Rektor UMI Pelatihan Karakter Dosen dan Karyawan, Ini Pesan Prof Masrurah Mokhtar
Kegiatan tersebut merupakan kerjasama UMI dengam Koordinator Wilayah Asosiasi Masjid Kampus Indonesia Sulawesi.
Penulis: Munawwarah Ahmad | Editor: Suryana Anas
Laporan Wartawan Tribun Timur Munawwarah Ahmad
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Prof Masrurah Mokhtar, membuka pelatihan pendidikan karakter dosen dan karyawan di Aula Prof Masrurah Mokhtar Kantor Lembaga Pengembangan Dakwah dan Kampus Islami (LPDKI) UMI Jl Urip Sumiharjo, Jumat (19/1/2018).
Selain Prof Masrurah, hadir pula Wakil Rektor IV UMI KH Zein Irwanto, Ketua LPDKI UMI Dr Ishaq Shamad, Ketua AMKI Korwil Sulawesi Drs Sulaiman Gosaalam dan 33 peserta pendidikan karakter.
Kegiatan tersebut merupakan kerjasama UMI dengam Koordinator Wilayah Asosiasi Masjid Kampus Indonesia Sulawesi.
Dalam sambutannya, Prof Masrurah mengatakan bahwa empat tahun lalu, Materi Pendidikan Nasional meminta UMI untuk menyusun konsep pendidikan karakter bangsa berbasis pesantren.
Hingga UMI mengutus Dr Arfah Shiddiq dan Kiai Zein Irwanto, termasuk Rektor UMI sendiri sebagai salah satu pembicara di ajang pertemuan Nasional Rektor Se Indonesia kala itu.
Diceritakan saat itu, Rektor UMI dihadapan seluruh pimpinan PT se Indonesia menjawab pertanyaan salah seorang peserta. Sebelum UMI dijadikan contoh, mengapa UMI banyak demo di jalan?
"Itulah pentingnya pendidikan karakter dan pencerahan qalbu, karena diantara mahasiswa yang sering demo di jalan itu, adalah mereka yang tidak lulus pencerahan qalbu,"jawab Prof Masrurah kala itu.
Dan Prof Masrurah menekankan pentingnya interaksi dan penerapan pola komunikasi dengan baik, karena hal tersebut dinilai sejalan dengan pembentukan karakter.
"Kami yakin apa yang dilaksanakan ini akan efektif karena bersumber dari Al-Qur'an. Walaupun di tempat lain hanya berdasar dari etika yang dapat berubah dan bersumber dari manusia saja. Namun karakter dalam Alquran atau akhlaq berlaku sepanjang masa. Walaupun disadari penanaman akhlaq ini tidak bisa hanya 1 hari, karena sanksi akhlaq untuk dunia dan akhirat, sementara sanksi etika hanya di dunia saja," tutup Masrurah.
Dipenghujung penyampaiannya, 33 peserta yang terdiri dari karyawan dan dosen bisa mengikuti pendidikan karakter dengan baik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jpek_20180119_152551.jpg)