Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dosen UIN Alauddin: Silakan Demo, Tapi Hormati HAM

Dr Fadli A Natsif MH menyampaikan hal itu saat tampil sebagai pembicara pada Dialog Publik "Reorientasi Gerakan Mahasiswa dan Buruh di Kota Makassar".

Penulis: Darul Amri Lobubun | Editor: Jumadi Mappanganro
Dialog Publik dan FGD bertema Reorientasi Gerakan Mahasiswa dan Buruh di Kota Makassar, Senin (21/12/2015). Bertempat di Warkop Cappo, Jl Sultan Alauddin, Kota Makassar. 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM – Dosen Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri (UI) Alauddin Dr Fadli A Natsif SH MH menilai model demonstrasi mahasiswa dan buruh di Makassar selama ini masih kurang kreatif. Masih didominasi model demo di jalan dengan bakar ban atau tutup jalan.

Padahal sangat banyak bentuk demonstrasi yang bisa dilakukan. Misalnya dengan teaterikal, mimbar bebas, mogok makan, menulis di media massa atau menulis media sosial atau menggelar diskusi juga model lain penyaluran aspirasi yang bisa dilakukan.

Fadli menyampaikan hal itu saat tampil sebagai pembicara pada Dialog Publik dan FGD bertema Reorientasi Gerakan Mahasiswa dan Buruh di Kota Makassar, Senin (21/12/2015). Bertempat di Warkop Cappo, Jl Sultan Alauddin, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Diskusi ini digelar digelar Independent Law Study (ILS) bekerja sama Galesong Institute. Dihadiri sekitar 60-a mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi dan organisasi ekstra kampus serta sejumlah buruh perwakilan organisasi buruh di Makassar.

“Kalau demo di jalanan dengan tutup jalan dan bakar ban, itu melanggar HAM (hak asasi manusia) banyak pengguna jalan. Silakan demo, tapi tetap hormati HAM orang lain,” tegas Fadli yang juga tercatat sebagai dosen di Universitas Bosowa ini.

Fadli mendorong mahasiswa dan buruh membuat formulasi gerakan yang lebih elegan, bertanggungjawab sekaligus bisa menarik simpatik masyarakat sekaligus punya legitimated.

Jangan sampai demo yang dilakukan sampai merusak fasilitas publik yang dibiayai dari uang rakyat. Terlebih jangan sampai aksi-aksi mahasiswa dan buruh berujung bentrok dengan masyarakat.

“Jadi sekali lagi, silakan demo. Tapi mesti kita tetap menjaga ketertiban umum. Ini memang normatif. Tapi suka tidak suka, tetap harus kita taati pula. Jangan kita tuntut penegakan hukum, tapi cara kita melanggar hukum. Padahal keinginan kita, tujuan atau aspirasi kita sampai kepada sasaran,” pesan Fadli.

Selain Fadli, diskusi tersebut juga menghadirkan mantan Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulsel Anshar Manrulu serta Ketua Baddko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulselbar Pahmuddik Cholik sebagai narasumber.

Acara yang berlangsung sekira tiga jam ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang dipandu Jumadi Mappanganro. Ditutup dengan pembacaan deklarasi dan pernyataan sikap mahasiswa dan buruh Makassar yang intinya menolak aksi anarkis.

“Diskusi ini kita lakukan merespon banyaknya tudingan yang mencap mahasiswa dan buruh di Makassar selalu demo anarkis. Makanya kita mau pada akhir tahun ini ada semacam perenungan tentang gerakan mahasiswa dan buruh selama ini,” papar Febri Ramadhan, Ketua ILS, usai acara. (*/tribun-timur.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved