Alumnus Ponpes As’adiyah Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Dengan ciri keislaman moderat, bercorak rahmatan lil alamin
TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - MENTERI Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengukuhkan Prof Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar dan Pengurus Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal masa bakti 2015 – 2020. di Kantor Kementerian Agama, Jl Thamrin, Jakarta.
“Saya percaya Saudara akan melaksanakan tugas dan pengabdian sebaik-baiknya serta amanah, guna mengembangkan, membangun, memakmurkan Masjid Istiqlal demi bangas dan negara,” kata Lukman.
Pengukuhan pengurus baru dihadiri pejabat eselon I dan II Kementerian Agama. Nasaruddin Umar menggantikan KH Ali Mustafa Yaqub sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Sedangkan Muhammad Muzamil Basyuni menggantikan Mubarak sebagai Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal.
Dalam sambutannya, menag menegaskan Masjid Istiqlal harus menjadi benteng umat Islam dari pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan agama dan ideologi bangsa.
“Atmosfir masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam dalam memancarkan tauhid, ukhuwah dan kemajuan, kedamaian, keadaban serta rahmatan lil alamin,” kata Lukman.
Nasaruddin yang juga eks Wakil Menteri Agama mengatakan, jabatan yang diembannya kali ini merupakan amanah yang cukup berat.
“Mohon doanya, semoga saya bisa melaksanakan dan menjalankannya dengan baik dan amanah,” kata alumnus Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo ini.
Ia juga mengatakan telah memiliki beberapa misi yang akan dia lakukan nantinya. Misi tersebut berkaitan dengan citra yang harus terpancar dari Masjid Istiqlal. Pertama, Masjid Istiqlal harus tetap menyimbolkan negara. "Dengan ciri keislaman moderat, bercorak rahmatan lil alamin," kata pria kelahiran Bone ini. Nasaruddin resmi menjabat sejak Jumat (22/1/2016).
Selain mengajar di Fakultas Ushuluddin dan beberapa perguruan tinggi lain, Nasaruddin merupakan penulis produktif. Ia rajin menulis artikel media masa, artikel jurnal, dan buku-buku. Diantaranya, Tasawuf, Gender dan Deradikalisasi Tafsir Agama, Ketika Fiqih Membela Perempuan, dan Tasawuf Modern.
Nasaruddin sendiri menempuh pendidikan pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mendapatkan gelar Magister (1992) serta doktoral (PhD) (1998). Selama studi kedoktorannya, dia sempat menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas McGill, Montreal, Kanada (1993-1994), dan juga sebagai salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas Leiden, Belanda (1994-1995).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/prof-nasaruddin-umar_20160124_164334.jpg)