salam Tanyakan Tugas Tambahan ke Sumardi
Baca: Lagi Viral, Video Sepasang Remaja di Taman Kali Ngrowo Tulungagung Beredar di WA, ini 4 Faktanya!
Baca: Jembatan Maruala - Soreang Belum Dibangun, Warga Tagih Janji Pemkab Barru
Rizal Ramli diangkat menjadi Menko Kemaritiman pada 12 Agustus 2015, dan diberhentikan pada 27 Juli 2016.
RR mengaku awalnya menolak permintaan Jokowi untuk masuk ke dalam kabinetnya.
“Juli 2015, @jokowi bujuk RR utk jadi Menko Maritim, RR menolak sampai 3x,” ungkap mantan Menteri Keuangan di era Gusdur ini lewat akun twitternya, Senin (8/7/2019), seperti diberitakan Wartakotalive.com sebelumnya.
Namun, kata pria kelahiran Padang ini, Jokowi memiliki alasan kuat untuk menaruh Rizal Ramli di jabatan tersebut.
“Baru ketika JKW katakan Yang minta ini tidak hanya Pres Jkw, yang minta tolong ini rakyat yang ingin hidup lebih baik. Baru RR menerima,” jelasnya.
Meski demikian, lanjut RR, akhirnya dirinya diberhentikan jelang setahun menjabat.
Pengamat kkonomi itu pun memahami betul latar belakang dari pemberhentiannya.
“Ketika RR dihentikan, yang minta bukan rakyat, tapi vested-interest,” cetus Rizal Ramli.
Namun, aku Rizal Ramli, ia justru merasa senang ketika diberhentikan dalam kabinet kerja.
Sebab, ia mengetahui pemberhentiannya di Kabinet Kerja Jokowi bukan karena kinerjanya, melainkan karena kelompok kepentingan tertentu.
“Hanya sedih, @jokowi sudah disandera oleh kelompok vested-interest, tinggalkan Trisakti."
"Contoh paling nyata, Mentri Perdagangan yg sangat rugikan petani. Apakah Jkw bisa kembali mandiri, nobody know?” paparnya.
Baca: 2 Cewek Cantik Terciduk Jongkok depan Kos-kosan, Malah Tertawa saat Tahu Terekam CCTV, Ngapain?
Baca: Desa Panaikang Jaring Aspirasi Warganya dalam Musyawarah Desa RKPDes
Baca: Pj Wali Kota Silaturahmi, KCU Taspen Makassar Siap Bantu Pemkot
Sebelumnya, Rizal Ramli meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya mencapai 4,5 persen.
Sebab, ia meyakini penerimaan pajak Indonesia akan merosot di tahun 2020.
Hal itu diungkapkan Rizal Ramli dalam tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Rabu (10/7/2019) malam.
“Ekonomi nyungsep, kesejahteraan payah, dan ini masih akan berlanjut dalam waktu dekat,” kata Menteri Keuangan di era Gus Dur itu.
"Karena tahun ini menurut kami ekonomi akan di bawah 5 persen, kemungkinan 4,5 persen,” sambungnya.
Sebab, katanya, penerimaan pajak akan merosot, sehingga pilihan satu-satunya ialah mengutang dengan bunga tinggi.
“Indonesia kalau pinjam selalu dua persen, satu persen lebih mahal dari negara yang peringkatnya di bawah kita. Harusnya kita lebih murah,” ungkap pria yang akrab disapa RR itu.
“Maka saya katakan Menteri Keuangannya Menteri Keuangan Terbalik, terbaik untuk kreditor dan terbalik untuk negara,” sindirnya.
Tentunya, kata RR, kreditor di awal senang Indonesia selalu meminjam uang dan membayar pinjaman dengan lancar.
“Saya sebagai bankir seneng banget, tapi begitu makin gede dia makin khawatir,” ucap RR.
Jika hal itu terjadi, kata RR, maka Indonesia tidak belajar dari krisis ekonomi tahun 1998, di mana utang Indonesia terhadap swasta melebihi batas.
“Akhirnya ngemis sama IMF pinjam 25 miliar dolar. IMF syaratnya satu oke, tapi naikin BBM 74 persen. Dinaikin Pak Harto 1 Mei, dan apa yang terjadi? Kita tahu lah sejarahnya,” beber RR.
Maka dari itu, lanjut RR, masalah ekonomi harus menjadi perhatian yang serius dalam pemerintahan Jokowi yang akan datang.
Dikutip dari Kompas.com, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2019 sebesar 389,3 miliar dolar AS.
Atau, sekitar Rp 5.528 triliun (kurs Rp 14.200 per dolar AS).
ULN ini tumbuh lebih tinggi dibanding Maret 2019.
ULN tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 189,7 miliar dolar AS, dan utang swasta termasuk BUMN sebesar 199,6 miliar dolar AS.
BI menjelaskan, meningkatnya posisi ULN dibanding bulan sebelumnya, dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN.
Juga, pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.
"ULN Indonesia pada akhir April 2019 sebesar 389,3 miliar dolar AS ini tumbuh 8,7 persen (yoy)."
"Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2019 sebesar 7,9 persen (yoy)."
"Peningkatan pertumbuhan ULN pemerintah melambat di tengah peningkatan ULN yang bersumber dari sektor swasta," sebut BI dalam siaran pers, Senin (17/6/2019).
Baca: Pansus Hak Angket Bakal Konfortir Jumras, Sumardi, Agung Sucipto dan Ferry T
Baca: Salahkan Wagub, Hayat Disebut Tak Paham Administrasi Pemerintahan di Pemprov Sulsel
Baca: Buruh Pasar Sabbang di Luwu Utara Demo Minta Pemkab Bayarkan Gajinya
Meski ULN Indonesia meningkat mencapai 8,7 persen (yoy) dibanding Maret 2019, BI mengklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat.
Kondisi itu tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2019 sebesar 36,5 persen.
Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,2 persen dari total ULN.
"Dengan perkembangan tersebut, meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan, masih terkendali dengan struktur yang tetap sehat," jelas BI. (*)
Follow akun instagram Tribun Timur:
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul TERUNGKAP! Meski Oposisi, Ternyata Diam-diam Rizal Ramli Sering Kirim Pesan WhatsApp ke Jokowi, https://wartakota.tribunnews.com/2019/07/10/terungkap-meski-oposisi-ternyata-diam-diam-rizal-ramli-sering-kirim-pesan-whatsapp-ke-jokowi?page=all.
Penulis: Desy Selviany
Editor: Yaspen Martinus