Kapolri Tito Boyong Tiga Jenderal dari Jakarta ke Makassar, Ada Apa?

Tiba di Bandara, Kapolri Tito disambut Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono,Pangkosekhanudnas II Marsma TNI Andi Heru Wahyudi.

Kapolri Tito Boyong Tiga Jenderal dari Jakarta ke Makassar, Ada Apa?
HANDOVER
Kapolri Jenderal Moh. Tito Karnavian bersama tiga Jenderal polisi, tiba di Kota Makassar, Selasa (11/9/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri Lobubun

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama tiga Jenderal polisi, tiba di Kota Makassar, Selasa (11/9/2018) malam.

Tiga Jenderal polisi, Asops Kapolri Irjen Deden Juhara, Kadiv Propam Irjen Listyo Sigit Prabowo, dan Koorspripim Brigjen Pol Mardiaz K. Dwihananto. Bersama, Kasubbag Bungkol Kompol Hendri Umar.

Kapolri Tito bersama rombongan tiba di Bandara Galaktika Lanud Hasanuddin, Mandai Kabupaten Maros menggunakan pesawat Polri, Beechjet 400 XP P-8001.

Baca: Ketum Terpilih HIPMI Sulawesi Tenggara Hamka Hasan Tersangka Penipuan di Polda Sulsel

Baca: Sebelum Daftar https://sscn.bkn.go.id, Pelajari Soal CAT CPNS di bkn.go.id Ini Link Resminya

Baca: Hotman Paris Kembali Sindir Roy Suryo Siap Sumbang Arloji Rolex Asal Pompa Air Kembali

Baca: VIRAL Jokowi Ajar Super Junior Goyang Dayung di Korea Selatan, Liat Ekspresi Iriana dan Sewon

Tiba di Bandara, Kapolri Tito langsung disambut Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono, bersama Pangkosekhanudnas II Marsma TNI Andi Heru Wahyudi.

Kapolri Jenderal Moh. Tito Karnavian bersama tiga Jenderal polisi, tiba di Kota Makassar, Selasa (11/9/2018) malam.
Kapolri Jenderal Moh. Tito Karnavian bersama tiga Jenderal polisi, tiba di Kota Makassar, Selasa (11/9/2018) malam. (HANDOVER)

Juga, Kasdam XIV Hasanuddin Brigjen TNI Budi Sulistijono, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Risyapudin Nursin, Wagub Sulsel Sudirman Sulaiman, Danlanud Hasanuddin, Marsma Bowo Budiarto.

Tujuan Jenderal Tito ke Makassar

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, kedatangan Kapolri dalam rangka Pelepasan Obor Asian Para Games di Kota Makassar.

"Bapak Kapolri datang untuk kegiatan pelepasan Obor Asian Para Games yang digelar besok (Rabu) di Makassar," kata Kombes Pol Dicky saat dikonfirmasi.

Kegiatan Pelepasan Obor Asian Para Games di Kota Makassar akan dilakukan pada tanggal 12 September. Rencananya akan di gelar di Rujab Gubernur Sulsel.

Setelah istirahat dan berbincang dengan Kapolda Umar dan penjemput lainnya. Jenderal empat bintang itu pun langsung menuju ke Hotel The Rinra.

Jenderal Tito Suruh Teroris Bunuh Diri

Tito dikenal sebagai polisi spesial pembekuk teroris.

Tito termasuk seorang polisi yang mendapat kenaikan pangkat cukup cepat. Saat masih menyandang pangkat AKBP, ia memimpin tim Densus 88 yang berhasil melumpuhkan teroris Dr. Azahari di Batu, Jawa Timur, pada tanggal 9 November 2005.

Pangkatnya dinaikkan, dan ia menerima penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal Pol. Sutanto bersama dengan para kompatriotnya, seperti Idham Azis, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, dan lainnya.

Tito juga pernah memimpin sebuah tim khusus kepolisian yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M. Top.

Atas prestasi ini, pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal Polisi dan diangkat menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri.

Kariernya terus menanjak, dan dirinya sempat menjabat sebagai Kapolda Papua dan Kapolda Metro Jaya. Pada tanggal 14 Maret 2016, ia diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menggantikan Komjen. Pol. Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun.

Pada tanggal 15 Juni 2016, Presiden Joko Widodo mengirim surat kepada DPR, yang isinya menunjuk Tito sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Pol. Badrodin Haiti yang akan segera pensiun.

DPR menyetujui usulan ini dalam sidang paripurna pada awal bulan Juli 2016. Tito resmi dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Juli 2016.

Dengan jabatan ini, ia menjadi lulusan AKPOL angkatan 1987 tercepat yang menyandang pangkat bintang empat.

