Pembunuhan Satu Keluarga

Lagi, Satu Keluarga di Medan Dibunuh, Berikut Pelakunya

Ia sempat terlihat berpikir lama sembari memejamkan mata ketika ditanya mengenai perkembangan kasus ini.

Lagi, Satu Keluarga di Medan Dibunuh, Berikut Pelakunya - satu-keluarga-dibunuh_20170418_093312.jpg
Tribun Medan/Jefri Susetio
Empat peti jenazah korban kebakaran diletakkan sejajar saat acara adat di Jambur Gotong Royong Pancurbatu, Kamis (6/4/2017).
Lagi, Satu Keluarga di Medan Dibunuh, Berikut Pelakunya - motif-pembunuhan_20170413_090139.jpg
tribun medan
Andi Matalata alias Andi Lala tersangka pembunuh keluarga Riyanto. (Tribun medan)

Sedangkan, anaknya (Frengki Ginting) sedang mandi di kamar mandi.

"Ibu itu (Marita) saat kejadian sudah mengenakan pakaian kebaya. Sedangkan anaknya (Frengki) berada di dalam kamar mandi. Sementara dua cucu Marita mungkin masih tidur di dalam kamar," katanya.

Menurut Simangunsong, tidak tertutup kemungkinan Marita dibunuh terlebih dahulu.

Dan, saat kejadian tak ada suara minta tolong.

"Biasanya mereka (keluarga) itu sangat sensitif dengan gerakan di luar rumahnya. Sehari-hari ibu itu berjualan telor di pasar pagi. Namun, saat kejadian tidak ada suara dari dalam rumah itu," ujarnya.

Tidak hanya itu, berdasarkan pengakuan warga lainnya berinisial SS, kata Simangunsong, sempat berusaha menolong para korban dengan cara mengetuk pintu dan memanggil dari luar.

Namun, beberapa pria bertopeng itu melarangnya dan melemparkan batu ke punggungnya.

Karena itu, SS ketakutan, sehingga bersembunyi di semak-semak menunggu para pelaku
meninggalkan lokasi.

"Sempat ada yang menolong, tetapi dilarang para pria yang mengenakan topeng itu," katanya.

Selain itu, warga juga mencium aroma bensin di kawasan rumah Gandi.

Tiga Kali Percobaan

Simangungsong menambahkan, sudah tiga kali keluarga Gandi mendapat ancaman dan teror pembakaran rumah.

Namun, warga yang ronda alias jaga malam di kampung berhasil menggagalkan rencana tersebut.

Bahkan petugas jaga malam sempat mengejar orang yang hendak membakar rumah Gandi.

"Ini sudah yang keempat kalinya. Pertama dan kedua hanya pintu rumah itu saja yang terbakar. Yang ketiga pelaku sempat salah alamat. Dan yang keempat inilah baru kejadian tragis," ujarnya.

Ia menduga, pelaku sudah memantau aktivitas warga.

Sehingga, ketika warga tidak fokus melakukan jaga malam, mereka membakar rumah keluarga Gandi.

Ia menduga, motif di balik pembakaran dan pembunuhan terhadap Marita beserta anak dan dua cucunya, ada unsur dendam.

Pasalnya, beberapa bulan lalu, Gandi sempat cekcok urusan tanah dengan orang berinisial M.

Perselisihan itu, lanjutnya, berujung di Pengadilan Negeri (PN) Medan.

M menggugat Gandi atas tanah dan bangunan di atasnya termasuk tiga unit rumah kontrakannya, yang ternyata milik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

M menjual tanah kepada Gandi Rp 200 juta (ada yang menyebut Rp 260 juta), tetapi baru dibayar Rp 130 juta.

"Harga jual tanah itu dari M kepada Gandi Rp 200 juta.Tetapi, keluarganya baru memberikan Rp 130 juta. Sisanya, Rp 70 juta akan dilunasi setelah surat sertifikat tanahnya diserahkan. Nah, karena korban tidak mau melunasinya, M menggugatnya secara Perdata di PN Medan, tapi kalah. Sebab, tanah itu milik PT KAI bukan tanahnya," katanya.

Tak lama setelah kekalahan M, lanjut Simangunsong, keluarga Gandi mendapat ancaman berupa pembakaran rumah.

Camat Medan Tuntungan Gelora Ginting menyampaikan, sudah dapat laporan dari masyarakat bahwa, keluarga Gandi diancam percobaan pembakaran rumah. Karena itu, ada jaga malam di kampung tersebut.

"Tapi saya tidak bisa menduga-duga apakah kebakaran ini terkait paut dengan masalah lama atau bukan. Apalagi, penyidik tengah melakukan pemeriksaan. Kami serahkan proses hukum kepada polisi," ujarnya.

Ia menyampaikan, petugas pemadam kebakaran bukan lambat datang.

Namun, wilayah Gardu Sidomulyo merupakan kawasan perbatasan Deliserdang-Medan.

Sehingga pemadam yang datang dari Lubukpakam dan Medan.

"Itu wilayah perbatasan, ya. Bukan lambat, petugas sudah bekerja sesuai standar. Bahkan, pemadam yang datang dari Deliserdang dan Medan," ungkapnya.

ray/tribun-medan.com

Editor: Ilham Mangenre
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved