Ini Motivasi Agus Anwar Moka, Putra Asli Jeneponto Maju Jadi Caleg DPR RI
Agus Anwar Moka, Caleg DPR RI yang juga pendiri STIE dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) YAPTI.
Penulis: Ikbal Nurkarim | Editor: Suryana Anas
TRIBUNJENEPONTO.COM, BINAMU - Panggilan hati nurani, keprihatinan dan kepedulian atas lambannya pembangunan di Kabupaten jeneponto membuat Agus Anwar Moka terjun ke dunia politik.
Menurut putra asli Jeneponto ini, ada fenomena yang memprihatinkan dalam kurun waktu panjang karena selama ini Kabupaten jeneponto tercatat sebagai penyumbang suara besar dalam kancah pemililah legislatif, namun sama sekali belum pernah menempatkan wakil putra asli daerahnya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Coba bayangkan, saat ini Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk jeneponto ada 226 ribu, namun sama sekali tak punya wakil di pusat," kata Agus Anwar Moka, Kamis (28/2/2019).
Baca: Langkah-langkah Pendaftaran UTBK SBMPTN 2019, Ingat Siswa Hanya Bisa Ikut 2 Kali, Cek Jadwal di Sini
Baca: Sudah Tayang di Bioskop, 5 Fakta Film Dilan 1991, Iqbal Ramadhan Jalani Diet dan Cerita Ridwan Kamil
Baca: Cetak 6 Gol, Eero Markkanen Jawab Keraguan Suporter PSM Makassar! Siap Main di Piala Presiden 2019
Sekilas, menurut pria yang akrab disapa Moka ini, persoalaan tersebut terlihat sederhana, namun bila ditelaah lebih jauh sangat memiliki urgensi yang besar karena kerekatan emosional antara putra daerah dan yang bukan putra daerah sangat berbeda.
Selama berpuluh-puluh tahun, kata Moka, pemilih Jeneponto menjadi penyumbang suara besar untuk menempatkan wakil legislatifnya, namun ekonomi Jeneponto bisa dikatakan hanya berjalan di tempat.
"Untuk mengubah itu, mau tak mau, Jeneponto harus punya wakil putra daerah di DPR agar trasformasi dan gerak pembangunan bisa dipercepat. Ini hanya bisa dilakukan ketika Jeneponto punya wakil yang memiliki kedekatan emosional kuat dengan kampungnya," tandasnya.
Gayung bersambut, partai Gerindra yang dinilai punya visi-misi kuat dalam membangun daerah dan menempatkan putra-putra daerah mengajak Moka bergabung dan menempatkan dirinya sebagai Calon Legislatif Partai Gerindra di Dapil 1 yang meliputi wilayah Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar.
Moka menambahkan, banyak persoalan yang selama ini terabaikan dari pembangunan, khususnya di Jeneponto karena paradigma anggota dewan pusat yang menjadi wakil di Jeneponto sama sekali tidak memahami karakter permasalahan.
Perputaran ekonomi yang terbangun demikian lamban dan hanya sekadar pemenuhan proyek semata. Padahal potensi Jeneponto tidak sedikit.
"Misalnya pabrik batu bata. Selama ini Jeneponto menjadi penyumbang pembangunan infrastruktur yang memggunakan batu bata mulai dari Makassar, Gowa hingga Maros. Namun teknologi pengeringan sama sekali belum terbangun. Cara pengeringan masih sangat manual dan cenderung merusak alam karena terjadi pambabatan hutan untuk lokasi pengeringan. Padahal Jepang sudah memiliki teknologi tersebut. Mengapa kita tidak memanfaatkannya," jelasnya.
"Demikian juga jagung yang menjadi komoditas andalan Jeneponto, selama ini hanya dijadikan makanan jajanan tanpa ada sentuhan nilai tambah yang spesifik dan langsung menyentuh perputaran ekonomi rakyat di Jeneponto. Demikian pula dengan pendidikan yang nyaris tak berkembang di Jeneponto," tuturnya.
Hal tersubut membuat Alumni Teknik Universitas Muslim Indonesia ini pulang kampung dan membangun kampus di Jeneponto.
Moka merupakan pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) YAPTI.
Moka menjelaskan, karena tak ada putra asli daerah di DPR pusat, maka pemerintah daerah sangat kewalahan dalam memperjuangkan rencana pembangunan daerahnya di Jakarta.
“Tidak ada link yang kuat dan tak ada wakil rakyat yang benar-benar peduli akan Jeneponto sehingga terkadang alokasi anggaran dialihkan ke daerah lain. Ini yang terjadi”, tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/agus-anwar-moka_20180327_142108.jpg)