Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

MIWF dan Identitas Kota

Makassar International Writer Festival (MIWF) VIII 2018, resmi ditutup, Minggu (6/5/2018).

Penulis: CitizenReporter | Editor: Mahyuddin
HANDOVER
Rumata Artspace Foundation, Moch Hasymi Ibragim. 

Selain itu, festival ini juga menyediakan program strategis setiap tahun yang disebut The Emerging Writers, yaitu undangan khusus kepada para penulis baru terseleksi dari Kawasan Timur Indonesia.

TIap tahun rata-rata enam sampai sepuluh orang. Mereka diberi kesempatan untuk, selain menampilkan karya-karya mereka, juga kesempatan berinteraksi dengan penulis-penulis ternama dalam dan luar negeri, para penerbit yang juga makin meminati festival ini untuk menjaring penulis-penulis baru dan kesempatan kolaborasi antar peserta festival.

Dari program ini telah lahir penulis-penulis Indonesia yang menjanjikan dan bukunya telah beredar di masyarakat seperti Faisal Oddang, Ibe S Palogai, dan segenerasinya.

Artinya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa Makassar pada akhirnya akan bahkan telah menjadi titik penting dalam peta kepenulisan Indonesia.

Selain program tersebut, setiap tahun juga diangkat tema-tema yang relevan menjadi percakapan publik. Tahun ini, karena disebut-sebut sebagai tahun politik, maka tema yang diangkat ialah Voice/Noise serta diskusi-diskusi 20 tahun reformasi.

Kuat isyarat dan keinginan MIWF untuk mengangkat kembali kualitas percakapan publik kita yang belakangan terkesan tiba pada titik terendah kualitasnya.

Pemikiran dan intelektualitas dalam riuh rendah perbincangan publik tampak terdegradasi sedemikian rupa dan MIWF tentu ikut bertanggungjawab untuk menawarkan wacana alternatif, khususnya dari dunia sastra, kepenulisan dan percakapan intelektual.

Setiap tahun MIWF juga memprogramkan penghargaan atas tokoh-tokoh penting daerah ini, dan tahun ini mengangkat Salawati Daud, seorang perempuan yang pernah menjadi Walikota Makassar dan merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia.

Tokoh ini memang terlupakan, bahkan terhapus dari sejarah kota karena perbedaan-perbedaan idiologi dan garis politik pada masa lalu.

Ringkasnya, MIWF akan tetap hadir menyertai usaha memberi identitas kultural dan intelektual bagi kota Makassar. Sebuah inisiatif warga yang mencintai kotanya dan tetap merawat cinta itu melalui jalan kebudayaan.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved