Catatan Bola Willy Kumurur
Final Champion 2017: Menanti Keindahan di Millenium
Mungkin hanya penyair Spanyol Federico Garcia Lorca yang tak menghendaki malam itu datang, seperti yang ia tulis dalam sajak Gacela of Desperate Love
DUA tahun yang lalu, pasukan Juventus pimpinan Massimiliano Allegri memasuki Olympiastadion, Berlin, dengan optimisme tinggi meraih trofi Champions.
Sembilan tahun sebelumnya, Berlin adalah nirwana bagi Gianluigi Buffon dan Andrea Pirlo tatkala Italia melenyapkan harapan Perancis di final Piala Dunia 2006. Azzuri menghajar Les Blues dengan skor 5–3 melalui adu penalti, setelah imbang 1–1 selama 120 menit.
Setelah meraih Piala Dunia, Gigi Buffon berujar, “Setiap orang punya takdirnya sendiri. Hidup kita tak dipetakan, namun takdir memberi kita pertanda dan sedikit penolakan.
Terserah kita untuk menginterpretasikan dan memutuskan apakah mengikuti sang takdir atau tidak.”
Saat memasuki Olympiastadion bersama I Bianconeri, Andrea Pirlo merindukan untuk mengulang kenangan manis itu. Lawan mereka adalah Barcelona dengan trio MSN (Messi-Suarez-Neymar).
Gol cepat El Barca yang dicetak Ivan Rakitic disamakan oleh Alvaro Morata. Kedudukan 1-1. Selama tiga belas menit Juve masih percaya bahwa sang takdir -sekali lagi- sedang tersenyum kepada mereka di Berlin.
Tiga belas menit kemudian pasukan Allegri sadar bahwa takdir berkehendak lain, setelah Luis Suarez dengan ‘anarkis’ merobek jala gawang Buffon.
Dua puluh enam menit setelah goal Suarez, sang takdir kian menjauh dari Sang Zebra manakala Neymar dengan dingin memupus kecemerlangan Buffon.
The Catalans membenamkan La Vecchia Signora sampai ke dasar jurang penuh cadas, dengan skor 3-1. Kemenangan El Barca menghancurkan hati La Vecchia Signora. “Kekejaman” Barcelona adalah “kekejaman” sang takdir atas Juventus. Mamamia.
Nirwana Berlin menjelma menjadi lembah airmata bagi tifosi Si Nyonya Tua. Begitu peluit panjang dibunyikan wasit Cüneyt Çakır, dua veteran pasukan Allegri, yaitu jenderal lapangan tengah Pirlo dan palang pintu Buffon tertunduk lesu; mereka sesenggukan dalam linangan air matanya. Pemain muda Juve, Alvaro Morata, pun berkubang duka.
Harian Italia La Gazetta dello Sport menulis headline: Pirlo e Morata in lacrime (Pirlo dan Morata dalam genangan air mata). Air mata Pirlo tidak tumpah tatkala ditinggal pergi isterinya, Deborah Roversi, tahun 2014, namun titik-titik air produksi glandula lacrimalis (kelenjar airmata) menetes karena bagi Pirlo partai final ini adalah peluang terakhirnya memenangi Liga Champions.
"Kami menjalani musim yang luar biasa dan final yang luar biasa. Ketika kami berada dalam momen terbaik kami harus kebobolan. Saat skor 3-1, bisa dikatakan laga telah berakhir. Namun, ini adalah bagian dari proses kami tumbuh," ujar Allegri usai laga final.
I Bianconeri terus tumbuh dan berkembang; bek tengah Giorgio Chiellini berujar, “Kami semakin berkembang dalam hal kualitas dan teknik; namun yang paling penting adalah kemauan dan pengorbanan, itulah rahasia kami di tahun ini. Berdasarkan “rahasia” itulah mereka menuntaskan dendam atas Barcelona di perempat final Liga Champions 2016/2017.
El Barca ditumpas dengan agregat 0-3. Kesuksesan Juve membungkam El Blaugrana menggelitik pemain bertahan Leonardo Bonucci untuk memberikan komentar, "Juventus sekarang tampil membuat ngeri tim-tim lain.“ Juve melaju ke final setelah menyingkirkan AS Monaco.
Dua tahun setelah final menyakitkan di Berlin, Allegri kini memimpin pasukannya menuju Stadion Millenium Cardiff di Wales, kandang punggawa Real Madrid, Gareth Bale.