Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Awas! Jangan Salah Makan, Makanan Lezat Ini Ternyata Berbahan Tikus

Cicipi saja dulu, mungkin Anda akan suka ...

Editor: Edi Sumardi
SHUTTERSTOCK
Tikus 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebelum tidur, pastikan tak ada makanan yang tertinggal di meja makan atau di lantai. Jika tidak, Anda bisa kedatangan tamu tak diundang, tikus.

Sekilas saja melihat hewan pengerat muncul, Anda bisa langsung merasa jijik dan mengajukan komplain ke pemerintah daerah - New York contohnya, yang tengah berupaya mengatasi ‘krisis tikus’ di kota tersebut.

Namun tikus tak selalu dibenci.

Bahkan, di beberapa negara di dunia, tikus malah tergolong makanan lezat.

Setiap tahun pada 7 Maret, di sebuah desa terpencil di perbukitan di timur laut India, suku Adi merayakan Unying-Aran, festival unik yang manjadikan daging tikus sebagai bintangnya.

Satu di antara makanan favorit Adi adalah sup bernama bule-bulak oying, yang terbuat dari perut, usus, hati, testikel, dan janin tikus; semua direbus jadi satu bersama dengan ekor dan kaki tikus, ditambah garam, cabai, dan jahe.

Semua jenis tikus diterima oleh komunitas ini, dari tikus rumahan yang sering terlihat di permukiman sampai tikus hutan.

Kaki dan buntut tikus sangat dihargai karena rasanya yang enak, kata Victor Benno Meyer-Rochow, di Universitas Oulu, Finlandia, yang mewawancarai beberapa anggota suku Adi untuk sebuah penelitian tentang tikus sebagai sumber makanan.

Jawaban yang dia peroleh memberikan gambaran berbeda tentang hama ini.

Para responden mengatakan pada Meyer-Rochow bahwa daging tikus “adalah daging terbaik dan terenak yang bisa mereka bayangkan.”

“Mereka bilang, ‘Tak ada pesta, tak ada kebahagiaan jika tanpa daging tikus: untuk menghormati tamu penting, pengunjung, atau kerabat, untuk merayakan acara khusus; semuanya hanya bisa dilakukan jika ada daging tikus.’”

Menjadi Hadiah

Saking disukainya, daging tikus bukan hanya menjadi menu.

“Hadiah berupa tikus, (yang sudah) mati tentu saja, juga penting untuk memastikan bahwa keluarga mempelai perempuan tetap senang meski anak perempuan mereka meninggalkan keluarga dan bergabung dengan keluarga suami,” katanya.

Di hari pertama festival Unying-Aran, atau Hari Aman Ro, anak-anak akan menerima hadiah dua tikus mati, sama halnya seperti anak-anak mendapat kado Natal.

Masih sedikit informasi tentang bagaimana atau kapan orang-orang Adi menyukai daging tikus, namun Meyer-Rochow yakin tradisi ini cukup panjang, dan bukan karena mereka kekurangan pilihan daging untuk makanan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved