Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pantang Menyerah, Begini Cara Nenek Radi Bertahan Hidup di Kelara Jeneponto

Satu per satu bongkahan batu sebesar buah kelapa ditempanya hingga hancur menjadi kerikil.

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Mahyuddin
muslimin/tribunjeneponto.com
Radi Daeng Lopo (80), nenek tua nan rentah yang menjalani hidup sebagai pemecah batu di kolom rumah cucunya, Kampung Parangla'bua, Kelurahan Tolo Utara, Kecamatan Kelara, Jeneponto, Sabtu (20/05/2017) siang. 

TRIBUNJENEPONTO.COM, KELARA - Radi Daeng Lopo (80), nenek tua nan rentah yang menjalani hidup sebagai pemecah batu di kolom rumah cucunya, Kampung Parangla'bua, Kelurahan Tolo Utara, Kecamatan Kelara, Jeneponto, Sabtu (20/05/2017).

Setiap hari, Nenek Radi harus mengayunkan palu seberat satu kilogram untuk memecah batu.

Satu per satu bongkahan batu sebesar buah kelapa ditempanya hingga hancur menjadi kerikil.

Krikil yang telah hancur di tangan Nenek Radi dikumpulkan hingga membentuk gunungan kecil lalu dipajang di halaman rumah cucunya, poros Kelara-Rumbia.

Satu kubik kerikil dijualnya seharga Rp 200 ribu.

Baca: Heboh, Pernikahan Anak Pengusaha Beras di Jeneponto, Uang Panai Rp 1 Miliar, Emas 3 Kg

Untuk memperoleh satu kubik kerikil itu, Daeng Lopo harus berjibaku dengan palunya selama 5-8 hari kerja.

Hasil yang diperoleh Daeng Lopo dari batu krikil itu tidak menentu.

"Kadang dalam sebulan hanya dua kubik krikil yang terjual, kadang juga tidak ada," ucap nenek tua itu.

Untuk memperoleh satu truk bongkahan batu gunung yang akan dipecahkan, Nenek Radi harus membayar Rp 500 ribu.

Meski telah dilarang oleh anak dan cucunya, nenek beranak empat tersebut tetap saja mengisi kesehariannya dengan memecahkan batu.

"Nalarangma sebenarnya anakku sama cucuku nak, tapi lain-lain kurasa kalau tidak ada kukerja karena tidak pergima juga ke kebun," ujarnya.

Baca: Jelang Ramadan, Warga Jeneponto Ramai-ramai Santap Ganja

Suami Nenek Radi bernama Salo telah meninggal dunia sejak lima tahun silam.

Sementara, empat orang anaknya, Masi Dg Intang, Goa Dg Kanang, Bado Dg Embah dan Sari Dg Jai telah berkeluarga.

Nenek Radi kini tinggal di rumah cucu-cucunya yang juga telah berkeluarga.

Hasil jerih payahnya itu untuk meringankan beban hidup cucuk dan anaknya.

Ada puluhan warga setempat yang menopang hidup dari hasil penjualan batu kerikil.

Selain pemecah batu, warga sekitar juga umumnya berprofesi sebagai petani jagung hibrida.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved