Politik dan Otak Sosial
Demokrasi sudah sangat identik dengan uang, kehidupan politik sudah sangat menyatu dengan birahi kekuasaan.
(Sejauh ini, bangsa telah dipertaruhkan masa depannya pada dua kata, yaitu uang dan kekuasaan)
Sejak tumbangnya rezim Orba, perkembangan demokrasi dan kehidupan politik di tanah air sangat dinamis. Dewasa ini bahkan nyata sekali bahwa eforia demokrasi telah sangat menyatu dengan birahi kekuasaan. Meraih suara terbanyak, apapun caranya, telah menjadi patokan umum untuk membenarkan keberkuasaan. Berdemokrasi dalam kehidupan politik, mulai dari skala nasional sampai pada skala desa atau akar rumput, kembali bersifat elitis. Menjadi domain kelompok masyarakat tertentu, berada jauh di luar kepentingan masyarakat akar rumput. Nyaris tidak berbeda dengan keadaan perpolitikan di era rezim Orba. Masyarakat luas tidak lebih dari obyek demokrasi, bukan pemilik demokrasi yang diidealkan.
Bila di era rezim Orba dianggap aspirasi masyarakat tidak mampu terkanalisasi melalui kehidupan politik, dewasa ini aspirasi juga tetap diperatas-namakan oleh pihak-pihak yang mampu meraup suara terbanyak. Bedanya hanya terletak pada jumlah partai politik yang semakin banyak jumlahnya. Jadi hanya berbeda dalam wujud struktur kehidupan politik, yang bila sebelumnya dianggap amat lancip, maka dewasa ini lebih lebar strukturnya. Tetapi tetap saja aspirasi masyarakat belum mampu terkanalisasi sebagaimana sepatutnya dalam berdemokrasi.
Karena itu, kematangan berdemokrasi selalu dipertanyakan. Apalagi partisipasi dalam proses berdemokrasi tetap bermakna artifisial. Raupan suara lebih bernilai moneter belaka. Bila dalam rezim Orba terjadi penggiringan suara pada kekuatan politik yang nyaris tanpa pilihan, maka dewasa ini yang terjadi adalah pembelian suara secara lebih luas yaitu oleh kekuatan politik dan figur yang berbirahi kekuasaan. Jadilah, bila sebelumnya demokrasi dianggap mahal nilai bayaran otak dan batinnya, dewasa ini demokrasi lebih telanjang mahalnya bayaran nilai moneternya.
Demokrasi sebagai jembatan menuju kehidupan politik yang bermartabat, diakui atau tidak, semakin jauh dari harapan. Demokrasi dan kehidupan politik dewasa ini lebih merupakan permainan kekuasaan belaka. Celakanya, karena itu patut disadari bahwa sejauh ini bangsa ini telah dipertaruhkan masa depannya, hanya pada dua kata yaitu uang dan kekuasaan. Kedua kata inilah yang menuntun demokrasi dan kehidupan politik yang sementara dijalani oleh bangsa ini. Demokrasi yang berkembang pesat dewasa ini untuk menemukan dan membentuk sistemnya menjadi kabur dan tanpa arah yang jelas. Kehidupan politik semakin tidak memiliki tatanan untuk bisa mengukuhkan kehidupan kebangsaan yang bermartabat.
Otak Sosial
Tetapi mengapa realitas seperti ini yang terjadi? Bila menyimak sejarah bangsa ini, ternyata para pelaku pergerakan di zaman pra kemerdekaan mampu secara baik mengembangkan pergaulan otak mereka, sehingga mampu secara sosial menyamakan pemikiran tentang pentingnya kemerdekaan bangsa menjadi sebuah pergerakan yang meluas di nusantara. Dukungan dan derap langkah yang sama mewujud. Tetapi dari sejarah pula dapat disimak lebih lanjut bahwa otak yang berkehendak untuk merdeka dan terbebas dari penjajahan, tidak berhenti sampai dititik kemerdekaan. Pergaulan otak terus berlanjut tentang bagaimana mengisi kemerdekaan bangsa ini, di saat itulah otak-otak politik banyak mewarnai, yang ditandai oleh pergantian kabinet bahkan konstitusi negara. Pergaulan otak yang terjadi berlangsung sangat lama, nyaris tanpa kesepahaman yang utuh, bahkan akhirnya mengundang kediktatoran.
Di episode pergaulan otak selanjutnya, pemikiran politik dipandang telah sangat melelahkan kehidupan berbangsa. Ada hal lain yang patut dipikirkan dan mencuat pergaulan otak para elit bangsa, apalagi setelah kenyataan bahwa kehidupan ekonomi bangsa secara nyata telah ditelantarkan. Dan justru di era arus utama berpikir pembangunan ekonomi sedang merajai dunia. Otak semakin memperluas pergaulannya, semakin terbuka horisonnya menjangkau pergaulan internasional. Apalagi pemikiran yang berkembang termotivasi oleh kekayaan dan dukungan sumberdaya alam yang melimpah saat itu. Otak sosial bangsa ini segera berfungsi bahwa bisa mencapai kesejahteraan ekonomi yang lebih terukur. Dukungan sosial dengan segera meluas, rezim Orla ditumbangkan dan digantikan oleh rezim Orba.
Episode pergaulan otak berlanjut, ukuran-ukuran ekonomi ternyata dianggap bukan segala-galanya untuk bangsa ini. Otak itu sendiri butuh kebebasan untuk bisa berekspresi, dan memiliki nilai batiniah yang sangat patut dihargai. Aspirasi butuh dikanalisasi. Namun sayangnya karena pergaulan otak, mungkin sesuai dengan penyimakan sejarah, terlalu disederhanakan. Hanya mengerucut pada satu kapasitas, yaitu mengganti atau menumbangkan rezim. Sebagaimana upaya mengusir penjajah dan menghilangkan kedikatoraan, sehingga rezim Orba perlu diganti dan ditumbangkan karena aspirasi tidak mampu terkanalisasi. Dengan demikian, hanya kanalisasi menjadi tema tunggal dalam otak-otak sosial yang berkembang, sampai detik ini. Kanalisasi seperti dipandang menjadi segala-galanya, betapa pun mahalnya kanal itulah yang penting tercipta. Tidak banyak menjadi materi pergaulan otak, tentang apa yang patut dikanalisasi. Seperti itulah pencerminan demokrasi dan kehidupan politik dewasa ini. Bukan substansinya yang penting, melainkan lebih diutamakan infrastrukturnya.
Kecerdasan Sosial
Demokrasi dan kehidupan politik yang berproses selama hampir dua dekade terakhir ini, telah menimbulkan pertanyaan keberadaan kecerdasan sosial yang hidup dan berkembang di Tanah Air. Makna pertanyaannya adalah otak-otak sosial apa sebenarnya yang aktif bergaul di Tanah Air saat ini. Bila ada kebenaran bahwa yang berfungsi adalah otak-otak sosial hanya didominasi oleh uang dan kekuasan, maka kecerdasan sosial vampire yang mewarnai kehidupan bangsa ini, yaitu kecerdasan yang tidak pernah terpenuhi dan berkembang terus rasa hausnya untuk menghisap.
Pernyataan di atas memang sangat naïf, tetapi bagaimana menyangkali realitas keberadaannya. Demokrasi sudah sangat identik dengan uang, kehidupan politik sudah sangat menyatu dengan birahi kekuasaan. Yang pasti, dengan begitu kecerdasan sosial yang berkembang saat ini adalah kecerdasan yang terbonsai. Kemanfaatannya hanya bagi para penggemarnya dan tidak lebih dari sekedar pajangan, meskipun ada yang menilai tinggi harganya.
Karena itu, pertanyaan lanjutnya, bisakah ada asa untuk hadirnya otak-otak sosial lain yang mampu mengembangkan pergaulan mereka ? Pelajaran apa yang bisa disimak dari perjalanan sejarah bangsa ini ? Yang pasti, kecerdasan vampire harus dihapus dari sejarah bangsa ini, karena hanya menjadi kecerdasan sosial yang mencelakakan bangsa.Sebagaimana sejarah penghapusan penjajahan, kediktatoran, dan tirani kekuasaan. Otak-otak sosial harus berfungsi bahwa uang dan kekuasaan adalah bukan segala-galanya. Mari memulai, membangun kecerdasan sosial yang lain.(*)
Oleh:
AM Sallatu
Pengamat Sosial Pemerintahan/Koordinator Jaringan Peneliti Kawasn Timur Indonesia (JiKTI)