Dosen UIN Ungkap Kendala Salat Gaib untuk Korban Bencana Palu

Ia pun mengungkapkan, peristiwa Kota Palu sudah banyak contohnya dalam sejarah dan ayat-ayat dalam Alquran.

Dosen UIN Ungkap Kendala Salat Gaib untuk Korban Bencana Palu
handover
Detasemen C Pelopor Sat Brimob Polda Sulsel yang bermarkas di Kota Watampone, Bone, Sulsel menggelar salat gaib dan zikir untuk korban bencana gempa di Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasim Arfah

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Ilham Hamid SAg MAg MPd mengakui ada kendala dalam salat Jenazah atau Gaib untuk korban tertelan bumi di Kota Palu.

Itu karena warga Kota Palu yang tertimbun tidak diketahui apakah dia muslim atau non muslim.

"Mengucap Innalillahi boleh tapi tetap tidak boleh didoakan sebab dia kafir atau musyrik. Hanya masalahnya bagaimana kita bisa tahu, dia muslim atau non muslim?" kata mantan Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Makassar ini, Kamis (11/10/2018).

Ia pun mengatakan dalam tata cara Salat Gaib harus melihat konteksnya.

"Sama saja dengan doa shalat jenazah biasa hanya yang membedakan kalau mayat laki-laki biasa dengan akhiran hu, seperti Allohummaghfirlahu, mayat perempuan dengan akhiran ha dan secara umum yang jamak itu dengan akhiran hum," katanya.

Ia pun mengungkapkan, peristiwa Kota Palu sudah banyak contohnya dalam sejarah dan ayat-ayat dalam Alquran.

"Banyak sekali dalam Alquran perumpamaan yang Allah beri gambaran. Ada kaum Saba' Kaum Luth, Kaum Ad' kaum Tsamud, umat Nabi Nuh dll," katanya.

Penulis: Muh. Hasim Arfah
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved