opini

OPINI: Chunank, Gie dan Gerakan Mahasiswa

Sebagaimana Gie, kegelisahan Chunank menjelma menjadi sebuah perjalanan kontempelasi di atas puncak gunung

OPINI: Chunank, Gie dan Gerakan Mahasiswa
drg Rustan Ambo Asse 

Harapannya, kelak dikemudian hari ketika mahasiswa tersebut lulus dan mengabdi di masyarakat mereka akan berada di garda terdepan, memiliki keujujuran, integritas dan “ militansi” yang cukup untuk mengabdi apapun profesi yang digeluti.

Buku dan Cinta
Setidaknya bagi kalangan banyak aktivis mahasiswa termasuk era 90-an, buku Catatan Seorang Demonstran oleh Soe Hok Gie dan buku Pergolakan Pemikiran Islam oleh Ahmad Wahib telah mewarnai dinamika intelektual kemahasiswaan.

Gie dan Ahmad Wahib seolah-olah muncul sebagai dua eksponen gerakan pemikiran dan ide-ide baru yang pertama tentang ke-Indonesiaan dan keadilan oleh Gie.

Yang kedua tentang ke-Indonesiaan dan ke-Islaman oleh Ahmad Wahib.

Chunank telah mengakui bahwa dua buku tersebut setidaknya memberi konstribusi pergolakan pemikiran dalam membentuk idealisme, militansi, keikhlasan hingga pada akhirnya menjadi diri sendiri sebagai Chunank yang peduli, idealis, militan, yang hingga hari ini masih merawat ide dan gagasannya, menyebarkannya tanpa batas.

Pada acara bedah buku Mengalir Melintasi Zaman, salah seorang penanggap yang hadir, yang nampaknya juga merupakan aktivis era 80-an mengupas metafora apa dibalik kata: Buku, Pesta dan Cinta yang tertulis dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Bagi kalangan aktivis sejati, buku adalah bacaan wajib bagi seorang aktivis. Pesta baginya adalah diskusi dan cinta adalah kebenaran yang diperjuangkan, kegelisahan yang ditulis, serta pengorbanan untuk keadilan.

Pergerakan Mahasiswa
Apa yang akan membentuk mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab dan peduli dengan lingkungan sekitarnya? Sense of crisis yang tumbuh dalam pribadi seorang aktivis tidaklah serta merta hadir begitu saja tanpa proses panjang dan ujian oleh rentang waktu.

Kampus itu ibarat miniatur sebuah negara. Di dalamnya ada proses demokratisasi, kebudayaan, sejarah, riset dan pengabdian dan mungkin juga ketidakadilan.

Jika ketidakadilan itu muncul maka mahasiswa harus muncul sebagai social control sebagaimana jika hal itu terjadi di negeri ini maka sungguh sejarah telah membuktikan posisi mahasiswa sebagai agent of change.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved