Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - PSM dan Budaya Sulsel

Bagi PSM, kemenangan bukan sekadar perihal 3 poin semata melainkan juga perihal falsafah perjuangan dan harga diri..

Editor: Aldy
tribun timur
Pecinta PSM asal Kabupaten Rembang Jawa Tengah 

Tradisi dan karakter bermain yang merupakan manifestasi dari falsafah dan nilai-nilai sosio-kultural masyarakat setempat yakni masyarakat Sulawesi Selatan dan Kota Makassar secara khususnya.

Baca: Polres Mamasa Siapkan 259 Personel Amankan Pilkades Serentak

Surabaya, Jakarta, Malang dan Bandung boleh saja memiliki Bonek, The Jak, Aremania, Bobotoh. Supporter dengan militansi dan fanatisme yang massif.

Bali boleh saja berbangga hati karena klub kebanggaan mereka Bali United menjadi klub Asia kedua (setelah Guangzhou Evergrande) yang melantai di pasar saham.

Sleman bisa berbangga hati karena memiliki suporter super kreatif bernama BCS yang mampu membuat Sleman mendapatkan julukan ‘kabupaten Italy’.

Namun hanya di Makassar-lah kita akan menemukan entitas relasi yang kental antara budaya dan sepak bola yang tidak bisa dijumpai di kota-kota lainnya di Indonesia.

Di Makassar, falsafah dan nilai-nilai kearifan lokal setempat seperti, siri’ na pacce, paentengi siri’ nu, punna tena siri’ nu paccemu mo, hingga ewako dapat mengejawantah menjadi spirit holistik dan ciri khas klub yang mengakar kuat secara turun temurun.

Nilai-nilai tersebut kemudian diimplementasikan secara praksis oleh supporter dalam memberikan dukungan dari pinggir lapangan, spirit dan gaya permainan pemain di lapangan, hingga pengelolaan klub oleh manajemen yang kesemuanya tidak lepas dari spirit nilai-nilai kearifan lokal setempat.

Maka tak heran ketika ramai pengusutan mafia bola beberapa waktu lalu.

Para wasit sepak bola nasional yang disidik oleh polisi maupun dari pengakuan wasit-wasit lainnya yang angkat bicara mengatakan bahwa PSM Makassar adalah klub yang paling pelit kepada wasit (tidak menyuap) bahkan sangat galak kepada wasit yang meminta ‘insentif’.

Baca: 18.118 Warga Bulukumba Terima Kartu Keluarga Sejahtera, Bisa Dipakai Beli Telur dan Beras

Hal itu dapat terjadi karena nilai dan budaya siri' (malu) yang merupakan nilai sosio-kultural masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan masih dipegang teguh oleh klub PSM.

Bagi PSM, kemenangan bukan sekadar perihal 3 poin semata melainkan juga perihal falsafah perjuangan dan harga diri yang mendapat proporsi sakral dalam spirit klub.

PSM di era kepemimpinan Munafri Ariffudin saat ini nampak mampu menjaga marwah itu.

Di era sepak bola modern memang perlu nilai-nilai progresif seperti: pengelolaan klub, profesionalitas, aspek bisnis, relasi.

Namun di satu sisi juga harus ada nilai-nilai konservatif 'saklek' yang menjadi nyawa dan identitas klub yaitu: budaya dan ciri khas.

R.N. Bayu Aji dalam bukunya Mewarisi Sepak Bola, Budaya, dan Kebangsaan Indonesia menegaskan bahwa sepak bola bukanlah sekadar olahaga namun meliputi dimensi sosial yang lebih luas sebagai: alat pemersatu, semangat daerah (budaya), jati diri dan candu (eskpresi rasa cinta).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved