Begini Awal Tercetusnya Festival Sungai Mandar
Berdasarkan data di website Polman.go.id, terdapat enam DAS di daerah ini. Diantaranya Sungai Maloso, Matakali
Penulis: edyatma jawi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, POLMAN -- Sungai Mandar merupakan warisan sejarah dan budaya di Tanah Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).
Sungai Mandar menjadi salah satu daerah aliran sungai (DAS) terbesar di daerah ini.
Hulu sungai ini berada di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Sungai ini membentang hingga Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Melintasi Kecamatan Alu, Limboro dan bermuara di Kecamatan Tinambung.
Berdasarkan data di website Polman.go.id, terdapat enam DAS di daerah ini. Diantaranya Sungai Maloso, Matakali, Binuang, Silopo, Timbo dan Sungai Mandar.
Sungai Maloso merupakan yang terbesar dengan luas 99.299,51 hektar. Sementara Sungai Mandar merupakan yang terbesar kedua dengan luas 48.034,74 hektar.
Sungai Mandar sarat nilai historis. Salah satunya, penanaman Mandar yang kelak menjadi identitas kedaerahan dan kesukuan memiliki benang merah dengan sungai ini.
Beberapa tahun belakangan, kondisi sungai ini nampak memprihatinkan. Erosi dan sampah jadi pemicunya.
Masalah itu yang menjadi beban pikiran bagi pemuda setempat M Rahmat Muchtar dan Muhammad Ishaq. Sampah yang jadi titik fokus mereka saat itu.
Awalnya masalah sampah jadi perbincangan hangat di ruang diskusi kecil di Kecamatan Tinambung.
Rahmat Muchtar sebagai perintis Uwake Culture Foundation dan Muhammad Ishaq dari Sanggar Sureq Bolong lalu mengajak pemuda lainnya membincang persoalan tersebut.
"Baru kita mempunyai kepedulian untuk membuat suatu even kampanye gerakan," ungkap Rahmat, Rabu (20/3/2019).
Lalu muncullah gagasan untuk membuat Festival Sungai Mandar (FSM). FSM tahun pertama digelar di Kecamatan-kecamatan Tinambung, 11 Maret 2014.
Festival yang digagas berupa wahana edukasi. Didalamnya dikemas sekolah dan seminar tentang lingkungan sungai. Termasuk berbagai acara kesenian dan budaya yang bertemakan lingkungan.
Konsep festival dinilai lebih efektif sebagai media kampanye lingkungan. Sebab didalamnya dikemas berbagai even menarik. Terutama kesenian tradisional.
Kesenian ini menjadi agenda unggulan untuk menggaet partisipasi masyarakat. Terutama komunikasi dan penggiat seni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dsungae.jpg)