Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

CITIZEN REPORTER

Kualitas Guru, Faktor Penting Tingkatan Kualitas Pendidikan

Hari ketiga, Ichsan Yasin Limpo berkesempatan mengunjungi dua sekolah, yakni di Elmentry School (tingkat dasar).

Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
zoom-inlihat foto Kualitas Guru, Faktor Penting Tingkatan Kualitas Pendidikan
CITIZEN REPORTER
Ichsan Yasin Limpo, kandidat doktor FH Unhas melakukan penelitian di Finlandi

Di samping itu, meski ada kurikulum nasional, tetapi pihak sekolah bisa melakukan kreasi tersendiri dengan tetap berpedoman pada kurikulum nasional.

Tak kalah penting yang membuat pendidikan Finlandia sangat berbeda, yakni jika ada siswa yang berkebutuhan khusus maka pihak sekolah menyediakan guru yang bisa melakukan penanganan khusus. Dan lagi-lagi, guru yang ditunjuk punya kualifikasi pendidikan magister.

Dari sudut pandang siswa, guru betul-betul membantu interaksi. Siswa begitu nyaman menyerap pengetahuan. Apalagi, hubungan guru dan siswa sangat bersahabat.

Saling menempatkan diri antara anak dan orang tua, maupun sekali-kali memposisikan sebagai teman di ruangan, maupun di luar kelas. Di tambah lagi, siswa tidak terbebani dengan pungutan-pungutan, karena semua ditanggung pemerintah.

Khusus di sekolah setingkat SMA yang saya kunjungi, tercatat ada 470 siswa yang lokasinya di Historical Finland atau berada di pusat kota. 2/3 siswa mereka ada yang di tes masuk, karena sebagian ingin belajar tari, music, dan keterampilan khusus lainnya.

Dari jumlah siswa tersebut, ada 43 guru yang menangani. Masing-masing, 36 guru mata pelajaran, 3 guru khusus, 2 student consuler, 1 guru kelas (wali kelas), dan 1 asisten.

Tentang mata pelajaran, ada subjek yang wajib, dan pilihan. Subjek wajib jumlahnya 14, dan hanya diajarkan di awal kelas 7 saja.

Sementara di kelas 8, ada beberapa yang tidak wajib. Seperti seni, music dan visual art. Total jumlah pelajaran hanya 10, dan tambahan maksimal 2, seperti memilih belajar bahasa. Di sekolah setingkat SMA atau di grade 7-9 jam pelajarannya maksimal 30 sampai 32 jam per minggu.

Lalu bagaimana dengan kurikulum baru 2016? Ada yang menjadi pembeda, yakni dalam hal kemampuan mentransfer kompetensi ilmu, kompetensi IT, kehidupan kerja management dan kehidupan sehar-hari.

Lainnya, evaluasi kepada siswa tidak berdasar pada angka, tapi dilakukan dengan cara interaksi antara guru dan siswa. Model evaluasi ini di kurikulum baru, diterapkan di kelas 7.

Berdasar catatan dari studi komparasi, maka ada beberapa yang menarik untuk kita jadikan contoh dalam mengejar ketertinggalan kita di sektor pendidikan.

Diantaranya tentang kualitas dan kemampuan guru, menciptakan suasana belajar-mengajar yang nyaman dan bersahabat, memperhatikan jumlah mata pelajaran, jam belajar per minggu, maupun dalam melihat potensi dan kemampuan para siswa.

Dan semua itu butuh terobosan untuk mengubah beberapa sistem dan kebijakan pendidikan kita yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Sekali lagi, untuk kualitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi kita di masa yang akan datang, kita harus punya keberanian merombak sistem pendidikan kita. Tak cukup hanya sekadar mengagumi pendidikan di negara maju semata. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved