Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

CITIZEN REPORTER

Arkeolog Makassar Temukan Kuburan Manusia Prasejarah di Mallawa

Sementara ini hasil ekskavasi cukup mencengangkan. Mereka menemukan perkuburan manusia prasejarah di Leang Tete Hatu, Desa Batu Putih.

Penulis: CitizenReporter | Editor: Anita Kusuma Wardana
HANDOVER
Arkeolog Makassar Temukan Kuburan Manusia Prasejarah di Mallawa 

Taufiq Ismail

PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Melaporkan dari Maros

TRIBUN-TIMUR.COM-Balai Arkeologi Sulawesi Selatan kembali meneliti situs prasejarah di Kecamatan Mallawa, Maros. Kali ini mereka meneliti beberapa gua, yakni Leang Tete Hatu, Leang Uttangnge, Leang Lappa Boneang, Leang Pacongeng, serta situs terbuka Bukit Ta’corong.

Penelitian ini telah berlangsung sejak tanggal 17 Oktober lalu dan rencananya berlangsung selama sebulan. Penggalian sistematis (ekskavasi) dan survei terus mereka lakukan di wilayah yang berbatasan dengan Bone ini.

Sementara ini hasil ekskavasi cukup mencengangkan. Mereka menemukan perkuburan manusia prasejarah di Leang Tete Hatu, Desa Batu Putih. Leang berarti gua dalam bahasa Makassar.

“Sepertinya berasal dari kebudayaan Austronesia. Tembikar ukir dan berslip merah adalah salah satu penanda tinggalannya,” tutur Dr. Hasanuddin selaku ketua tim peneliti.

Temuan perkuburan tak seperti kuburan saat ini.

Arkeolog Makassar Temukan Kuburan Manusia Prasejarah di Mallawa
Arkeolog Makassar Temukan Kuburan Manusia Prasejarah di Mallawa (HANDOVER)

“Ini adalah perkuburan sekunder. Kami menemukan sejumlah bukti berupa pecahan tembikar, serpihan tulang dan gigi manusia. Kami menjumpai pecahan tembikar yang begitu melimpah di gua alam ini,” tambah Hasan, sapaan akrab peneliti senior ini.

Anggota tim lain pun angkat bicara soal temuan bagian anggota tubuh manusia penutur Austronesia di Leang Tete Hatue.

“Ada tiga kelompok usia di sana. Usia di bawah 6 tahun, usia antara 16-20 tahun, dan usia berkisar antara 20-24 tahun. Analisis ini berdasarkan tingkat penggunaan gigi dan pertumbuhan gigi," pungkas Andi Muh. Saiful, staf Peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Selatan yang berfokus meneliti bidang Zooarkeologi.

"Hanya saja sampai saat ini kami belum bisa menentukan jenis kelaminnya,” tambahnya.

Pecahan tembikar berserahan di permukaan gua. Jumlahnya melimpah
Pecahan tembikar berserahan di permukaan gua. Jumlahnya melimpah (HANDOVER)

Penelitian yang berlangsung di beberapa desa di Mallawa ini berfokus menelisik hubungan dua kebudayaan : Toala dan Austronesia.

Toala adalah penduduk asli yang hidup antara tahun 8.000 sampai dengan 3.000 tahun yang lalu. Bagaimana dengan Austronesia? Kelompok manusia ini menjadi pendatang di tanah Sulawesi, mereka terdeteksi menetap pada kisaran 4.000 sampai dengan 2.000 tahun yang lalu.

“Diperkirakan bahwa sebelum para migran Austronesia menghuni wilayah Mallawa ini, sebelumnya telah ada manusia yang bermukim dan selanjutnya melakukan kontak budaya. Orang Toala yang merupakan penduduk lokal telah menghuni beberapa gua di kawasan karst Maros termasuk pula di Mallawa sebelum kedatangan para migran Austronesia. Bukti akan hal itu ditemukan budaya artefak batu di dalam gua dan lukisan berwarna merah. Untuk melihat hubungan kedua kami mencari jejaknya berupa peninggalan benda yang mereka gunakan yang menandai zamannya,” ujar Hasanuddin.

Pecahan tembikar bermotif dan berslip merah di Leang Tete Hatu
Pecahan tembikar bermotif dan berslip merah di Leang Tete Hatu (HANDOVER)

Tak hanya melakukan penggalian, tim peneliti arkeologi ini juga melakukan sejumlah survei. Mencari situs baru di wilayah Kecamatan Mallawa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved