Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Baju Bodo, Baju Adat Sulawesi Selatan Dulunya Bernama Waju Tokko

Di kalangan Bugis, kata tokko disebut-sebut berasal dari kata “ri tokko” (diberi kanji).

Tayang:
Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Ina Maharani
St Hamdana/tribunwajo.com
Andi Marfina Amal dan baju bodo kreasinya 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Setiap daerah memiliki baju adatnya masing-masing.

Pakaian Adat adalah pakaian yang memiliki cirikhas tertentu yang dijadikan identitas dari sebuah daerah.

Di Indonesia hampir setiap wilayah tertentu memiliki pakaian adat yang menjadi identitas masyarakatnya. Termasuk Sulawesi Selatan (Sulsel).

Baju adat Sulsel diberi nama Baju Bodo atau Tokko.

Dilansir dari telukbone.id Baju Bodo merupakan busana dengan potongan simetris sederhana, dengan efek menggelembung dan longgar, berasal dari etnis Sulsel.

Dalam Festival Busana Nusantara 2007 di Kuta-Bali, perancang busana kenamaan Oscar Lawalata menegaskan “Baju bodo itu adalah salah satu baju tertua di dunia. Dan dunia internasional belum mengetahuinya,”.

Baju Bodo sudah dikenal masyarakat Sulawesi Selatan pada pertengahan abad ke-9, hal ini diperkuat dari sejarah kain Muslin, kain yang digunakan sebagai bahan dasar baju bodo itu sendiri.

Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun.

Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang menjadikan kain Muslin ini sangat cocok untuk daerah tropis dan daerah beriklim kering seperti halnya wilayah Sulawesi Selatan.

Kain Muslin (Eropa) atau Maisolos (Yunani Kuno), Masalia (India Timur) dan Ruhm (Arab), tercatat pertama kali dibuat dan diperdagangkan di kota Dhaka, Bangladesh, hal ini merujuk pada catatan seoraang pedagang Arab bernama Sulaiman pada Abad ke-9.

Sementara Marco Polo pada tahun 1298 Masehi dalam bukunya “The Travel of Marco Polo” menggambarkan kain muslin itu dibuat di Mosul, (Irak) dan dijual oleh pedagang yang disebut “Musolini”.

Uniknya, masyarakat Sulawesi Selatan lebih dulu mengenal dan mengenakan jenis kain ini dibanding masyarakat Eropa, yang baru mengenalnya pada abad ke-17 dan baru popular di Perancis pada abad ke-18.

Dalam perkembangan berikutnya, kain Muslin juga digunakan untuk kain kasa/perban dalam dunia kedokteran, bahan layar dalam dunia pelayaran, juga dipergunakan dalam dunia pertunjukan, sinematografi, fotografi sebagai latar atau alat bantu penimbul efek cahaya.

Di daratan Eropa, kain muslin juga dipakai sebagai lapisan kain selimut serta lapisan gaun para bangsawan Eropa.

Mengapa Disebut Waju Tokko?

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved