Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Refleksi Silaturahmi Kebangsaan

M Quraisy Mathar: Ikuti Telunjuk JK

Seluruh ruangan bertepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi cara Pak JK mendidik kita untuk bukan hanya bisa menerima kemenangan,

Editor: Thamzil Thahir
dok_tribun-timur/facebook
M Quraisy Mathar, dosen UIN Alauddin Makassar 

Refleksi Silaturahmi Kebangsaan
Oleh: Muh. Quraisy Mathar
Dosen UIN Alauddin

AWAL tahun 2010, saya menghadiri acara peresmian gedung Wisma Kalla, Makassar.

Gedung yang oleh sebagian orang saat itu dianggap sebagai gedung Pak JK untuk mengisi masa pensiun, selepas “kalah” dalam pilpres 2019 saat berpasangan dengan Wiranto.

Saat itu seluruh ruangan sepakat sepakat mengiyakan ketika Rosina Silalahi yang menjadi moderator acara menyebut Pak JK sebagai “the real President”.

Bahkan menurutku, bukan hanya tetamu di forum tersebut, hampir seluruh masyarakat di negeri ini juga akan sepakat dengan kalimat Rosi tersebut.

Semua orang sepakat bahwa tol Suramadu, beberapa bandara baru, penanganan sejumlah kasus kerusuhan, pasti JK ada di belakangnya.

Akhirnya semua orang pun sepakat saat itu, bahwa sejumlah urusan diinisiasi dan dikerjakan JK untuk selanjutnya diresmikan oleh SBY. Entahlah, apa ini hanya perasaan subjektif saya, atau memang seperti itulah realitasnya.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, juga meninggalkan Makassar, usai mengikuti kampanye akbar oleh Calon Presiden RI, Joko Widodo di lapangan Karebosi, Minggu (31/3/2019).
Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, juga meninggalkan Makassar, usai mengikuti kampanye akbar oleh Calon Presiden RI, Joko Widodo di lapangan Karebosi, Minggu (31/3/2019). (handover)

Tahun 2010 itu, JK berpidato di podium dan berkata “saya kalah bersama Wiranto, dan sekarang waktunya untuk saya menghormati, mematuhi, dan mendukung Pak SBY-Budiono sebagai pasangan yang menang”.

Seluruh ruangan bertepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi cara Pak JK mendidik kita untuk bukan hanya bisa menerima kemenangan, namun juga selalu tegar untuk menerima kekalahan.

Begitulah Pak JK yang melalui sejumlah catatan yang telah dibukukannya tersemat akronim “Jalan Keluar” di balik ke-JK-annya. Tahun 2014, beliau kembali percaturan politik pilpres, dan berpasangan dengan Jokowi, Pak JK terpilih kembali sebagai Wakil Presiden untuk kedua kalinya.

Sebagian orang di SulSel saat itu berkata “saya pilih JK, bukan Jokowi”, persis seperti yang diucapkan orang SulSel pada tahun 2004 “saya pilih JK, bukan SBY”.

Orang SulSel pernah pula berkata “saya memilih JK-Wiranto”, sudah pasti karena JK, bukan karena Wiranto. Sayangnya, pasangan ini kalah, walau menang telak di SulSel. Jika demikian akronim JK di SulSel juga bisa berarti “jago kandang”. Silahkan menang di tempat lain, namun tidak di kandang sendiri, di kampung beliau, di SulSel.

JK sang fenomenal, saya bahkan bermimpi suatu saat bisa membuatkan film otobiografi beliau yang sudah kusiapkan judulnya “saudagar dari Timur”.

Kita dan anak-anak kita, tak boleh kehilangan sosok JK, sebab sekali lagi, beliau adalah “Juru Kunci” satu sesi peradaban nasional. JK juga menjadi “Jembatan Kawasan” Barat dan Timur negeri ini.

Hari ini, sekali lagi kusaksikan beliau berpidato dalam sesi silaturahmi kebangsaan bertepatan dengan kunjungan Presiden Jokowi ke SulSel.

Stamina beliau tentu tak sama dengan pidato di peresmian wisma Kalla beberapa tahun sebelumnya, namun cara pandang kebangsaan dan kepeduliannya terhadap alih generasi tetap sama. Pak JK tentu hadir sebagai “Juru Kampanye” sebab hal itu sangat jelas dalam sesi pidatonya.

Jusuf Kalla mendampingi Jokowi kampanye di Lapangan Karebosi Makassar Minggu (31/3/2019)
Jusuf Kalla mendampingi Jokowi kampanye di Lapangan Karebosi Makassar Minggu (31/3/2019) (TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN)

Sembari memandanginya dari bawah panggung, saya menerawang, tahun 2004, 2009, 2014 kita memilih JK dengan hasil yang berbeda-beda, kini 2019 kita tentu tak bisa lagi untuk memilih JK, sebab JK tak ikut berkontestasi. Ah, saya sudah harus membalas beliau.

Jika pun JK tak lagi jadi pilihan, bukankah gerakan telunjuknya tetap bermakna dan dapat ditangkap oleh siapa saja. Jika saya telah menang dan kalah bersama JK, maka hari ini saya pasti masih akan ikut dengan telunjuk JK, jadi tidak usah ketawa atau marah, jika saya membuat akronim JK dengan “Jempol Kemenangan”.

Terima kasih Pak JK, kuikuti telunjukmu yang telah mengarahkanku, seperti kamu menggunakan telunjukmu untuk menyelesaikan segala urusan dan persoalan di negeri ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved