CITIZEN REPORT

Menengok Belanda yang Bolehkan Narkotika dan Lokalisasi Prostitusi Jadi Obyek Wisata

Di rumah-rumah bordil di sana, pengunjung bisa leluasa melihat etalase dengan perempuan nyaris telanjang menjadi pajangan.

Menengok Belanda yang Bolehkan Narkotika dan Lokalisasi Prostitusi Jadi Obyek Wisata
Fokumentasi Rara Balasong
Rara Balasong dan rekan saat menyusuri Amsterdam, Belanda, dari kanal beberapa waktu lalu. 

Menengok Belanda yang Bolehkan Narkotika dan Lokalisasi Prostitusi Jadi Obyek Wisata

Rara Balasong
Warga Asal Sulawesi Selatan
Melaporkan dari Amsterdam

NEGARA tanpa narkotika dan prostitusi adalah suatu yang tidak mungkin. Menolerir penggunaan narkotika dan prostitusi oleh negara Belanda dianggap lebih realistis untuk menekan tingkat kriminalitas dan mewujudkan masyarakat yang lebih aman.

Kenyataannya kerugian akibat penggunaan narkotika memang menurun.

Penggunaan narkotika menurut golongannya terbagi dua: obat (narkotika) ringan seperti hasis, ganja dan pil penenang dalam dosis tertentu ditolerir oleh Pemerintah Belanda.

Sedang penggunaan obat-obat keras seperti heroin, kokain, amfetamin, diatur menurut undang-undang setempat.

Kita kembali pada toleransi terhadap obat-obatan ringan yang dijual bebas di Belanda.

Pemakaiannya untuk rekreasi dan kesenangan dibatasi hingga 5 gram. Dijual di kedai kopi khusus bernama Coffeeshop yang biasanya ditandai dengan bendera warna-warni.

Ganja dan hasis biasanya dijual seharga antara 5-12 € tergantung kadar campurannya.

Walau dilegalisasi pemakaiannya, budidaya ganja dan tumbuhan dasar narkotika ringan tidak diperbolehkan. Hal yang cukup kontroversi.

Mahasiswa Unhas Sukses Diversivikasi Biji Kakao, Jadi Kosmetik Lip Balm

None Jenguk Ilham Arief Sirajuddin di Lapas, Apa yang Dibahas?

Halaman
123
Penulis: CitizenReporter
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved