Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hari Lahir Pancasila

Pancasila . . . !

Pancasila sudah terbukti sakti, tak bisa tergantikan dengan ideologi apa pun.

Editor: Suryana Anas
dok_tribun/abdiwan
Andi Suruji, Pemimpin Umum Tribun Timur 

Kolom Andi Suruji, Pemimpin Umum Tribun Timur

Sudah tetap rumusan Pancasila oleh para pendiri bangsa ini. Banyaklah pengorbanan mereka untuk mencapai rumusan itu. Pengorbanan individual maupun kelompok dan golongan.

Perumusan sila-sila itu juga melalui perdebatan sengit. Pergumulan pemikiran yang sangat mendalam lalu beradu gagasan yang ketat. Tujuannya sama, menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara, palsafah hidup bangsa, bukan yang lain.

Karena itu tidak perlu membuang tenaga untuk mengganggunya. Apalagi Pancasila sudah terbukti sakti, tak bisa tergantikan dengan ideologi apa pun.

Baca: SYL Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila, Ini Imbauannya

Pancasila, rumusannya memang sudah oke...! Penghayatan dan pengamalannya yang terasa belum pas. Ibarat baut dan mur, mungkin mengendur sehingga harus disetel ulang.

Dalam lima sila, selain kata "yang" sebagai kata penghubung, hanya dua kata yang berulang, yakni "adil" dan "rakyat".

Kata adil ada di sila kedua (adil) dan lainnya dalam sila kelima (ke-adil-an). Sementara kata rakyat ada dalam sila kelima (rakyat) dan sila keempat (ke-rakyat-an).

Baca: Hari Lahir Pancasila, Bupati Soppeng Cemaskan Berita Hoax di Medsos

Betapa pentingnya kedua kata tersebut dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rakyatlah yang tersebut dalam pancasila. Rakyatlah yang berdaulat. Dapat ditafsirkan bahwa apa pun kebijakan negara haruslah berorientasi pada rakyat. Rakyat yang mana? Ya rakyat seluruh Indonesia, tanpa memandang bulu.

Kata adil, juga begitu. Apa pun kebijakan dan keputusan para penyelenggara negara, maka pertama-tama yang harus diperiksa adalah adil, keadilan. Sudah adilkah suatu kebijakan bagi seluruh rakyat? Apakah sudah mewakili rasa keadilan dan perasaan adil bagi rakyat?

Mengapa harus rasa keadilan yang ditonjolkan? bukan persatuan, kemanusiaan? Rasa adil cukup susah terpenuhi karena bisa bergantung pada rasa seseorang. Bayangkan kalau ada 250 juta penduduk Indonesia berarti ada 250 juta rasa.

Namun demikian, dengan pertimbangan rasa, bisa jadi perasaan keadilan tidak terpenuhi secara utuh tetapi dapat dipahami dan dimaklumi serta diterima. Tercapainya pengertian dapat diterima secara rasio dan rasionalitas. Misalnya suatu kebijakan yang berpihak pada orang banyak. Mungkin yang minoritas merasa tidak adil, namun karena ada konsensus nasional, maka minoritas dapat memahaminya. Begitu juga sebaliknya secara rasa adil bagi minoritas tetapi dapat dipahami dan diterima oleh mayoritas.

Oleh katena itu tugas negara dan penyelenggara megara, pertama-tama dan utama harus memastikan untuk memenuhi rasa adil dan tercapainya rasionalitas yang dapat dimaklumi dan diterima dengan baik secara bersama ileh mayoritas dan minoritas.

Dengan tecapainya keadilan maka dengan mudah masyarakat untuk melangkah ke area bermusyawarahan dan bermufakat (sila keempat). Dengan musyawarah dan mufakat, masyarakat akan kuat bersatu (sila ketiga : persatuan Indonesia). Tanpa musyawarah dan mufakat atau kemufakatan, persatuan akan sulit tercipta.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved