Refleksi Silaturahmi Kebangsaan
M Quraisy Mathar: Ikuti Telunjuk JK
Seluruh ruangan bertepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi cara Pak JK mendidik kita untuk bukan hanya bisa menerima kemenangan,
Refleksi Silaturahmi Kebangsaan
Oleh: Muh. Quraisy Mathar
Dosen UIN Alauddin
AWAL tahun 2010, saya menghadiri acara peresmian gedung Wisma Kalla, Makassar.
Gedung yang oleh sebagian orang saat itu dianggap sebagai gedung Pak JK untuk mengisi masa pensiun, selepas “kalah” dalam pilpres 2019 saat berpasangan dengan Wiranto.
Saat itu seluruh ruangan sepakat sepakat mengiyakan ketika Rosina Silalahi yang menjadi moderator acara menyebut Pak JK sebagai “the real President”.
Bahkan menurutku, bukan hanya tetamu di forum tersebut, hampir seluruh masyarakat di negeri ini juga akan sepakat dengan kalimat Rosi tersebut.
Semua orang sepakat bahwa tol Suramadu, beberapa bandara baru, penanganan sejumlah kasus kerusuhan, pasti JK ada di belakangnya.
Akhirnya semua orang pun sepakat saat itu, bahwa sejumlah urusan diinisiasi dan dikerjakan JK untuk selanjutnya diresmikan oleh SBY. Entahlah, apa ini hanya perasaan subjektif saya, atau memang seperti itulah realitasnya.
Tahun 2010 itu, JK berpidato di podium dan berkata “saya kalah bersama Wiranto, dan sekarang waktunya untuk saya menghormati, mematuhi, dan mendukung Pak SBY-Budiono sebagai pasangan yang menang”.
Seluruh ruangan bertepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi cara Pak JK mendidik kita untuk bukan hanya bisa menerima kemenangan, namun juga selalu tegar untuk menerima kekalahan.
Begitulah Pak JK yang melalui sejumlah catatan yang telah dibukukannya tersemat akronim “Jalan Keluar” di balik ke-JK-annya. Tahun 2014, beliau kembali percaturan politik pilpres, dan berpasangan dengan Jokowi, Pak JK terpilih kembali sebagai Wakil Presiden untuk kedua kalinya.
Sebagian orang di SulSel saat itu berkata “saya pilih JK, bukan Jokowi”, persis seperti yang diucapkan orang SulSel pada tahun 2004 “saya pilih JK, bukan SBY”.
Orang SulSel pernah pula berkata “saya memilih JK-Wiranto”, sudah pasti karena JK, bukan karena Wiranto. Sayangnya, pasangan ini kalah, walau menang telak di SulSel. Jika demikian akronim JK di SulSel juga bisa berarti “jago kandang”. Silahkan menang di tempat lain, namun tidak di kandang sendiri, di kampung beliau, di SulSel.
JK sang fenomenal, saya bahkan bermimpi suatu saat bisa membuatkan film otobiografi beliau yang sudah kusiapkan judulnya “saudagar dari Timur”.
Kita dan anak-anak kita, tak boleh kehilangan sosok JK, sebab sekali lagi, beliau adalah “Juru Kunci” satu sesi peradaban nasional. JK juga menjadi “Jembatan Kawasan” Barat dan Timur negeri ini.
Hari ini, sekali lagi kusaksikan beliau berpidato dalam sesi silaturahmi kebangsaan bertepatan dengan kunjungan Presiden Jokowi ke SulSel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/m-quraisy-mathar.jpg)