Gosip untuk Ukhuwah
Daya tarik gosip yang begitu besar, memiliki energi kuat, tidak hanya dimonopoli kaum perempuan.
Perempuan dianggap bermulut dua karena cerewet dan senang bergosip, apalagi kaum ibu rumah tangga. Jika mereka ngerumpi dan ngumpul sambil membeli sayur atau ikan di pagandeng, tanpa saling memanggil tetangga sebelah suasana tiba-tiba menjadi ramai seperti pasar. Anggapan itu boleh jadi benar tetapi tidak tepat karena laki-laki pun terutama bapak-bapak justru pagosip yang lebih hebat ketimbang perempuan.
Agama mengkonotasikan gosip sebagai ghibah yang pelakunya disebut penggunjing, yakni menceritakan aib (kekurangan) seseorang yang tidak hadir. QS. al-Hujurat: 12, menegaskan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan sebagian kamu menggunjing, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya…
Dengan demikian gosip termasuk dosa besar, namun kenyataannya gosip telah menjadi konsumsi masyarakat secara umum, bahkan disiarkan secara luas beberapa televisi secara rutin yang dikemas sebagai acara infotainment seperti cek and ricek, kroscek, go show, kiss, kabar-kabari dan semisalnya. Inti acara infotainment ini adalah berita gosip yang menarik interes banyak pemirsa karena gosip tersebut semakin digosok semakin mengundang peminat, bagaikan batu cincin semakin digosok semakin mengkilap dan semakin disukai banyak orang.
Daya tarik gosip yang begitu besar, memiliki energi kuat, tidak hanya dimonopoli kaum perempuan. Tetapi laki-laki dengan nalurinya yang suka ngobrol dan bincang-bincang lepas menyeretnya untuk bergosip dengan berbagai gaya dan tema.
Gaya kaum ibu begosip biasanya sambil menggendong anak bayi dan membersihkan kukunya. Sedangkan bapak-bapak lebih doyan bergosip sambil memainkan handphone (HP) dan menekan jari-jemarinya. Dalam keadaan demikian, perempuan dalam bergosip lebih senang dalam posisi berdiri. Sedangkan laki-laki lebih menyukai duduk.
Perempuan jika bergosip biasanya fokus pada satu tema sampai tuntas. Sedangkan laki-laki bermacam-macam tema tapi tidak tuntas. Jika temanya berkenaan dengan keluarga atau rumah tangga, maka perempuan lebih bersaing mengangkat status suaminya. Sedangkan laki-laki lebih senang membicarakan pengalamannya dan keberhasilannya, lebih senang membanggakan diri walaupun dengan gaya merendah mengingat egonya yang lebih tinggi daripada perempuan. Intinya, laki-laki lebih suka menceritakan pencapaian yang telah diraihnya, mulai dari karier hingga pernah menjalin kasih dengan wanita berparas cantik.
Gosip di kalangan perempuan biasanya berujung dengan pertengkaran, sedangkan laki-laki berujung dengan keakraban, memperbanyak teman, dan relasi, sehingga tercipta kedekatan diri satu sama lain. Lain lagi dengan perempuan, mereka mengobrol bersama sejenisnya yang dilakukan dengan memisahkan diri dan membentuk koloni tersendiri.
Persahabatan laki-laki lebih dicirikan dengan terlibat dalam kegiatan kelompok, sehingga gosip bisa dipakai untuk meningkatkan individu dalam kebersamaan. Hanya saja laki-laki sedikit berbohong soal gaji tinggi, jabatan dan prestasinya namun tidak menjadi masalah di antara mereka. Beda dengan perempuan, lebih suka membahas pribadi orang lain lebih detail dan mengerucut, sehingga sesama jenisnya seringkali terpengaruh dengan gosip yang berujung dengan menggunjingkan orang lain secara bersama-sama. Akhirnya itu bukan hal yang fair bagi orang lain yang digosipkan tanpa ada kesempatan untuk mengklarifikasi. Dengan begitu, gosip seorang perempuan biasanya membuat keadaan semakin memanas, apalagi karena lebih cenderung berputar-putar dan berujung pada gosip yang saling menjatuhkan. Mungkin ini juga alasan mengapa agama melarang gosip bagi para perempuan.
Sedangkan untuk kalangan laki-laki, gosip justru semakin merekatkan hubungan pertemanan. Kenyataannya gosip di kalangan mereka dapat meningkatkan kekerabatan karena digunakan sebagai ajang untuk mengetahui pencapaian satu sama lain sehingga mereka menjadi termotivasi untuk lebih maju dari lainnya, dari sini juga mereka menjadi kecanduan gosip untuk menambah pengetahuan dengan cara saling berbagi pengalaman.
Kekerabatan antara laki-laki melalui gosip seperti yang disebutkan tadi, membuatnya selalu jalan bersama dan beriringan, sampai-sampai mengatur jadwal untuk ketemu di warkop, biasanya masing-masing mereka saling memanggil teman sehinga kenalan bertambah dan kekerabatan semakin terbina tanpa mengenal agama, ras, suku, dan bangsa. Hasilnya, memperkuat konseptual kekerabatan yang aplikasinya dalam bentuk ukhuwah keagamaan, ukhuwah ras, kebangsaan, dan ukhuwah insaniah.
Ukhuwah diartikan persaudaraan yang terjalin melalui kekerabatan. Ukhuwah keagamaan merujuk QS. al-Hujurat/49: 10, bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara. Ukhuwah ras dan kebangsaan merujuk QS. Hud/7: 65 bahwa kekerabatan bisa dijalin dengan persaudaraan atas ras dan suku walaupun tidak seagama. Ukhuwah insaniah merujuk QS. al-Hujurat/49: 11, bahwa kekerabatan sesama umat manusia secara universal dengan doktrin bahwa manusia di dunia ini tanpa mengenal latarbelakang kebangsaanya adalah bersaudara sehingga perlu saling kenal mengenal di antara mereka dan menjalin keakraban dengan cara menghindari prasangsa buruk antara sesama manusia. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.
Oleh:
Mahmud Suyuti
Mubalig DPP IMMIM