Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

HMI IMM dan PMII Jeneponto Sebut Pilkada Lewat DPRD Kemunduran Demokrasi

Pilkada melalui DPRD hanya menguntungkan partai politik dan memunculkan peluang korupsi dan nepotisme. 

Penulis: Makmur | Editor: Munawwarah Ahmad
TRIBUN TIMUR/Makmur
DPRD PILIH KEPALA DAERAH - Kolase foto Ketua HMI Jeneponto Gunawan Ari Suhud, Ketua IMM Jeneponto Mardianto Salam, dan Ketua PMII Jeneponto Ikra Nasir. HMI, IMM, dan PMII tolak pemilihan kepala daerah melalui DPRD. 

Ringkasan Berita:
  • HMI, IMM, dan PMII tolak wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD
  • Golkar, Gerindra, PKB, Nasdem, dan PAN sepakat kepala daerah dipilih melalui DPRD

JENEPONTO, TRIBUN-TIMUR.COM - Tiga organisasi kepemudaan (OKP) Kabupaten Jeneponto menolak wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Tiga organisasi tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Ketua HMI Jeneponto, Gunawan Ari Suhud, menilai Pilkada melalui DPRD hanya menguntungkan partai politik dan memunculkan peluang korupsi dan nepotisme. 

"Jika ini dilakukan yang paling diuntungkan adalah partai politik karena mereka adalah pemegang suara dan ini akan memunculkan peluang korupsi dan nepotisme yang berkelanjutan," jelasnya kepada Tribun-Timur.Com, Kamis (1/1/2026).

Gunawan menyebut pilkada melalui DPRD mencederai prinsip demokrasi dan menciptakan dominasi elit.

"Publik juga tidak leluasa terlibat dalam pembangunan, karena kepala daerah akan lebih berkompromi dengan partai pemilihnya ketimbang mendengar aspirasi rakyat," jelasnya.

Menurut Gunawan, politik uang tidak akan hilang dalam sistem pilkada DPRD. Malah justru massif di kalangan elite.

"Pilkada melalui DPRD akan menjadi ajang transaksi politik. Pemilihan kepala daerah akan lebih didasarkan pada kesepakatan antara partai atau kelompok, bukan pada kepentingan masyarakat," jelasnya.

Sementara Ketua IMM Jeneponto Mardianto Salam menolak pilkada DPRD karna menurutnya akan memunculkan pemimpin tanpa legitimasi yang kuat dari rakyat.

"Kami khawatir bahwa kepentingan elit akan lebih dominan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah akan menurun. Hal ini dapat memicu konflik yang lebih besar dan meningkatkan risiko korupsi, menghambat proses demokrasi, serta meningkatkan biaya politik," jelasnya.

Lebih lanjut Mardianto berharap pemerintah membatalkan wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

"Kami berharap agar proses Pilkada tetap dilakukan secara langsung oleh masyarakat, sehingga kepala daerah yang terpilih benar-benar mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat," katanya.

Sedangkan Ketua PMII Jeneponto Ikra Nasir mengatakan pengembalian sistem pilkada menjadi tidak langsung seperti masa Orde Baru (Orba) adalah kemunduran demokrasi.

"Kenapa harus menumbalkan hak rakyat untuk memilih langsung pemimpinnya. Di sisi lain juga menjadi momok baru yaitu politik trasaksional menjadi sangat terpusat di kalangan elit politik nantinya akan jauh lebih mengerikan," ucapnya.

Lebih lanjut Ikra mempertanyakan dalil efisiensi anggaran di balik wacana pilkada tidak langsung.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved