Hari Lahir Pancasila
Pancasila . . . !
Pancasila sudah terbukti sakti, tak bisa tergantikan dengan ideologi apa pun.
Jika rakyat sudah kuat dalam rasa persatuan (Sila ketiga : Persatuan Indonesia), tanpa bicara mayoritas san minoritas lagi, maka yang banyak akan melindungi yang sedikit, yang kuat akan membela yang lemah, yang kaya akan menolong yang miskin. Maka itulah sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab.
Saling memanusiakan sesama manusia Indonesia, berarti kita telah menjunjung tinggi sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), kita cinta Tuhan, mengamalkan amanah Tuhan. Hanya manusia beradab yang dapat menanamkan semangat ketuhanan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia ciptaan Tuhan tanpa terkotak dalam bingkai kita dan mereka, kami dan kalian, saya dan kamu.
Itulah sekelumit pemikiran untuk membumikan dan menanamkan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, siapa pun kita. Saya tidak berpretensi mengubah susunan sila-sila Pancasila. Saya hanya menyodorkan gagasan, setidaknya mengingatkan akan suatu semangat bersama dalam bertindak, dalam upaya menjaga, membumikan pengamalan sila-sila Pancasila dalam hidup dan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia Indonesia yang pancasilais.
Saya mengarusutamakan dan menekankan adil dan keadilan dan rakyat, karena ketidakadilan itulah sumber dari segala sumber konflik. Ketidakadilan ekonomi, hukum, di bidang birokrasi, pemerintahan dan semua sendi kehidupan, akan menjadi ladang subur tersemainya benih-benih perlawanan terhadap ketidakadilan.
Ketika rakyat Kalimantan susah setengah mati memiliki sepetak tanah sekadar untuk membangun rumah kehidupan, tetapi tiba-tiba hutan Kalimantan ratusan hektar dikuasai seseorang dari luar, adilkah? Korupsi, pungli, nepotisme, kolusi, jual beli pasal, makelarisasi kasus hukum, adalah perbuatan ketidakadilan. Melukai rasa keadilan, dan menabrak bahkan meruntuhkan sila-sila Pancasila. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/andi-suruji_20170209_034224.jpg)