Pimpinan Lembaga Mitra Indonesia Kritik Profesor yang Terlibat Politik Praktis
Yang paling di sesalkan oleh Sultan, para guru besar ini mengklaim 500 professor siap memenangkan calon Gubernur Sulsel.
Penulis: Saldy Irawan | Editor: Ardy Muchlis
Laporan wartawan Tribun-Timur, Saldy
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pimpinan Lembaga Mitra Indonesia Andi Sultan menanggapi sikap Guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Dr Anzhari dan beberapa guru besar lain yang terhimpun dalam Forum Siaga untuk memenangkan salah satu bakal calon Gubernur Sulsel Nurdin Halid dan Wakilnya Azis Kahar Mudzakkar.
Yang paling disesalkan oleh Sultan, para guru besar ini mengklaim 500 profesor siap memenangkan calon Gubernur Sulsel.
Menurut Sultan, semua masyarakat memiliki hak politik, namun yang jadi masalah karena mereka adalah profesor tidak tepat tepat jika terang-terangan terlibat dalam politik praktis.
"Ini sama halnya mencederai almamater, ini bisa memberikan image bahwa kampus tempat mereka adalah kampus politik," katanya.
Menurut dia, Professor itu merupakan jabatan guru besar yang menandakan seseorang telah menempati ‘maqom’ terhormat di ranah ilmiah.
Pada sisi tertentu, seorang profesor adalah guru bangsa yang bermukim dalam dunia kebenaran, kejujuran dan diagram memiliki integritas yang mumpuni.
Politik seorang profesor adalah politik kebenaran dan bukan politik praktis.
Menurut Sultan ajakan para professor untuk mendukung dan berpihak pada salah seorang kandidat pilgub Sulsel 2018 dinilai sangat mencederai dunia ilmiah sekaligus menjadikan dunia akademik sebagai ajang politik praktis.
“Ini merupakan catatan kelam dari dunia kampus yang membuat para professor tersebut bukan lagi menjadi ‘corong’ kebenaran dan cendekiawan independen”, ujar Pimpinan Lembaga Mitra Indonesia tersebut, Minggu (17/12/2017)
Seharusnya, tambah Sultan seorang profesor berdiri dan bersikap melampaui apa yang disebut politik dukung-mendukung kandidat. Profesor selayaknya hadir untuk menyuarakan keberpihakannya pada kemanusiaan dan pada kemaslatan rakyat secara keseluruhan.
“Bukan dengan memuja dan mendukung salah satu politisi yang menjadi kandidat di pilgub. Ini namanya menjual integritasnya sebagai guru besar”, pungkasnya.
Mereka yang terlibat dalam forum itu, antara lain yakni Prof Amran Razak, Prof Syamsul Bachri, Prof Jasmal, Prof Hasnawi Haris, Dr Muhammad Sabri Abdul Rauf, Drs Nur Azis Thalib dan Dr Andi Niniek F Lantara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20171217_213431.jpg)