Tito juga tak segan membagikan pengalamannya menghadapi serangan teroris.

Seperti saat wawancara di Mata Najwa.

Dalam kesempatan itu, Tito menceritakan pengalamannya saat menangkap terduga teroris.

Menurutnya, mereka terjerumus dalam pehamahan ideologi yang salah.

Narapidana kasus terorisme keluar dari ruang tahanan saat menyerahkan diri usai kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).
Narapidana kasus terorisme keluar dari ruang tahanan saat menyerahkan diri usai kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018). (TRIBUNNEWS.COM)

Tribunstyle melansir dari Tribunwow, "Pemahaman tentang ideologi yang membuat mereka ikut untuk aksi bunuh diri karena mereka meyakini pemikiran mereka dalam mindset kelompok-kelompok ini mereka hanya berpikir didoktrin sedemikian rupa bahwa jalan tol expres menuju surga adalah dengan operasi amaliyah (jihad melawan musuh)", ujar Tito.

Setelah itu, Tito Karnavian menjelaskan dua cara yang biasa dipakai pelaku terduga teroris untuk masuk surga.

"Bagi mereka ada dua cara menuju surga dengan jalan yang cepat. Yang pertama yakni jika mereka terbunuh, maka mereka langsung masuk ke Surga. Sedangkan yang kedua, adalah dengan meletakkan bom di tempat keramaian tertentu sedangkan dirinya kabur", tambahnya.

Tito menambahkan, kejadian penyerangan di Surabaya tergolong luar biasa karena menggunakan metode bom bunuh diri.

"Tapi yang kali ini kan tidak. Dipakai di badan bahkan diikat di tubuh anak kecil. Membawa Kartu Keluarga dan KTP mereka. Ini berarti mereka memang mencari mati karena mereka yakin bahwa mereka itu akan masuk surga", ujarnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa para teroris memang sengaja membuat konfrontasi dengan pihak berwajib.

"Pada saat konfrontasi (tembak-menembak kontak dengan petugas) terjadi, mereka bisa membunuh dan mendapatkan pahala. Kalau mereka terbunuh, langsung masuk surga," jelas Tito.

Dia kemudian mencontohkan dengan penyerangan yang terjadi di Mapolda Riau.

Dalam insiden tersebut, sebuah mobil Avanza yang berisikan 5 orang terduga teroris menabrak seorang petugas hingga meninggal.

"Mereka lalu mengeluarkan samurai berapa pun yang bisa mereka serang dan bunuh bisa mendapat pahala, namun jika gagal akan tetap masuk surga. Itu yang dipikiran mereka," ungkapnya.

Karena itu, pihaknya berusaha menghindari konfontrasi terbuka agar bisa menangkap para teroris dalam keadaan hidup.

"Jadi yang kita lakukan tekniknya jangan mencari konfrontasi terbuka, namun melakukan penangkapan saat mereka lengah" kata Tito.

"Kalau seandainya konfrontasi terbuka, itu jaga jarak. Saya berpesan jangan gunakan langkah-langkah penyerbuan karena mereka juga siap mati," imbuhnya.

Lalu, Tito Karnavian mengisahkan satu cerita unik saat dirinya menangkap teroris beberapa tahun silam.

"Saya pernah menangkap kasus bom Kedutaan Besar Australia di Bogor, begitu kami tangkap hidup-hidup mereka menangis di kendaraan.

Kenapa kamu menangis?

Kenapa kita tidak kontak?

Kenapa saya nggak bisa membunuh bapak?

Kenapa bapak nggak bunuh saya?

Saya kehilangan golden momentum untuk masuk surga.

Saya sampaikan, ya sudah kamu bunuh diri saja setelah ini.

Saya neraka pak, kalau sudah begitu", cerita Tito.

Najwa lantas memastikan kesimpulan dari cerita Tito.

"Jadi bunuh diri buat mereka adalah neraka, namun jika dalam kontak itu surga? Astaghfirullahalazim", ujar Najwa menutup.

Untuk lebih jelasnya, silakan simak video di bawah ini. (Tribunstyle/ Irsan Yamananda)

(*)

Baca: Ketum Terpilih HIPMI Sulawesi Tenggara Hamka Hasan Tersangka Penipuan di Polda Sulsel

Baca: Sebelum Daftar https://sscn.bkn.go.id, Pelajari Soal CAT CPNS di bkn.go.id Ini Link Resminya

Baca: Hotman Paris Kembali Sindir Roy Suryo Siap Sumbang Arloji Rolex Asal Pompa Air Kembali

Baca: VIRAL Jokowi Ajar Super Junior Goyang Dayung di Korea Selatan, Liat Ekspresi Iriana dan Sewon

Penulis: Darul Amri Lobubun
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved