Alasan Saroo Harus Bertemu Ibu dan Kakaknya Setelah Puluhan Tahun Kesasar
Sebenarnya, Guddu belum setuju adiknya yang baru berusia lima tahun itu mencari nafkah karena dianggap masih terlalu kecil.
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Pada intro film "Lion", Saroo dan kakaknya, Guddu dikisahkan sebagai bajing batu bara di kereta api.
Sedikit demi sedikit batu bara dikumpulkan, lalu dijual kepada pengumpul.
Mereka melakoni pekerjaan yang mempertaruhkan nyawanya itu dan harus "kucing-kucingan" dengan petugas keamanan demi menafkahi keluarga, termasuk untuk membeli jalebi.
Tiap pulang dari mencari nafkah, Saroo dan Guddu ingin membawa jalebi.
Jalebi merupakan manisan yang banyak disajikan di India dan Timur Tengah saat festival.
Jalebi terbuat dari adonan yang digoreng, mirip seperti funnel cake, yang kemudian direndam dalam larutan gula.
Sebenarnya, Guddu belum setuju adiknya yang baru berusia lima tahun itu mencari nafkah karena dianggap masih terlalu kecil.
Selain menjadi bajing baju bata, mereka juga bekerja pada malam hari mengumpulkan recehan di stasiun kereta api.
"Bisakah saya ikut (mencari nafkah)?," kata Saroo bertanya dari pintu rumah kepada Guddu.
Dijawab Guddu dengan nada enteng, "Kamu masih terlalu kecil, tidak bisa melakukan pekerjaan ini."
Sarro pun tak mau dipandang enteng, lalu dia membuktikan jika dirinya memiliki tenaga kuat untuk bekerja.
Lalu, diangkatlah sebuah kursi kayu dan sepeda.
"Saya bisa mengangkat apa saja," kata Saroo membuktikan.
Namun, lagi-lagi Guddu punya alasan melarang adiknya ikut mencari nafkah.
"Saroo, ini pekerjaan malam hari. Bukan untuk anak-anak. Pergi saja, kamu masih terlalu kecil," ujarnya Guddu kepada adiknya.