Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Mengejutkan! 11 Bahasa Daerah Punah. Mayoritas dari Timur Indonesia Berdasar Penelitian Ilmiah

Tanggal 21 Februari setiap tahun diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII).

Penulis: Mansur AM | Editor: Mansur AM
Aksara Lontarak, salah satu bahasa daerah di Sulawesi Selatan (imajinasi-kontemporer.blogspot.co.id) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Tanggal 21 Februari setiap tahun diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII).

HBII bahkan sudah diakui UNESCO dan diperingati secara internasional loh.

Namun kenyataan miris harus terjadi di Indonesia. Negeri dengan ragam bahasa.

Sepanjang tahun 2011-2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan pengujian vitalitas atau daya tahan terhadap 71 bahasa daerah di seluruh Tanah Air.

Hasilnya menunjukkan hanya 19 bahasa daerah yang dinyatakan berstatus aman, sedangkan sisanya sangat memprihatinkan.

Sebanyak 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia dinyatakan punah.

Selain itu, ada empat bahasa daerah yang dinyatakan kritis dan dua bahasa daerah mengalami kemunduran.

Bahasa yang punah mayoritas berasal dari Timur Indonesia.

Di antaranya bahasa daerah yang sudah punah itu berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahsa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher.

"Ada juga 16 bahasa yang stabil tapi terancam punah dan ada 19 bahasa yang masuk dalam kategori aman," tutur Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta Ganjar Harimansyah di aula kampus UNTAG Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

Saat ini, menurut Ganjar, hingga Oktober 2017 ada 652 bahasa yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 daerah pengamatan di wilayah Indonesia.

"Namun jika akumulasi persebaran bahasa daerah per provinsi, bahasa di Indonesia berjumlah 733 dan jumlahnya akan bertambah karena bahasa di Nusa Tengga Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum teridentifikasi," ungkap Ganjar.

Menurut dia, ada beberapa penyebab kepunahan bahasa antara lain penyusutan jumlah penutur, perang, bencana alam yang besar, kawin campur antarsuku, sikap bahasa penutur dan letak geografis. Dia mencontohkan bahasa-bahasa di Maluku yang jumlah penuturnya hanya 0,76 persen.

"Setiap tahun beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia terancam punah atau mengalami penurunan status. Unesco pada 2009 juga mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia terncam punah. Sedangkan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam 30 tahun terakhir dan 607 tidak aman," kata Ganjar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved