OPINI

Saat Pemilu

Tidak sedikit yang kita anggap pantas dan kita yakini mampu meraih suara maksimal untuk duduk di parlemen ternyata malah tidak memiliki peluang

Saat Pemilu
Dok
Faisal M Alulu, Aktivis KNPI Kota Makassar 

Oleh: Faisal M Alulu
Aktivis KNPI Kota Makassar

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 baru saja kita semua melewatinya seluruh rakyat Indonesia telah menyalurkan pilihannya dalam bilik suara di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing. Tentunya terpatri harapan yang besar kepada orang-orang yang telah dipilih untuk membawa bangsa, negara dan daerah masing masing menjadi lebih baik di tangan orang-orang pilihan yang nantinya duduk kursi dewan perwakilan rakyat di semua tingkatan, mulai dari kota hingga ke DPR/DPD pusat.

Dalam tulisan ini saya tidak menyinggung soal pilpres karena itu sangat sensitif. Tapi saya berharap siapapun yang terpilih menjadi pemimpin di negeri ini, mari kita sama-sama menghormati keputusan itu karena itu adalah suara kedaulatan rakyat Indonesia mayoritas telah memilihnya menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sebagai anak muda bangsa yang kita cintai ini mari sambut pemimpin kita dengan penuh suka cita.

Kembali kepada inti yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini tentang hasil Pemilu Legislatif yang juga telah kita lewati bersama, sebagai bagian anak muda Kota Makassar, tentu kita punya harapan besar terhadap orang-orang yang telah kita pilih untuk duduk menjadi wakil kita. Paling tidak mereka akan menjadi corong suara kita di parlemen.

Setelah melewati tahapan pencoblosan dan penghitungan suara di TPS, sudah ada gambaran siapa yang memiliki peluang menjadi wakil kita di parlemen. Hasilnya cukup mengagetkan. Kenapa?

Karena di luar dugaan tidak sedikit orang yang kita anggap pantas dan kita yakini mampu meraih suara maksimal untuk duduk di parlemen ternyata malah tidak memiliki peluang dikarenakan banyak hal. Salah satu isu yang saya dengar mereka kalah karena tidak ‘menyiram’.

Kata ini sungguh membuat saya menjadi bertanya apa itu ‘menyiram’? Memangnya mereka (para caleg) itu petugas pertamanan sehingga harus menyiram tanamannya atau mereka itu petugas pemadam yang harus menyiram karena jika tidak, suaranya akan habis terbakar sehingga yang menyiram itu suaranya masih harum ‘terdengar’ dan terbaca di tempat rekapan.

Setelah saya mencari tahu lebih dalam dari beberapa teman, katanya ‘menyiram’ itu adalah serangan fajar alias money politik. Entahlah apa itu benar atau tidak, saya juga kurang faham tapi pada kenyataannya adalah seperti demikian adanya.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa masyarakat lebih memilih itu daripada memilih orang-orang yang benar-benar mumpuni secara kapasitas dan keilmuan untuk menjadi wakil mereka di Gedung Dewan yang terhormat daripada hanya menaruhkan impian kepada orang yang hanya memiliki isi tas untuk menjadi wakil mereka? Meski diakui tidak semua masyarakat seperti itu.

Dari cerita di atas tentu akan melahirkan pertanyaan baru siapa yang salah dalam menanggapi perilaku pemilih yang seperti itu. Apakah partai politik tidak berhasil melakukan pendidikan politik kepada masyarakat atau masyarakat yang tidak lagi percaya kepada partai politik?
Atau bahkan mungkin ini sudah menjadi titik jenuh masyarakat atas aspirasi mereka yang selama ini tidak tersalurkan melalui parlemen sehingga menimbulkan sikap apatis dengan membiarkan orang-orang memiliki ‘tas berisi’ daripada orang yang memiliki kapasitas dan keilmuan yang mumpuni untuk menjadi wakil mereka?

Mari kita sama-sama renungkan apapun hasil yang dicapai dalam pemiliu tahun ini, tentu kita sangat berharap bahwa siapapun mereka, bagaimanapun cara/metode yang mereka lakukan untuk terpilih bisa menjadi anggota parlemen, bisa membawa aspirasi dan mewujudkan harapan dan impian masyarakat secara utuh, baik yang memilih maupun tidak memilih mereka.

Sebab mereka adalah produk UU yang telah dipilih secara langsung oleh seluruh warga Indonesia sehingga mereka wajib untuk mengayomi semuanya. Bukan terbatas kepada pemilihnya saja. Wallahu a'lam bissawab.

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Sabtu (04/05/2019)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved