Gempa Bumi Palu
Cerita Mahasiswa Jeneponto Saat Tsunami Palu: Bertahan Hidup Dengan Makan Daun
Saat gempa terjadi, Jumat pekan lalu, Surya Gandi sedang berada di dalam bangunan lantai dua rumahnya.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNJENEPONTO.COM, KELARA - Surya Gandi (23), mahasiswa asal Jeneponto Sulawesi Selatan, yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) Palu, menjadi saksi hidup betapa dasyatnya gempa 7,4 magnitudo yang disertai tsunami menerjang kota Palu.
Seperti diungkapkan Surya Gandi (23), saat ditemui di rumah kerabatnya di Kampung Tolo, Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara, Jeneponto, Jumat (5/10/2018)
Saat gempa terjadi, Jumat pekan lalu, Surya Gandi sedang di lantai dua rumahnya.
Rumahnya tidak jauh dari bibir pantai Talise, hanya berkisar 50 meter dari bibir pantai.
"Waktu gempa saya masih di dalam rumah sendiri main game, tidak lama saya mulaimi dengar suara air, jadi saya lari keluar rumah. Setelah di luar rumah, saya lihat air sudah mulai tinggi dari arah laut jadi saya lari ke arah gunung," kata Surya Gandi.
Menurut Gandi, warga yang panik berlarian ke arah dataran tinggi atau perbukitan.
"Saya lari ke gunung dari jam enam sampai jam 11 malam baru tiba di kaki gunung, dalam keadaan gelap itu waktu" ujarnya.
Kepanikan warga untuk menyelamatkan diri, menurut Surya Gandi, menyebabkan sejumlah orang juga terinjak-injak akibat desakan menuju arah dataran tinggi.
"Banyak juga anak-anak itu kasihan yang meninggal karena terinjak-injak, karena panikmiki semua baru itu waktu baru gelap. Karena semua orang yang berada di pesisir pantai itu lari semua ke gunung," ungkap mahasiswa semester tuju itu.
Saat perjalanan menuju gunung, Surya Gandi mengaku sempat melihat seorang ibu dan anaknya yang pinsang ditengah desakan orang yang panik.
"Sempat saya lihat anak-anak sama ibunya pinsang, jadi saya kasih bangun baru saya kasih naik di mobil, karen waktu itu banyak mobil yang berserakan ditinggal pemiliknya," ungkap Gandi
Setibanya di dataran tinggi atau di kaki pengunungan, ia mengaku kebingungan harus berbuat apa.
"Sampai di gunung itu saya tidak tahu mau kemana, mau bikin apa, karena gelap. Jadi kita bertahan, itu hanya makan daun, apa-apa saja yang bisa dimakan selama dua hari," ujarnya.
Dua hari di atas kaki gunung, ia pun mengaku memutuskan untuk kembali ke pesisir pantai.
Setibanya di pesisir pantai, Surya Gandi menyaksikan rumahnya yang sudah porak-poranda diterjang tsunami.
"Hancur rumah, mayat masih banyak itu waktu tergeletak di jalan-jalan. Jadi saya sempatji juga bantu-bantu relawan angkat mayat, karena masih kurang relawan waktu itu," tutur Surya Gandi.
Gempa dan tsunami yang melanda kota Palu dan sekitarnya telah menelan korban jiwa lebih 1000 orang.