Antrean Kapal di TPM Rugikan Pengusaha, Ini Penjelasan Pelindo

Zulkifli Syahril menuturkan, antrean berlangsung 2-3 hari, ini menyebabkan kerugian bagi dia dan anggotanya.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR --Antrean kapal di Terminal Petikemas Makassar (TPM) Jl Nusantara Makassar sering terjadi belakangan ini.

Ketua Asosiasi Pemilik Kapal (INSA) Makassar, Zulkifli Syahril menuturkan, antrean berlangsung 2-3 hari, ini menyebabkan kerugian bagi dia dan anggotanya.

"Antrean selama itu, biaya yang kami keluarkan jelas naik. Contohnya muatan beras, jika harga beras yang disepakati pemilik barang. Dijual di atas Rp 8.000 per kilogram, Karena keterlambatan, bisa turun Rp 5.000 per kilogram," kata Zul sapaannya saat dihubungi, Rabu (31/1/2018) 

Ia menilai upaya pemerintah menekan biaya logistik dengan kongesti bisa saja menimbulkan biaya tinggi.

"Yang paling merasakan dampaknya itu adalah pelaku ekspedisi, pemilik barang dan pemilik kapal kayak kami," ujarnya.

Kongesti merupakan banyaknya barang tertimbun di suatu tempat sehingga menimbulkan kemacetan arus barang.

Penyebab antrian panjang di TPM terjadi akibat pembongkaran material Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dilakuan di container yard (cy).

Menanggapi hal tersebut, General Manager TPM, Yosef Benny Rohi mengakui, saat ini masih terjadi antrean kapal, khususnya di TPM.

Hal memang jadi hambatan dan keluhan utama dari para pengguna jasa di pelabuhan terbesar di Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Terkait kongesti yang terjadi di TPM, hingga merugikan beberapa pengguna jasa yang kapalnya belum atau lambat dilayani bongkar muatnya, Yosef menuturkan, sebenarnya pihaknya juga tidak menginginkan ada kapal yang antri lama di pelabuhan.

"Tetapi, kami juga tidak bisa melakukan bongkar muat jika barangnya belum dilengkapi dengan dokumen yang diperlukan," ujar Yosef dalam rilisnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya kongesti, yaitu kapal yang masuk ke Pelabuhan Makassar secara bersamaan kurang lebih 6 hingga 8 kapal perhari.

Sedangkan, tambatan yang tersedia maksimal 5 kapal bila panjang kapal dibawah 150 meter dan jika kapal diatas 150 meter kapasitas maksimum 4 kapal.

Selain itu, cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini terjadi di Makassar, menyebabkan pihaknya sering menghentikan sementara kegiatan bongkar muat, demi mencegah risiko kecelakaan dan keselamatan. (*)

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved