Aldy, Remaja di Maros Ini Tak Malu Jual Jalangkote demi Uang Sekolah
Bahkan dia hanya membiarkan temannya tersebut mengejeknya. Meski diejek, namun Aldy tidak pernah marah dan dendam.
Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Aldy Setiawan (14), seorang siswa SMP Muhammadiyah Maros, rela menjual makanan berupa jalangkote selama lima tahun terakhir untuk membiayai sekolahnya.
Aldy yang duduk di kelas dua ini mulai membantu orangtuanya untuk menghidupi keluarga, sejak masih duduk di bangku kelas empat SD Bonto Cina, Turikale.
Siswa pindahan dari DDI Maros ini mengaku, kerap diejek oleh teman- temannnya, jika ketemu di sekolah maupun saat sementara keliling Turikale.
Namun hal tersebut, tidak membuat semangat bocah yang ranking tiga di kelasnya ini berkurang. Dia tetap semangat bekerja untuk membiayai sekolah dan keluarganya.
Ejekan dari teman- temannya sudah dianggap biasa. Bahkan dia hanya membiarkan temannya tersebut mengejeknya. Meski diejek, namun Aldy tidak pernah marah dan dendam.
"Sudah biasa (diejek) oleh teman- teman saat saya bertemu di sekolah dan saat menjual. Saya tidak permasalahkan. Biar saja, yang penting saya mencari rejeki halal," katanya saat ditemui di Jl Crisyant, Pettuadae, Turikale.
Warga Bonto Jolong, Kelurahan Raya, Turikale ini, memulai keliling menjual jalangkote milik seorang pengusaha di Kampungnya, setelah beristrahat sejenak sepulang sekolah.
Dia mengganti seragam sekolahnya, dengan baju kaos kusut dan tetap menggunakan topi sekolah, kemudian pergi mengambil 100 biji jalangkote yang telah disediakan oleh tetangganya tersebut.
"Saya mulai keliling menjual sekitar jam satu saat pulang sekolah. Kadang saya pulang ke rumah jam emam. Tergantung dari habisnya jalangkote. Tapi biasa juga belum habis saya pulang," katanya.
Anak bungsu dari empat bersaudara ini, kemudian keliling kota Maros untuk menjajankan jalangkotenya.
Jika merasa, pembeli kurang, putra dari Syahruddin dan Sariana ini, berjalan kaki tanpa didampingi ke kompleks perumahan Regency di Kecamatan Lau.
Perumahan tersebut berjarak sekitar satu kilometer arah utara Kota Maros. Setiap harinya, Aldy berjalan kaki sekitar delapan kilometer dengan harapan, jalangkotenya tersebut habis terjual.
Jika jalangkotenya seharga Rp 1.500 per biji itu habis, Aldy diupah Rp 10 ribu. Tapi jika tidak habis, kadang diupah dibawah Rp 10 ribu.
Meski diupah Rp 10 ribu, namun Aldy tetap melakoni pekerjaanya tersebut. Ayahnya berprofesi sebagai seniman, penghasilannya tidak tetap. Sementara ibunya, sebagai ibu rumah tangga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/penjual-jalangkote_20160724_130138.jpg)